Review The Addams Family (2019): Nama Besar yang Sulit Terulang Kembali

Keluarga yang aneh tak lagi menemukan jati dirinya

foto depan The Addams Family

Keluarga aneh yang terdiri dari kumpulan monster ini menjadi budaya populer di Amerika era 60-an hingga adaptasi filmnya pada 1990-an. Untuk adaptasi animasinya, film The Addams Family seperti tak bisa mengikuti ekspektasi dari nama besarnya; terlunta-lunta dari kisah satir seram dan misterius atau menghadirkan kisah yang ringan dan bisa dinikmati anak-anak.

Film The Addams Family memperlihatkan kembali saat dimana Morticia (Charlize Theron) dan Gomez Addams (Oscar Isaac) pada saat hari pernikahan mereka, mereka diusir dari kampungnya. Mereka menemukan sebuah rumah kuno dan akhirnya tinggal di sana. Lalu 13 tahun kemudian, keluarga mereka bertambah dengan kehadiran Wednesday (Chloe Grace Mortez) dan Pugsley (Finn Wolfhard).

gerbang depan rumah keluarga Addams family review indonesia
via Universal Pictures

Konflik pun mulai terlihat ketika makelar dan bintang reality show Margaux Needler (Allison Janney) ingin merenovasi rumah berhantu Addams karena rumah yang kuno menurunkan nilai property lingkungan tersebut. Pada saat yang sama, keluarga Addams menerima kerabat mereka dalam perayaan “Marzuka” Pugsley. Apa yang terjadi ketika penduduk lokal mulai menyadari ada keluarga Addams di lingkungan mereka?

Kisah lama Addams Family

Cerita memang tidak terlalu menonjol di antara komedi animasi anak-anak lainnya. Tetapi humornya dapat diakses oleh anak-anak dan orang dewasa hampir selama satu setengah jam durasi film ini. Cerita yang dekat dengan keseharian keluarga masa kini: dimana anak-anak sangat bergantung pada gadget serta orang-tua yang menargetkan apa yang harus dilakukan oleh anak-anaknya.

Morticia dan Gomez dalam film The Addams Family
via Universal Pictures

Wednesday berkembang menjadi seorang remaja yang mulai menemukan fase pemberontakan dan akhirnya bertemu dengan Parker (Elsie Fisher), putri dari Margaux Needler. Keduanya sadar terkurung oleh harapan orang tuan dan akhirnya berteman baik. Interaksi Wednesday dengan sang ibu Morticia cerdas dan penuh sarkasme, memberikan alur komedi yang lebih menghibur.

Sebagai monster, keluarga Addams menyukai hal-hal yang tak biasa. Rumah mereka dihiasi jaring laba-laba dan debu. Hiburan favorit mereka termasuk saling menyiksa mengunakan alat penyiksaan abad pertengahan. Mereka menyukai semua hal yang buruk dan nantinya akan menjadi bagian dari permainan kata yang sudah sering didengar.

Wedesday dan Morticia dalam film The Addams Family
via Universal Pictures

Permainan kata menjadi bagian penting dalam jokes dan jati diri keluarga ini. Anak-anak akan menikmati dunia yang terbalik – dimana membersihkan rumah berarti membuatnya menjadi berdebu atau ketika menyambut hujan badai sebagai “hari yang indah”. Hanya saja jokes tersebut menjadi membosankan dari pertengahan hingga akhir cerita.

Pesan keluarga di era modern

Teknologi menjadi bagian penting dalam iterasi kali ini. Menggembarkan bagaimana smartphone dan internet menjelma menjadi kebutuhan primer, seperti Parker yang menggerutu karena tidak bisa memposting makan siangnya. Ada pula gambar obor pada smartphone, merepresentasikan bagaimana teknologi dan internet sebagai alat penghimpun massa di era modern.

ayah dan ibu dalam film The Addams Family
via Universal Pictures

Adaptasi kali ini ditujukan khusus sebagai film anak-anak, tetapi juga mengkritik masalah perkembangan anak-anak dan bagaimana menjadi diri sendiri. Dalam satu adegan, anak-anak di kota tersebut bernyanyi, “Kenapa menjadi dirimu sendiri ketika kamu bisa seperti orang lain?”

Seperti kebanyakan film anak-anak lainnya, The Addams Family menunjukkan pelajaran hidup yang berharga, yaitu tentang pentingnya mengenali dan menghargai sisi kemanusiaan seseorang, terlepas dari perbedaan yang ada. Film ini menempatkan cerita di abad ke-21, menggambarkan budaya ‘witch hunt’ sebagai tetangga yang berisik dan paranoid di dunia maya.

nenek dan Pugsley dalam film The Addams Family
via Universal Pictures

Terlebih lagi, pesan moral dari film ini adalah bagaimana mengerti tentang diri sendiri dan keluarga serta pembelajaran tentang toleransi. Sayangnya, pesan yang diberikan hanya mendapatkan tempat sedikit pada adegan akhir, dan meninggalkan resolusi yang berakhir dengan cepat. Berbanding terbalik dengan plot yang sudah dibangun sejak pertengahan cerita.

Tenggelam pada ekspektasi dan popularitas The Addams Family

The Addams Family telah menjadi bagian dari budaya Amerika sejak kartun one-panel muncul di The New Yorker pada 1938. Sejarah adaptasinya pun tercipta dari serial TV tahun 60-an, dua film live-action di tahun 90-an, adaptasi animasi yang tak terhitung jumlahnya, serta musikal Broadway. Inilah yang membuat sulit untuk menghadirkan cerita yang segar untuk animasinya kali ini.

keluarga Addams menyambut paman
via Universal Pictures

Ketika iterasi terbaru menggunakan kisah yang lebih modern, dengan kamera, smartphone, dan internet, cukup menghadirkan cerita berbeda dibandingkan adaptasi terdahulu. Namun hal tersebut sepertinya tak bisa dimaksimalkan dengan baik oleh Greg Tiernan dan Conrad Vernon serta penulis Matt Lieberman.

Seperti versi komiknya, versi animasi pun terasa seperti penggalan-penggalan cerita yang disatukan menjadi 87 menit durasi. Sayangnya pecahan tersebut malah membuat film ini terasa seperti kartun di Minggu pagi, tanpa plot yang padu. Bandingkan dengan Abominable (2019) yang menghadirkan cerita yang jelas.

Terlepas dari kritik sosial, film ini hampir tidak menghadirkan bahasa baru dalam waralaba Addams Family. Ada beberapa adegan aksi dan jokes yang renyah, namun tidak mengalihkan dari cerita yang masih kaku. Adapun keluarga besar Addams, mereka punya karakter unik tetapi terasa seperti penambahan yang tidak perlu untuk plot.

Pugsley dalam keluarga Addam
via Universal Pictures

Secara keseluruhan, film The Addams Family merupakan sebuah adaptasi animasi anyar, kadang-kadang cerdas, namun tidak memberikan dampak yang signifikan. Walaupun memberikan cerita modern dengan pesan moral yang penting untuk anak-anak, namun masih terlalu lemah sebagai ikon keluarga legendaris Amerika selama beberapa dekade.

Rating: 5/10

Genre: Animasi, Horor

Sutradara: Greg TiernanConrad Vernon

Penulis: Matt Lieberman

Pemeran: Oscar IsaacCharlize TheronChloë Grace Moretz, Finn Wolfhard

  • 5/10
    Film Biasa - 5/10
5/10

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.