fbpx

Review film Ave Maryam (2019): Cinta Terlarang nan Tenang dan Menghanyutkan

Cinta terlarang terkadang menghanyutkan!

cover Ave Maryam dengan Maudy Kusnaedi

Film Ave Maryam yang sudah pernah dibawa ke berbagai festival film di seluruh dunia akhirnya akan ditayangkan regular di beberapa bioskop di Tanah Air. Sedikit berbeda dibandingkan dengan kisah cinta biasanya, pesan cinta kasih menjadi bagian paling penting dalam cerita yang ingin disampaikan suradara dan penulis Robby Ertanto.

Ave Maryam bukanlah film biasa yang sering dibuat di Indonesia. Jika film romantis Tanah Air sering mengangkat kisah cinta antar dua remaja atau dua sejoli yang terpisah jarak dan waktu, film ini mengungkapkan tema cinta kasih dari sudut pandang yang berbeda; perasaan cinta yang dilarang oleh agama. Hubungan pastor dengan biarawati yang kadang terjadi di dalam gereja dilantunkan dengan nada yang tenang di sepanjang cerita.

Sinopsis film Ave Maryam

review film Ave Maryam
via Grafent Production

Berlatar pada sebuah gereja di Semarang tahun 1998, Ave Maryam (Maudy Kusnaedi) 39 tahun, merupakan seorang biarawati yang bertugas untuk merawat biarawati tua. Cerita berkembang ketika Romo Martin (Joko Anwar) berkunjung dan memperkenalkan Romo Josef (Chicco Jerikho) yang akan mengajar musik di gereja tersebut.

Keduanya sama-sama terlena dalam sebuah hubungan terlarang antar pastor dan suster yang tentunya dilakukan secara diam-diam. Pergolakan batin pun terlihat ketika Suster Maryam harus memilih antara mengemban tugasnya sebagai suster atau mengakui perasaan cintanya kepada Romo Josef yang membuatnya nyaman.

Adegan dan gambar yang menenangkan

Ave Maryam menggunakan alur yang berjalan sangat pelan. Adegan demi adegan dibuat setenang mungkin. Bahkan beberapa adegan berlalu tanpa suara, baik musik maupun dialog. Hanya menegaskan gestur dan mimik wajah karakter, atau sekadar menampilkan transisi dalam gambar yang menawan.

ulasan film Ave Maryam
via Grafent Production

Pegambilan gambar dan adegan merupakan salah satu daya tarik film ini. Tidak hanya sudut pengambilannya saja yang menarik (seperti ketika keduanya makan bersama di sebuah café), komposisi warna yang menenangkan, serta set dan tone yang dihadirkan juga mencuri perhatian. Memberikan nuansa sendu di sepanjang cerita.

Pace yang lambat pun menjadi kekuatan namun juga keterbatasan film ini jika dibawakan untuk penonton umum. Membutuhkan konsentrasi lebih untuk bisa menikmati semua yang disajikan oleh film ini. Maka tak heran jika beberapa penonton yang terhanyut bisa terlelap menikmati alunan cerita dan musik yang dihadirkan.

Perjalanan cinta Ave Maryam yang berjalan pelan

Memang alur cerita yang berjalan dengan sangat pelan dan mendayu-dayu seringkali digunakan oleh film yang khusus dibawa untuk mengikuti festival di dalam maupun luar negeri.

Tetapi, jika dibandingkan dengan film berorientasi komersil yang memang dibuat untuk menyenangkan penontonnnya, menonton film Ave Maryam seperti berada dalam perjalanan jauh dengan mobil melewati sawah yang membentang dan hutan-hutan belantara; indah, menyenangkan, namun seringkali menidurkan.

Maudy Kusnaedi dan Chicco Jerikho dalam film ave maryam
via Grafent Production

Bagi penonton yang berharap menyaksikan kejutan di setiap adegan atau cerita dengan pace yang cepat, menonton Ave Maryam akan menjadi tantangan tersendiri. Adegan per adegan hingga transisinya dibuat setenang mungkin. Tak mengejutkan jika ada (atau banyak) penonton yang akan tertidur selama film ini ditayangkan.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Ave Maryam seperti lagu-lagu Danila Riyadi yang mendayu-dayu indah, tetapi dengan alur yang lambat. Pastikan untuk menonton film ini dengan pikiran yang tenang, mood yang bagus, dan siap mengikuti adegan demi adegan yang tentunya menguras tenaga. Bukan karena cerita yang rumit atau pesan yang njelimet, tetapi karena Ave Maryam memiliki hembusan cerita yang melelapkan.

review Ave Maryam
via Grafent Production

Meskipun begitu, film ini merupakan salah satu film yang sayang untuk dilewatkan. Pasalnya Ave Maryam hanyalah satu dari sekian banyak film Indonesia yang berani mengungkapkan cerita dan pesan cinta dengan tema yang berbeda.

Ave Maryam sudah pernah dibawa ke festival-festival besar di seluruh dunia dan mendapatkan sambutan yang luar biasa.

Selain pernah dibawa ke Hong Kong Asian Film Festival 2018, Hanoi International Film 2018, seleksi resmi The Cape Town International Film Market and Festival 2018, serta Jogja-Netpac Asia Film Festival ke-13, dan Netpac-Geber Awards, film ini juga sudah diputar pada Plaza Indonesia Film Festival 2019. Ave Maryam akan ditayangkan reguler mulai 11 April di bioskop-bioskop Tanah Air.

Rating: 3/5


Genre: Drama

Sutradara: Robby Ertanto

Penulis: Robby Ertanto

Bintang:Maudy KusnaediChicco Jerikho,Joko Anwar,Tutie Kirana,

Review Overview
  • Film yang cukup oke
3

Kesimpulan

Ave Maryam seperti lagu-lagu Danila Riyadi yang mendayu-dayu, indah, tetapi berjalan dengan alur yang lambat. Pastikan untuk menonton film ini dengan pikiran yang tenang dan siap mengikuti adegan demi adegan yang tentunya menguras tenaga. Bukan karena cerita yang rumit atau pesan yang ngjelimet, tetapi Ave Maryam memiliki hembusan cerita yang melelapkan.

Penggagas ide Mariviu.com. Seorang penulis yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.