Review Film Asterix: The Secret of Magic Potion (2018)

Ringan, lucu, dan penuh nostalgia

cover Asterix: The Secret of the Magic Potion

Sama seperti The Smurf, Asterix dan Obelix merupakan cerita komik Prancis yang terkenal di seluruh dunia. Dan kali ini, film Asterix: The Secret of Magic Potion hadir membangkitkan kembali kenangan masa lalu. Gabungan komedi dan animasi yang mulus serta cerita yang mudah dicerna membuat film ini cocok untuk menikmati hari libur bersama keluarga.

Film ini memang bukan film baru. Di negara asalnya, film berjudul asli Astérix: Le Secret de la Potion Magique sudah lebih dulu ditayangkan di bioskop pada 5 Desember 2018. Disutradarai oleh Alexandre Astier dan Louis Clichy dibuat berdasarkan karakter buku komik Asterix karya Gosciny dan Uderzo.

Asterix dan Obelix dalam film Asterix: The Secret of Magic Potion

Dalam seri petualangan ini, Asterix dan Obelix mencari penyihir muda yang akan menjadi penerus Getafix, satu-satunya penyihir yang bisa membuat ramuan rahasia. Keadaan menjadi berbahaya ketika Julius Caesar mengetahui semua penduduk Galia mengikuti Asterix dan menyerbu desa Galia yang hanya dihuni oleh wanita dan anak-anak. Kehadiran penyihir jahat bernama Demonix yang ingin mengetahui resep ramuan rahasia tersebut juga menghalangi keinginan Getafix untuk mencari penerus.

Animasi anak-anak yang bisa dinikmati bersama

Memang, Asterix pada awalnya dibuat sebagai komik bagi anak-anak dan remaja. Tapi beberapa adaptasi film dan animasi dibuat lebih berat, seperti Asterix & Obelix (1999) serta Asterix & Obelix: Mission Cleopatra (2002). Dan kali ini, versi CGI dibuat kembali untuk menyasar penonton muda.

Meskipun cerita yang diberikan dibuat untuk anak-anak, namun film ini juga cukup segar untuk dinikmati oleh penonton dewasa. Apalagi bagi mereka yang pernah membaca komik berbahasa Indonesia atau Inggris, maupun menikmati berbagai animasi yang pernah diputar di bioskop maupun televisi.

review film Asterix dan Obelix
via M6 Studio

Komedi yang dihadirkan mampu menampung semua umur. Bukan hanya memperbanyak komedi slaptik yang disukai penonton muda, tetapi ada banyak adegan lucu yang mampu membuat kamu tersenyum bahkan terkekeh dari awal hingga akhir. Penempatan komedi juga muncul dengan tiba-tiba menambah keasyikan menikmati cerita.

Musik dan gambar yang memanjakan

Sebagai film kedua yang menggunakan stereoscopic 3D setelah Asterix: The Mansions of Gods (2014), animasi yang ditampilkan cukup mulus dan memanjakan mata. Gabungan animasi 2D dan 3D tersaji dengan apik meskipun film ini tidak dikembangkan oleh Pixar dan studio terkenal Hollywood lainnya. Visual yang dihadirkan menangkap kehangatan petualangan serta nuansa komik Asterix khas pedalaman Perancis.

review film asterix
via M6 Studio

Belum lagi musik yang mendayu-dayu mampu membawa penonton berpetualang dan membantu mempertegas nuansa pedesaan Eropa ke dalam cerita. Penempatan musik juga cukup bagus, dengan beberapa sound efek untuk menghindarkan penonton dari kebosanan.

Cerita yang (terlalu) mudah dicerna

Dikhususkan untuk anak-anak, film ini bisa dinikmati oleh semua umur. Tentu saja dengan cerita yang ramah dan mudah dimengerti. Belum lagi referensi budaya populer yang hadir, sebagian besar dari nama-nama karakter. Salah satunya karakter sekretaris Julius Caesar bernama Tomcrus.

penyihir jahat dalam film Asterix: The Secret of the Magic Potion
via M6 Studio

Kerjasama penulis dan sutradara Astier dibantu Louis Clichy yang kedua setelah animasi Asterix tahun 2014 lalu masih sama: memberikan cerita yang mudah dicerna, tapi tak cukup mengena. Jika dibandingkan adaptasi komik tahun 1971 yang lucu mengenai masalah urbanisasi dan kehidupan modern, Magic Portion dibuat lebih kartun, kid-friendly, tanpa cerita yang benar-benar dalam.

Awalnya, serial komik Asterix dibuat untuk menegaskan referensi sosial maupun politik, mengingat inti cerita adalah dimana bangsa Romawi menjajah wilayah lain. Tapi adaptasi kali ini menawarkan lebih banyak referensi pada budaya populer, terlebih Hollywood. Hasilnya adalah film dengan tokoh-tokoh yang menyenangkan, tapi hanya untuk hiburan.

Selain itu, alih bahasa dari bahasa Prancis ke Inggris seperti mengurangi kenikmatan menonton film ini. Aksen Amerika tidak pernah cocok jika disandingkan dengan penduduk desa Galia yang diceritakan dipenuhi oleh bangsa Kelt. Sebagian besar karena versi komik dan sebagian besar adaptasi film dibuat di Prancis.

Demonix dalam film Asterix: The Secret of the Magic Potion
via M6 Studio

Secara keseluruhan, film Asterix: The Secret of Magic Potion adalah satu film yang bisa dinikmati oleh semua umur. Dibandingkan film horror maupun film aksi yang penuh kekerasan, film ini cocok untuk ditonton bersama keluarga. Menonton film ini seperti kembali ke masa kanak-kanak. Penuh nostalgia bagi penggemar yang lebih tua dan lebih banyak tawa slaptik untuk mereka yang lebih muda.

Rating: 3/5

Genre: Animasi, Komedi

Sutradara: Alexandre AstierLouis Clichy

Penulis: René Goscinny

Pengisi Suara: Christian ClavierGuillaume BriatAlex Lutz

Review
  • Review Film
3

Summary

Secara keseluruhan, film Asterix: The Secret of Magic Potion adalah satu film yang bisa dinikmati oleh semua umur. Dibandingkan film horror maupun film aksi yang penuh kekerasan, film ini cocok untuk ditonton bersama keluarga. Menonton film ini seperti kembali ke masa kanak-kanak. Penuh nostalgia bagi penggemar yang lebih tua dan lebih banyak tawa slaptik untuk mereka yang lebih muda.

Sending
User Review
( votes)

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.