Setelah kurang lebih 5 tahun menunggu kelanjutan The LEGO Movie, akhirnya sekuel dari film tersebut muncul di tahun 2019 ini. The LEGO Movie 2 tentunya masih bercerita tentang mainan LEGO bernama Emmet Brickowski (Chris Pratt), Lucy (Elizabeth Banks), Batman (Will Arnett) dan beberapa sahabatnya. Film kedua ini menceritakan kelanjutan dari ending film pertama di mana dunia LEGO Emmet didatangi oleh LEGO Duplo yang colorful dan kekanak-kanakan.
‘Alien’ bangsa LEGO Duplo yang berasal dari sebuah planet bernama Systar System ini terus kembali datang dan meneror meskipun sudah diusir berkali-kali. Hal ini menyebabkan dunia LEGO tidak bisa membangun bangunan-bangunan berkilau karena akan menarik perhatian bangsa LEGO Duplo yang kemudian akan kembali menghancurkan bangunan tersebut. Maka bangsa LEGO membangun bangunan dan kendaraan-kendaraan post-apocalyptic yang terlihat seteampunk – seperti yang terdapat dalam film Mortal Engines atau Mad Max: Fury Road – dan nama Bricksburg berubah nama menjadi Apocalypseburg.
Tanpa memberikan bocoran cerita, ada kejutan kecil yang lucu dan menarik di balik serangan bertubi-tubi alien LEGO Duplo ke Apocalypseburg. Petunjuknya ada pada desain dua bangsa LEGO tersebut.
Dunia LEGO Apocalypseburg tempat tokoh utama kita Emmet dan Lucy berada terkesan sangat maskulin dan tangguh. Sementara itu Systar System tempat alien LEGO Duplo terkesan sangat girly dengan desain semesta yang warna-warni didominasi warna pink yang blink-blink, music pop yang sering dinyanyikan, dan tentu saja adegan pernikahan yang hampir selalu terjadi ketika anak perempuan bermain. Apa yang membuat dua dunia LEGO yang berbeda ini selalu bertubrukan?
Film The LEGO Movie 2 memiliki visual yang tentunya sangat menarik, terutama detail tekstur LEGO yang dapat dilihat ketika adegan-adegan dengan close up shot. Kemenarikan visual pada film ini juga terlihat pada kontras tone warna yang diterapkan pada dua dunia LEGO yang berbeda ini; tone yang lebih warm dan dominasi warna gelap pada Apocalypseburg, dan tone yang lebih cold dan juga penuh warna pada Systar System.
Film kedua ini juga masih dipenuhi lelucon-lelucon “aneh” di sana-sini, terutama lelucon seputar film-film Hollywood seperti DC universe, Marvel universe, Twilight, dan lain lain. Tentunya lelucon-lelucon ini akan sangat mudah terlewatkan jika tidak benar-benar memperhatikan dialog para tokoh di film ini.
Lelucon juga dapat ditemukan pada lirik lagu-lagu pop yang dinyanyikan, terutama pada lagu milik Queen Watevra Wa’Nabi dan juga lagu pada credit title yang tanpa sadar akan membuat penonton tahan menyaksikan setidaknya setengah bagian dari credit title.
Namun, tanpa mengesampingkan kemenarikan cerita dan juga efek visual pada film The LEGO Movie 2, terdapat satu hal yang sangat mengganggu – setidaknya buat saya. Yaitu adanya hal yang tidak logis yang terjadi di LEGO universe ini. Tunggu dulu, sebelum kamu menyerang saya dengan argumen “namanya juga film animasi fantasi, mana ada yang logis,” perlu diketahui dan disadari bersama bahwa film fantasi dan animasi pun sesungguhnya memiliki logikanya sendiri yang standarnya diatur pada film itu.
Contohnya logika pada film Toys Story. Logika yang digunakan dan menjadi premis ceritanya adalah “apa jadinya jika mainan ternyata hidup ketika manusia tidak ada disekitarnya?” Jadi, logis jika kita melihat mainan-mainan bergerak dengan sendirinya pada film Toys Story. Jika ada mainan yang tidak bisa hidup ketika tidak ada manusia di sekitanya, maka ini bisa disebut “tidak logis” dalam film Toys Story.
Kembali ke film The LEGO Movie 2, hal tidak logis yang saya maksudkan adalah ada mainan LEGO yang ternyata bisa bergerak sendiri tanpa digerakkan oleh manusia asli. Tentu saja hal ini sudah di luar logika yang telah “diatur” pada film pertama.
Logika animasi yang dipakai pada film The LEGO Movie adalah ‘mainan LEGO ternyata hanyalah mainan yang tidak bisa bergerak namun hidup melalui imajinasi si pemainnya,’ maka jika ada tokoh yang tiba-tiba bernyawa dan benar-benar hidup seperti mainan di Toys Story akan membuatnya menjadi tidak logis.
Jika ini terjadi karena ketidakmatangan konsep, maka hal ini amat sangat disayangkan dari perusahaan sebesar Warner Animation Group. Jika hal ini memang disengaja secara konsep, maka agaknya konsep tersebut terjadi sangat tiba-tiba tanpa ada petunjuk yang disebar di sepanjang film sehingga membuatnya menjadi tidak logis.
Terlepas dari hal itu, jika dilihat secara keseluruhan, The LEGO Movie 2 memiliki pesan moral yang bagus untuk diajarkan pada anak-anak, yaitu ‘pentingnya saudara kandung untuk bermain bersama agar terjadi ikatan persaudaraan yang kuat.’ Juga pesan yang tersirat menyatakan bahwa ‘menjadi laki-laki yang tidak tangguh bukanlah hal yang memalukan.’ Pesan moral tersebut menjadikan film ini sangat cocok untuk ditonton bersama keluarga.
Jika dilihat sebagai alat marketing dari mainan LEGO itu sendiri, saya rasa film The LEGO Movie 2 – seperti film pertamanya – akan sukses membuat anak-anak kesengsem ingin memiliki set LEGO secara massive agar dapat membentuk kota impian mereka sendiri.
Film The LEGO Movie 2 akan tayang perdana di Indonesia pada tanggal 8 Februari, sama dengan tanggal tayang perdana di Amerika Serikat.
Rating: 3/5
Genre: Animation, Action, Adventure
Sutradara: Mike Mitchell
Penulis: Phil Lord, Christopher Miller
Bintang: Chris Pratt, Elizabeth Banks, Will Arnett