Review Film Satria Dewa: Gatotkaca (2022): Hiruk Pikuk dan Berantakan

Satria Dewa: Gatotkaca garapan Hanung Bramantyo dan Satria Dewa Studio ditujukan sebagai pembuka semesta Satria Dewa yang diambil dari kisah Pandawa dan Kurawa. Sayangnya eksekusi yang lemah (bahkan cenderung buruk) semakin memperlihatkan kelemahan film superhero Indonesia yang abai terhadap pentingnya plot untuk memperkenalkan dunia baru.

Sinopsis Film Satria Dewa: Gatotkaca

Di kota Astina di mana pembunuhan oleh sosok tak dikenal merenggut banyak nyawa, Yuda (Rizki Nazar) harus hidup berdua bersama ibunya Arimbi (Sigi Wimala). Ia ditinggalkan oleh sang ayah Pandega (Cecep Arif Rahman) yang menghilang ketika ia masih kecil.

Rizki Nazar sebagai Yuda
via Satria Dewa Studio

Yuda memiliki sahabat bernama Erlangga (Jerome Kurnia) yang tewas akibat serangan kelompok Kurawa tersebut. Ia bersama Agni (Yasmin Napper) lalu bertekad untuk mencari siapa pembunuhnya.

Keduanya mendapatkan serangan dari kelompok Kurawa dan diselamatkan oleh Dananjaya (Omar Daniel) dan adiknya, Gege (Ali Fikry). Hingga Dananjaya mengungkapkan bahwa Yuda mempunyai darah Pandawa, khususnya Gatotkaca dan memiliki kekuatan untuk mengalahkan Kurawa.

Penuh kelemahan

Film tentang superhero Indonesia memang kadang hit, tapi tak jarang miss dalam berbagai hal. Mengingat kesuksesan Marvel dan (banyaknya film) DC di layar lebar, tak heran jika sineas Tanah Air juga tertarik untuk mengangkat tema superhero khas Indonesia.

Tapi sayangnya membuat film superhero bukan hanya mengandalkan karakter asli saja. Mulai dari penceritaan, aksi, dan tentu saja efek visual atau CGI turut mendukung keseluruhan film dari awal sampai dengan akhir. Dan film ini tertinggal jauh dari kesuksesan pendahulunya, Gundala (2019).

Rizki Nazar di Satria Dewa Gatotkaca
via Satria Dewa Studio

Jika saja Satria Dewa: Gatotkaca dirilis pada 2010, bisa jadi film ini akan melejit dan disandingkan dengan Iron Man (2008). Tapi setelah puluhan film hingga serial TV bertemakan superhero, sampai masa di mana kisah superhero terasa membosankan, kelemahan-kelemahan Satria Dewa terbuka lebar.

Untuk sebuah kisah awal superhero dari dunia yang baru, terlalu banyak informasi yang dipadatkan dalam film berdurasi dua jam ini. Narasinya dikisahkan terburu-buru, Belum lagi dengan banyaknya karakter yang membuat ceritanya tumpang tindih.

Sudah banyak film Indonesia yang terjegal oleh efek visual yang di bawah ekspektasi. Dan Gatotkaca juga tak ketinggalan. Ketika trailer mempertontonkan adegan dengan efek mulus nan meyakinkan, keseluruhan film terasa kurang memuaskan. Meski CGI patut diapresiasi dibandingkan film superhero Tanah Air lainnya.

CGI Satria Dewa
via Satria Dewa Studio

Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman sudah khatam masalah aksi. Tapi potongan adegan dan editing yang mengganggu menghilangkan keseruan menonton pertarungan dan baku hantam yang disajikan.

Hiruk pikuk dan berantakan

Keseluruhan hiruk pikuk dan plot yang berantakan bisa diibaratkan dengan karakter Srikandi, polisi yang diperankan oleh Aghniny Haque. Jika seorang polisi harus memposisikan dirinya untuk selalu tenang di hadapan media, Srikandi terlihat panik dan terburu-buru.

Inilah yang mungkin dirasakan ketika menonton film ini. Adegan demi adegan beralih dengan cepat; dari satu titik narasi ke narasi lainnya. Mencoba untuk membawa kesan menegangkan, tapi di satu sisi tampak berantakan.

film Satria Dewa
via Satria Dewa Studio

Ketidakberaturan plot juga sangat kentara ketika tiba-tiba karakter seperti Petruk, Gareng, dan Bagong yang diperankan oleh komika Gilang Bhaskara, Indra Jegel, dan Rigen sekonyong-konyong hadir di tengah adegan yang sedang intens-intensnya.

Kehadiran mereka mungkin dimasukkan untuk membawa tawa dan meredakan ketegangan cerita. Tapi sebelumnya tak diperkenalkan dan belum pernah muncul di plot, tiba-tiba membawa narasi yang jauh dari benang merah cerita, dan ujung-ujungnya berakhir dengan kehadiran sponsor. Patahan adegan yang terlalu memaksa.

Sering ditemukan di film Indonesia, product placement memang menjadi musuh terbesar Gatotkaca selain cerita. Kadang muncul sangat jelas dan menonjol di tengah-tengah film, merusak keseimbangan adegan dan membuyarkan fokus penonton pada cerita.

Sangat susah memperkenalkan satu semesta dengan banyaknya informasi baru yang harus diserap penonton; pertarungan antara Pandawa dan Kurawa dijelaskan dalam kebangkitan Awatama, digabungkan dengan pasukan khusus bikinan pemerintah hingga pandemi yang terjadi saat ini. Membuat penonton terengah-engah dalam film berdurasi 129 menit.

Yasmin Napper, Omar Daniel, Rizky Nazar
via Satria Dewa Studio

Jelas terlihat pada poster yang dirilis sebelumnya, ada banyak karakter yang siap menyapa. Bandingkan dengan Gundala yang fokus mengungkap tentang masa lalu dan latar belakang tokoh utama, lalu menyisipkan karakter baru dan dunia yang lebih luas di akhir cerita.

Satria Dewa Studios sepertinya terlalu bersemangat untuk memperkenalkan semesta superhero-nya. Mengesampingkan cerita yang padu dengan memasukkan semua karakter dan narasi yang sebaiknya ditunggu hingga film kedua.

Atau mungkin Satria Dewa lebih cocok dijadikan sebagai serial TV layaknya Tokusatsu. Dengan durasi yang lebih panjang, penonton bisa dipapah dalam mengenali karakter-karakter yang bermunculan, sekaligus memberikan nafas mendalami informasi-informasi baru dari dunia Satria Dewa.

Bukan kekuatan Hanung Bramantyo

Hanung Bramantyo memang sudah fasih dengan adegan romansa yang syahdu atau drama yang bikin gemes penonton. Nuansa ini terasa pada Satria Dewa. Dimana kisah romantis antara Agni dan Yuda terlihat lebih natural di dalam cerita.

Hanya saja sayangnya film ini bukannya film superhero yang dikemas dengan percintaan dua karakter utama layaknya Hancock (2008) yang dibintangi oleh Will Smith dan Charlize Theron. Tapi layaknya Iron Man bagi Marvel, Gatotkaca merupakan awal dari Semesta Satria Dewa.

Yayan Ruhian dalam Satria Dewa Gatotkaca
via Satria Dewa Studio

Bertarung di tengah ramainya pasar konten superhero memang tidak mudah. Apalagi ketika tema tersebut sudah terlampau sering digunakan. Butuh sesuatu yang nendang, baik dari segi konten atau karakter, maupun sekadar cerita yang padu untuk menarik perhatian penonton yang mungkin sudah jengah dengan film bertema kepahlawanan.

Dengan beragam masalah yang membuat penundaannya, Satria Dewa: Gatotkaca melempem dari segi penceritaan dan keseluruhan nuansa superhero di film ini. Hanung masih belum kokoh menghantarkan Gatotkaca melampaui kekuatan terbesarnya di ranah layar lebar Indonesia.

Genre: Aksi

Sutradara: Hanung Bramantyo

Penulis: Hanung Bramantyo, Rahabi Mandra

Pemeran: Rizky Nazar, Yasmin Napper, Omar Daniel,

Avatar photo
Padli Nurdin

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.

Articles: 889

One comment

  1. Setuju!
    Ini film emg chaotic, but the most disturbing part is probably is its ‘SU’ rating, which so contradicting with the first 10 minutes scene.
    Terrible fucking movie!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *