Review Film One Piece Stampede! (2019) – Penuh Aksi Terhimpit Durasi

one piece movie stampede memunculkan musuh baru yaitu Douglas Bullet

Sebelum kamu membaca review ini dan memutuskan untuk menonton film One Piece Stampede, ada baiknya kamu pastikan dulu bahwa kamu sudah menonton anime atau membaca manga-nya sampai selesai bagian Whole Cake Island. Lho kenapa?

Karena movie Stampede ini menampilkan kondisi pasca-Whole Cake Island. Kondisi yang dimaksudkan adalah status buronan, update jurus, karakter yang muncul, dan sebagainya. Dan kemungkinan hal-hal tersebut juga akan disebutkan di dalam review ini sehingga berpotensi menjadi spoiler buat kamu yang belum membaca atau menonton sampai pada arc itu.

Poster resmi movie One Piece Stampede

Baiklah, izinkan saya memberi sinopsis singkat tentang movie Stampede untuk mengawali review ini.

Strawhat Pirate mendapat surat undangan untuk menghadiri Pirate Expo atau festival bajak laut yang diadakan oleh Buena Festa, seorang penyelenggara festival yang handal. Di dalam surat undangan tersebut dinyatakan bahwa akan ada perlombaan antara bajak laut yang mana hadiahnya adalah salah satu harta karun penting peninggalan Gol D. Roger! Namun ada rumor bahwa mantan anggota Roger, Douglas Bullet, akan turut hadir dalam festival tersebut. Kira-kira apa tujuan mantan anggota raja bajak laut mengikuti Pirate Expo tersebut? Ada baiknya kamu cari tau sendiri dengan menonton movienya~

Berpotensi menjadi movie kolosal, tapi…

Movie One Piece yang satu ini cukup membuat senang para fans adegan pertarungan One Piece. Film ini berisi adegan pertarungan yang cukup banyak dan panjang. Hal itu terjadi karena pendeknya raising action di plot yang menyebabkan konflik utama datang lebih cepat. Sejak awal penonton akan disuguhkan dengan adegan pertarungan antar supernova, kemudian beralih ke kerjasama supernova melawan Bullet, hingga kerjasama lintas kelompok (angkatan laut, bajak laut, sichibukai, dan pasukan revolusi) untuk melawan Bullet (dari posternya udah kelihatan, kok).

Aliansi lintas kelompok! via cuongtruyen.com

Banyaknya pertarungan yang terjadi melibatkan banyak kelompok dan juga banyak karakter yang sudah kita kenal. Itu yang menjadikan film ini ramai dan berpotensi menjadi bersifat kolosal. Bagaimana tidak? Beragam karakter mulai dari yang sudah lama tidak nampak seperti Foxy Pirates hingga yang masih fresh seperti Morgan dan Sabo ada dalam film ini.

Namun sayangnya banyaknya karakter yang terlibat pada konflik utama tidak diimbangi dengan panjangnya durasi. Durasi film yang hanya 1 jam 40 menit menyebabkan peran masing-masing karakter besar tadi menjadi sangat minim dan nyaris menyentuh taraf ‘sekadar nongol’.

Bukan panggung untuk Strawhat Pirate

Kolaborasi lebih ditekankan pada lintas kelompok seperti yang sudah disebutkan, lintas bajak laut (antara supernova) dan lintas ‘instansi’ (bajak laut, angkatan laut, sichibukai, pasukan revolusi). Sebenarnya hal ini bisa menjadi baik dan buruk tergantung mau dilihat dari sisi mana.

Hal ini menjadi baik karena konsisten dengan cerita canon yang mulai sering melibatkan kolaborasi lintas kelompok untuk memenangkan peperangan. Karena musuh yang semakin kuat, tidak asyik rasanya jika Luffy selalu dapat mengalahkannya sendirian. Juga seperti yang Mihawk ucapkan pada peperangan di Marine HQ: “Luffy memiliki kekuatan mengerikan di lautan ini yaitu mampu menjadikan teman dan musuhnya bertarung bersamanya,” dan itulah yang terjadi di film One Piece Stampede ini.

Namun, menjadi buruk karena selain posisi karakter yang nyaris ‘sekadar nongol’, hal lain yang harus dikompromikan adalah berkurang-drastis-nya jatah aksi para anggota Topi Jerami. Berbeda dengan movie Strong World yang memberikan panggung sepenuhnya untuk kru Topi Jerami, movie Stampede ini saya lihat hanyalah panggung untuk Luffy dan Usopp, serta zoro dan sanji sebagai supporting actors, sisanya hanya sebagai kameo yang nyaris tidak memiliki peran penting terhadap jalannya cerita.

penampilan kru Topi Jerami di movie Stampede via animationmagazine.net

Maka, jika kamu adalah penonton yang mendambakan jurus-jurus kombinasi para kru Topi Jerami, kamu akan kecewa pada film ini karena kamu tidak akan mendapatkan hal tersebut. Namun jika kamu mau melihat kolaborasi epik lintas kelompok, mungkin kamu akan menyukai film ini.

Lalu apa yang membuat film ini tetap layak ditonton?

Sebagai fans One Piece, salah satu yang sangat berkesan dari film Stampede ini adalah diangkat kembalinya kedekatan emosi antara Luffy dan Usopp. Adegan tersebut membuat saya terbayang kembali dengan arc Water Seven di mana kedekatan Luffy dan Usopp diuji dan ditempa. Usopp dalam film Stampede ini juga mendapatkan peran yang samar namun sangat signifikan seolah mengokohkan perannya sebagai support system dalam sebuah pertarungan, dan hal itu ia nyatakan dalam sebuah ucapan, “menjadi support adalah peranku!”

Detail grafis pada film ini juga akan memanjakan mata kamu. Ada beberapa adegan di mana terdapat banyak sekali bajak laut berlarian, namun setiap bajak laut tersebut didesain sangat detail dan nyaris bergerak secara realistis. Kemudian adegan-adegan yang menunjukkan kekuatan sesungguhnya Douglas Bullet juga dibuat sangat kompleks dan detail. Secara umum, film ini memiliki animasi yang halus sehingga cukup memanjakan mata kamu yang sangat memperhatikan hal tersebut.

Hal terakhir yang menurut saya menjadikan film ini layak ditonton adalah epicnya pertarungan yang menggabungkan kekuatan bajak laut, angkatan laut, sichibukai, dan pasukan revolusi dalam melawan satu musuh bersama. Dan karena movie tidak memiliki hubungan cerita dengan canon, maka kerjasama tersebut sangat bisa dinikmati tanpa harus membebani pikiran dengan kemungkinan-kemungkinan kelanjutan ‘aliansi’ mereka.

Review Overview
  • 7/10
    Bagus dan recommended - 7/10
7/10

Summary

Banyaknya pertarungan yang terjadi melibatkan banyak karakter menjadikan film One Piece Stampede ini ramai dan berpotensi jadi kolosal. Sayangnya banyaknya karakter yang terlibat pada konflik utama tidak diimbangi dengan panjangnya durasi sehingga harus mengorbankan beberapa hal.

Sending
User Review
8.38/10 (4 votes)

Mahasiswa pascasarjana Kajian Wilayah Amerika di salah satu universitas di Indonesia. Mulai menyelami buku-buku sejak SMP diawali dari novel Lupus dan kemudian kuliah S1 di jurusan Sastra. Aktif meresensi buku melalui Instagram dan Youtube.