Pada tahun 2016, Hans Peter Molland menyutradarai film berbahasa Norwegia yang berjudul Kraftidioten atau disebut juga dengan In Order of Disappearance yang dibintangi oleh Stellan Skarsgard. Dan di tahun 2019 ini ia me-remake filmnya itu ke dalam versi bahasa Inggris dengan judul Cold Pursuit dan dibintangi oleh Liam Neeson.
Sebagai sebuah remake, film Cold Pursuit memiliki plot yang sama persis dan hampir tidak menawarkan hal yang baru, namun paling tidak film balas dendam ini mampu menghadirkan komedi gelap yang lebih sering tepat sasaran untuk mengundang tawa getir penonton daripada film orisinalnya .
Neil Coxman (Liam Neeson), iya, “Coxman,” adalah warga terbaik di kota Kehoe yang bersalju dan berprofesi sebagai pembersih salju di jalan raya sekaligus pemilik perusahaannya. Kehidupannya yang normal di kota kecil dikacaukan oleh kematian putranya yang overdosis. Tahu kalau putranya bukanlah seorang pecandu, Coxman pun memburu orang-orang yang bertanggung jawab di daerah yang selalu ditutupi salju itu. Maka jadilah “Cold Pursuit.”

Untuk sebuah film balas dendam, Cold Pursuit tidak selalu menitikberatkan cerita pada usaha pembalasan dendam penuh kesedihan, amarah dan pertarungan hidup dan mati tokoh utamanya. Film ini memiliki pendekatan yang berbeda yaitu membalut cerita balas dendam itu dengan komedi gelap. Hasilnya, film Cold Pursuit seperti menertawakan nyawa demi nyawa yang melayang akibat balas dendam.
Sebagai remake yang disutradarai oleh orang yang sama, tentu saja Cold Pursuit akan mempertahankan ciri khasnya, yaitu nama-nama karakter yang ajaib dan terkesan nyeleneh.
Tokoh utamanya bernama Neil Coxman yang “di-remake” dari Nils Dickman. Lalu ada beberapa anggota mafia pengedar narkoba yang memiliki julukan-julukan aneh. Mulai dari “Speedo” seperti merek kolor, “Limbo,” hingga “Santa” karena ia mirip Santa Claus.
Keunikan Cold Pursuit tidak sampai di situ saja. Setiap ada karakter yang tewas, film ini akan menampilkan julukan dan nama lengkap para mayat itu lengkap dengan simbol agama mereka masing-masing dengan latar hitam seperti sebuah penghormatan terakhir.

Karena mereka yang tewas cukup banyak, maka “penghormatan” ini kemudian menjadi sebuah repetisi yang terkesan lucu. Ini seperti menghormati sekaligus menertawakan kematian itu sendiri. Khas komedi gelap.
Seperti film komedi gelap a la Coen Brothers, film Cold Pursuit juga menghadirkan keputusan-keputusan dan kebetulan-kebetulan lucu yang muncul akibat chaos dari perbuatan si tokoh utama. Balas dendam Neil Coxman seperti batu yang jatuh di air tenang yang membuat permukaannya beriak. Ini menjadikan plot sulit ditebak tentunya jika kamu belum nonton film orisinalnya karena sesungguhnya plotnya sama persis.
Lalu, apa bedanya Cold Pursuit dari film orisinalnya? Hans Peter Molland tahu kelemahan filmnya dan memperbaikinya di Cold Pursuit dengan sukses membuat dark komedinya lebih sering tepat sasaran.
Lalu, jika In Order of Disappearance mengangkat isu tindak kejahatan di negara makmur seperti Norwegia, maka Cold Pursuit mengangkat isu ras Indian sebagai bangsa pribumi Amerika.

Jika ingin membandingkan kelebihan dan kekurangan dari dua film yang kurang lebih sama ini, penampilan cast Cold Pursuit masih kalah dari cast In Order of Disappearance, terutama Tom Bateman yang memerankan Viking, antagonis utama film ini.
Layaknya versi Norwegianya, Cold Pursuit juga menceritakan tentang kehilangan para ayah akan putra mereka. Baik itu yang karena dibunuh maupun karena perceraian dan Tom Bateman kurang mampu menarik simpati sebagai ayah yang terancam kehilangan putranya.
Satu lagi kekurangan film ini dibanding pendahulunya adalah keputusan menggunakan CGI di beberapa adegan yang membuat sinematografinya kalah jauh.
Tapi paling tidak Cold Pursuit sukses menghantarkan dark komedi dan adegan klimaksnya dengan lebih baik.
Film Cold Pursuit sedang tayang di bioskop di seluruh Indonesia.
Rating: 3.5/5
Sutradara: Hans Petter Moland
Penulis: Frank Baldwin
Bintang: Liam Neeson, Laura Dern, Micheál Richardson

