Perjalanan Maxine Caulfield dalam game Life Is Strange, produksi Dontnod Entertainment yang dipublikasikan oleh Square Enix, penuh dengan unsur-unsur yang menyentuh perasaan. Game dengan genre episodic interactive adventure ini hadir pada platform PC, PlayStation, dan Xbox pada tahun 2015 dan berhasil menghadirkan narasi mengharukan ala kisah sebuah novel. Walaupun pada awalnya dianggap remeh, game ini membuktikan bahwa tidak hanya studio besar yang bisa membuat game dengan story yang bagus.
Narasi Life Is Strange bertumpu pada perspektif karakter utama, Maxine Caulfield; seorang siswi Akademi Blackwell yang baru saja kembali ke kota Arcadia Bay dimana ia dibesarkan. Di awal cerita, Max hanya diperlihatkan sebagai seorang remaja normal dengan sekelibat pemikiran sepele dan suka mengekspresikan diri dengan selfie menggunakan kamera polaroid miliknya. Semua berubah disaat Max terlibat dalam perdebatan Nathan Prescott dan Chloe Price, dimana Max menyadari bahwa ia memiliki kekuatan untuk mengembalikan waktu !
Meskipun plot utama cerita ada pada kisah persahabatan Max dan teman lamanya, Chloe, Life Is Strange menyajikan sub-plot yang nantinya terkait dengan ending game; kehidupan sekolah akademi Blackwell yang penuh dengan murid bertalenta, kisah cinta Max dan Warren, kisah Chloe dan keluarganya, hingga kehidupan depresif Kate Marsh. Life Is Strange dengan lengkap menghadirkan lore atau cerita pendukung yang dapat membuat pemain merasa dekat dengan dunia dan para karakternya yang ada dalam game.
Sesuai dengan genre-nya, gameplay yang dimiliki game ini fokus kepada eksplorasi dan pembuatan keputusan yang nantinya dapat berdampak pada ending cerita yang akan diterima pemain. Namun dengan hadirnya fitur mengembalikan waktu, pemain masih diberi kesempatan untuk bereksperimen dengan respon-respon yang ada. Unsur time rewind yang hadir memang sering dijadikan eksploit bagi pemain yang tidak kunjung puas dengan pilihannya. Tapi di situlah letak pengalaman yang didapat; keraguan dan ketidakpastian yang dialami pemain akan efek yang selanjutnya terjadi dalam game menjadi salah satu elemen yang menarik pada judul ini.
Grafik yang dimiliki game ini terlihat sederhana dengan art-style yang nyaman dipandang. Menggunakan Unreal Engine 3 yang dimodifikasi sedemikian rupa, game ini dapat dimainkan di perangkat PC dengan spesifikasi pas-pasan. Animasi in-game terlihat agak kaku dan ekspresi wajah setiap NPC masih kurang dipoles. Walaupun demikian, game ini tidak menjadikan unsur-unsur teknis menjadi unsur yang penting; atmosfir, story, dan plot lah yang menjadi poin utama.
Life Is Strange sukses mendapatkan banyak nominasi penghargaan seperti Golden Joystick Award 2015, dan The Game Awards 2015. Judul ini juga berhasil mendapatkan rating overwhelmingly positive via Steam, dan rating 83% metascore/8.3 user score via Metacritic.
Bagi pemain yang tidak mempunyai PC, atau Console untuk memainkan game ini, jangan khawatir karena Life Is Strange versi mobile telah dirilis pada bulan ini. Anda dapat mendownloadnya di Play Store, maupun Apple store.