Review Film Anna (2019): Thriller Ala Lucy yang Terkesan Hambar

Empat film mata-mata wanita dengan tema yang hampir sama? Bosan!

ulasan film anna 2019

Luc Besson dikenal sebagai sutradara dengan tema-tema spionase perempuan yang mendobrak sistem. Dulunya. Namun sayang ‘kejeniusan’ Luc seakan terhenti sebelum ia membuat film Anna (2019). Menggandeng aktris pendatang baru – yang juga berprofesi sebagai model – Sasha Luss yang pernah bekerjasama dalam Valerian & the City of Thousand Planet (2017), cerita yang hampir sama dengan film-film Luc sebelumnya serta performa Sasha yang kurang menggigit membuat thriller ini terasa hambar.

Anna menceritakan tentang mata-mata wanita asal Rusia pada Perang Dingin bernama Anna Poliatova (Sasha Luss). Dengan setting tahun 1990, ia tinggal bersama pacarnya yang suka mabuk-mabukkan. Hingga suatu ketika ia mendapatkan kesempatan menjadi pembunuh bayaran yang bekerja untuk KGB (organisasi mata-mata Rusia).

Sasha Luss dalam review film Anna
via Summit Entertainment

Wajahnya yang cantik membuat penyamarannya sebagai model semakin mulus dan sukses menutupi pekerjaannya sebagai mata-mata di Paris. Cerita berkembang setelah seorang agen CIA bernama Miller (Cillian Murphy) mengendus gelagat anehnya dalam menjalankan sebuah misi pembunuhan. Cerita Anna pun kemudian menyusuri kisah mata-mata wanita yang terjebak di antara dua negara.

Adegan aksi dan thriller berdarah

Bagi pengemar film bunuh-bunuhan dengan adegan pisau menancap ke kepala lawan dipastikan akan bersorak sorai menonton film Anna. Bukan hanya Anna mampu mengalahkan lawan-lawannya menggunakan kepintarannya, namun sang model juga mampu membunuh dengan berbagai cara yang tanpa ampun. Bisa dibilang ia seperti John Wick versi wanita muda.

Sasha Luss menggunakan mantel bulu
via Summit Entertainment

Beberapa adegan diambil sedemikian rupa untuk menekankan gaya bertarung Anna yang memanfaatkan semua benda di sekitarnya untuk membunuh lawan. Walaupun tidak banyak, namun adegan aksi yang akan kamu lihat menunjukkan kekuatan Anna sebagai seorang wanita; tidak hanya cantik, tetapi kuat, cerdas, dan mematikan.

Penuh dengan twist dan flashback

Besson sepertinya menggunakan flashback dalam caranya untuk menggiring penonton pada cerita yang dibuat ringan. Beberapa twist serta arah cerita bisa ditebak, tetapi adegan-adegan flashback ini menjadi cara Besson untuk membuat Anna terasa kurang membosankan.

Helen Mirren sebagai Olga
via Summit Entertainment

Penggunaan flashback juga membuat alur cerita cukup memusingkan dan membuat penonton berpikir lebih keras tentang cerita yang diberikan. Flashback juga digunakan untuk mengungkapkan berbagai twist serta menjelaskan motif/cerita dalam film. Cukup menarik. Tapi, dengan pola yang diulang terus menerus malah memunculkan sedikit rasa bosan. Cukup ironis.

Menjamurnya “wanita cantik sebagai pembunuh”

Cerita agen rahasia mata-mata wanita yang menunjukan bahwa “kecantikan saja tidak cukup” ada banyak. Baru saja setelah Luc Besson selesai syuting film Anna pada Desember 2017 silam, kurang dari tiga bulan kemudian Fox meluncurkan Red Sparrow, thriller Perang Dingin mengenai seorang ballerina Rusia (diperankan Jennifer Lawrence) yang menjadi mata-mata dan menggunakan kecantikan serta kepintarannya sebagai senjata.

Sasha Luss sebagai Anna
via Summit Entertainment

Agaknya kehadiran Red Sparrow menjadi kabar buruk untuk Luc. Dengan versi cerita yang lebih pintar dan lebih canggih, Anna terasa seperti menjadi pengulangan untuk film genre serupa. Bahkan setahun sebelumnya, aktris pemenang Oscar Charlize Theron juga sudah muncul dalam Atomic Blonde mengusung cerita berkonsep hampir sama.

Tak hanya itu, Luc sepertinya terlalu melekat dengan konsep pembunuh wanita. Mulai dari Lucy (2014), The Lady (2011), hingga The Messenger: The Story of Joan Arc (1999). Sutradara yang tahun lalu dilaporkan karena terlibat dalam kasus pelecehan seksual tersebut memang mendapatkan kesuksesannya setelah menggarap “Le Femme Nikita” (1990), yang bisa dibilang versi orisinil dari Anna. Dan Anna terasa hambar tanpa ada gebrakan baru yang diberikan Luc untuk menyegarkan cerita.

Lemahnya detail cerita

Luc Busson dikenal sebagai salah satu sutradara yang memperhatikan setiap detail dalam film yang disutradarainya. Namun sayangnya, hal tersebut terkesan hilang ketika ia memimpin Anna. Ada banyak teknologi yang belum ditemukan pada awal 90-an, dimana cerita berlatar, namun digunakan dalam film. Salah satunya ketika Anna diceritakan menggunakan sebuah laptop.

laptop Chandler dalam Friends season 2 episode 8
via Summit Entertainment

Jika ada yang pernah menonton serial Friends, laptop yang dibeli oleh Chandler pada episode 8 season 2 masih menggunakan desain yang kompak dan layar kecil. Episode yang ditayangkan pada 16 November 1995 tersebut menjelaskan bahwa laptop tersebut merupakan salah satu laptop paling mutakhir yang ada saat itu.

Dan satu lagi yang cukup menggelitik adalah bagaimana penggunaan flash disk di dalam film ini. Generasi 90-an pasti merasakan bagaimana susahnya memidahkan data dalam sebuah disket yang seringkali terkena virus dan tidak bisa dibuka lagi. Penggunaan flash disk saja dilaporkan baru digunakan pada pertengahan 2000-an.

Objektifikasi perempuan

Dalam sebagian besar filmnya, Luc menggunakan wanita sebagai pemeran utama dalam perlawanannya terhadap sistem partriarki, sebagaimana yang terlihat dalam Nikita dan Lucy. Namun masalahnya, kasus pelecehan seksual yang dialamatkan ada Luc memberikan perpektif baru tentang pandangan sang sutradara selama ini: benarkah wanita dalam film-film Luc Besson mendobrak simbol patriarki?

review film Anna dari shooting
via Summit Entertainment

Mengintip lebih jauh, Anna seringkali terlihat seperti film kelas dua yang menjadikan wanita sebagai objek. Dimana beberapa adegan menunjukan sang pemeran utama menggunakan kecantikannya sebagai umpan. Dengan analisis mendalam, Luc Besson tak ubahnya memunculkan objetifikasi perempuan, dibandingkan pemberdayaan. Tentu saja hal tersebut tergantung dari bagaimana cara pandang penonton melihat seksualitas sebagai kekuatan wanita.

Secara keseluruhan, Luc Besson tidak bisa menghadirkan narasi baru dalam cerita agen rahasia wanita yang memanfaatkan kecantikan dan kecerdasannya dalam dunia penuh laki-laki lewat film Anna. Bukan hanya mengulang, namun Anna seperti versi “copy + paste” dari karya fenomenal Luc sebelumnya, Nikita. Untuk penonton, Anna masih menyenangkan untuk disaksikan. Tetapi jika dikaji lebih dalam, film ini layaknya menonton film lama Luc Besson tapi versi tahun 2019.

Rating: 3/5

Genre: Thriller, Action

Sutradara: Luc Besson

Penulis: Luc Besson

Pemain: Sasha LussHelen MirrenLuke Evans, Cillian Murphy

Review
  • Review Film
3

Summary

Luc Besson tidak bisa menghadirkan narasi baru dalam cerita agen rahasia wanta yang memanfaatkan kecantikan dan kecerdasannya dalam dunia penuh laki-laki. Bukan hanya mengulang, namun Anna seperti versi “copy + paste” dari karya fenomenal Luc sebelumnya, Nikita. Untuk penonton, Anna masih menyenangkan untuk disaksikan. Tetapi jika dikaji lebih dalam, film ini layaknya menonton film lama Luc Besson versi 2019.

Sending
User Review
( votes)

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.