Ending The Platform: Penjelasan Versi mariviu

Baca sampai habis, ya

Ending The Platform adalah satu hal yang banyak diperdebatkan oleh penonton. Perdebatan muncul karena Galder Gaztelu-Urrutia selaku sutradara memang sengaja membuat akhir dari film ini sangat simbolis dan bersifat open ending. Saya tidak heran akan hal itu, memang keseluruhan film itu sendiri merupakan sebuah alegori yang tentu saja penuh dengan simbol-simbol.

Penjelasan ending film The Platform

Pada tulisan ini Mariviu ingin menafsirkan ending The Platform. Bukan melalui narasi analisis yang berat, namun melalui pemaparan pemaknaan simbol-simbol yang muncul di sepanjang film ini, diurutkan berdasarkan kemunculan di film. Sebagian besar simbol-simbol yang muncul dari awal hingga akhir dapat kita pakai sebagai petunjuk untuk mengartikan ending The Platform.

Namun sebelum itu, saya harus mengingatkan bahwa tulisan di bawah ini mengandung spoiler berat. Oleh karena itu, jika kamu belum menonton film The Platform dan keberatan dengan spoiler, ada baiknya kamu membaca tulisan ini setelah menonton filmnya dan membaca review bebas spoilernya terlebih dahulu.

makna lantai bertingkat film The Platform
Goreng menatap ke lantai penjara di bawahnya

Lantai Bertingkat

Jelas sekali wujud lantai penjara yang bertingkat ini adalah simbolisasi dari kelas sosial yang terjadi di tengah masyarakat saat ini. Jika kita bagi secara kasar, pembagiannya mungkin hanya 3: Kelas atas, Kelas mengengah, Kelas bawah. Namun pada kenyataannya, kelas sosial adalah sebuah spektrum dengan jumlah tingkatan yang tidak bisa dipastikan, sama seperti jumlah tingkat pada penjara di film ini.

Bukti bahwa sistem kelas sosial lebih bersifat spektrum alih-alih pembagian konkret adalah bahkan pada kelas sosial yang digolongkan sebagai ‘kelas atas’ saja masih terjadi persaingan dan keserakahan. Ini bisa kita lihat di film The Platform.

Nama

Setelah Goreng sadar di mana ia berada dan melihat teman satu sel nya, ia segera memperkenalkan diri. Namun, yang menarik adalah, ia menanyakan nama partner-nya tersebut dengan pertanyaan “siapa nama yang mereka berikan padamu?”, bukan “siapa namamu?”.

Hal ini menyimbolkan sifat otoritas pemerintah yang merenggut identitas pribadi dan budaya masyarakatnya dan memberinya identitas baru secara acak.

Saya katakan penamaan yang acak karena mayoritas nama yang terdapat pada film ini tidak sesuai dengan stereotip nama ras tokohnya. Bahkan kebanyakan adalah nama dari bahasa Indonesia/Melayu.

Distribusi Makanan

Pada film The Platform, makanan didistribusikan menggunakan panggung persegi dari atas ke bawah. Selalu satu arah yang sama, tidak pernah digilir berkala dan diganti dari bawah ke atas.

Hal ini menyimbolkan akses sumber daya (resource) yang selalu cenderung lebih dekat dengan kelas atas. Sistem distribusi yang tidak adil ini adalah penggambaran dari sistem distribution of wealth di dunia nyata yang kita hidupi saat ini yang juga memang tidak adil.

‘Obvio’

Kata ini diulang oleh Trimagasi sebanyak 26 kali di sepanjang film. Tidak ada makna khusus pada jumlah pengulangan, namun simbolnya justru adalah kata itu sendiri.

Trimagasi menggunakan kata ‘obvio’ (obviously) sebagai jawaban atas pertanyaan Goreng terkait sistem dalam penjara, yang sebenarnya jawabannya cukup jelas. Hal ini menyimbolkan betapa jelas adanya kesenjangan sosial di tengah masyarakat, namun bahkan masyarakat itu sendiri seringkali abai atau tidak menyadarinya.

makna Panna Cotta pada film The Platform
Kepala koki menemukan rambut pada hidangan Panna Cotta

Dapur Perfectionist

Film ini dibuka dengan sebuah scene yang memperlihatkan betapa kritisnya seorang kepala koki dalam mengawasi masakan yang dibuat oleh koki bawahannya. Di pertengahan film, adegan ini kembali muncul dengan lebih memperlihatkan lagi betapa perfectionist-nya kepala koki tersebut seolah dapur penjara itu adalah dapur hotel bintang 5. Pada adegan itu, kepala koki menemukan ada sehelai rambut pada hidangan Panna Cota yang akan disajikan untuk penghuni penjara vertikal.

Ironi jelas dapat kita lihat di sini. Di saat dapur penjara melakukan pengawasan yang sangat ketat pada makanan yang akan disajikan, namun sangat cacat pada sistem distribusinya. Hal ini menggambarkan bagaimana pembuat kebijakan (yang berkuasa/pemerintah) terlalu fokus pada bentuk (form) kebijakannya, bukan pada implementasi dan implikasinya pada masyarakat.

“200 tingkat”

Imoguiri menyatakan pada Goreng bahwa jumlah tingkat pada penjara vertikal itu adalah 200 tingkat. Ia juga menjamin pada Goreng bahwa pengawasan sangatlah ketat sehingga anak berusia di bawah 16 tahun tidak diperbolehkan masuk ke dalam penjara tersebut. Nyatanya, kedua pernyataan terebut adalah keliru, meskipun Imoguiri pernah menjadi bagian dari petugas penjara tersebut.

Kekeliruan Imoguiri ini jelas menyimbolkan ketidaktahuan pihak pemerintah terhadap kondisi di lapangan yang ia tangani. Hal ini tentu sering kita lihat di dunia nyata, dimana pihak pemerintahan berbicara di ruang kerja mewah miliknya, sementara kondisi di lapangan berbeda dari yang ia sampaikan.

Panna Cotta

Dalam upaya membuat perubahan, Goreng dan Baharat memilih hidangan penutup Panna Cotta sebagai pesan yang akan dikirimkan ke ‘atas’. Maka mereka mempertahankan hidangan tersebut untuk tidak dibagikan pada penghuni penjara lainnya. Ini kita lihat pada adegan menuju ending The Platform.

hidangan Panna Cotta pada ending The Platform
Hidangan Panna Cotta yang dipertahankan Goreng dan Baharat

Dalam dunia masak-memasak, Hidangan Panna Cotta bisa dibilang hidangan yang perfectionist karena membutuhkan ketelitian dalam memasaknya. Ia harus bertekstur pas, tidak terlalu keras, namun tidak terlalu lembut sehingga bisa tercetak.

Imoguiri sempat menyebut penjara vertikal sebagai Vertical Self-Management Center. Sebuah pusat pembinaan sikap masyarakat dalam mengatur dirinya sendiri, termasuk mengatur kepedulian sosial. Imoguiri bahkan sempat berusaha mendidik tahanan di bawahnya untuk melakukan ‘solidaritas spontan’.

Panna Cotta dipilih oleh Goreng dan Baharat (berdasarkan saran Brambang) sebagai sebuah pesan yang ingin disampaikan ke ‘atas’. Pesan yang menurut saya menyatakan bahwa: Panna Cotta yang tidak tersentuh dan kembali ke dapur dalam keadaan utuh adalah bukti bahwa solidaritas spontan sudah terjadi, penghuni penjara vertikal sudah mampu menata diri mereka dari sifat serakah, dan itu artinya misi penjara sudah terlaksana. Maka, petugas penjara harusnya membebaskan para tahanan setelah itu. Setidaknya, itulah harapan Goreng dan Baharat.

lantai terbawah terkuak di ending The Platform
Goreng dan Baharat tiba di lantai 333

Lantai 333

Di bagian ending The Platform, kita akhirnya melihat lantai terbawah dari penjara vertikal, yaitu lantai 333. Angka yang aneh untuk jumlah tingkat sebuah bangunan. Saya melihat ini sebagai simbol dari perkataan Goreng di awal ketika film ini dimulai. “Ada 3 jenis manusia: dia yang di atas, dia yang di bawah, dan dia yang jatuh.”

Jumlah lantai 333 ini menyimbolkan 3 jenis manusia tersebut, di mana Goreng dan Baharat turun dari lantai yang cukup teratas, yaitu lantai 6, menuju lantai paling bawah dengan mengharapkan kejatuhan terjadi pada sistem bobrok yang mengurung mereka.

Anak kecil

Penjelasan tentang anak kecil ini sekaligus mendukung penjelasan pada bagian Panna Cotta, yaitu untuk menjelaskan makna ending The Platform.

Adanya anak kecil di lantai 333 (yang diasumsikan adalah anak yang selama ini dicari Miharu) kembali menandakan bahwa pemerintah tidak memahami kondisi yang terjadi di lapangan dan tetap meyakini bahwa aturan yang mereka ciptakan sudah terjalani dengan baik. Nyatanya, entah bagaimana caranya, peraturan yang melarang adanya anak di bawah 16 tahun tersebut tidak terlaksana dengan ketat.

Anak Miharu tersebut kemudian dikirim ke atas untuk menggantikan Panna Cotta sebagai pesan. Saya melihat adegan ending The Platform ini menyimbolkan dua hal.

Yang pertama, sebagai pesan pada pihak yang berwenang di atas sana bahwa sistem yang mereka buat jelas sudah bocor dan mereka tidak menjalani aturan yang mereka buat sendiri. Anak kecil di kirim ke atas sebagai pesan protes dari masyarakat bawah kepada pemerintah di atas untuk mengevaluasi kinerja dan sistem mereka yang jelas-jelas sudah korup dan gagal.

anak kecil yang menjadi pesan penting
Anak Miharu yang berada pada lantai 333

Pemaknaan kedua, anak kecil yang dikirim ke atas menggantikan Panna Cotta adalah simbol harapan. Saat orang dewasa seperti Goreng dan Baharat ingin membuat perubahan, sering kali mereka melakukannya dengan cara yang salah karena sudah terkontaminasi dengan nilai moral yang bias. Contohnya, mereka melakukan distribusi makanan secara merata seperti sistem sosialis, namun nyatanya mereka membunuh sebagian orang yang ingin mereka bantu.

Maka, anak muda yang dianggap masih suci dari kontaminasi moral, dianggap sebagai harapan perubahan. Pada dunia nyata, anak muda juga sering kali disimbolkan sebagai penggerak, pelaku perubahan, dan seorang inovator.


Trivia

Ada dua buah trivia yang saya temukan pada film The Platform ini. Trivia ini tidak membantu untuk menjelaskan ending The Platform, hanya saja dapat menambah dimensi tafsir terhadap film ini. Dua hal tersebut adalah:

1. Buku Don Quixote: Buku yang dipilih oleh Goreng untuk menemaninya di penjara adalah sebuah novel terkenal yang menceritakan seorang tokoh bernama Don Quixote yang ingin menjadi pahlawan dan menyelamatkan dunianya. Hal ini jelas sangat cocok dengan karakter Goreng. Di samping itu, novel ini juga mengangkat isu kelas sosial dan moral individu, dua isu yang cukup kental dapat dilihat juga di film The Platform.

2. Pemilihan Nama Tokoh: Entah apa pertimbangan dan maksud dari penulis dan sutradara dalam memilih nama tokoh untuk film ini. 4 dari 6 karakter utama di film ini menggunakan kosa kata Bahasa Indonesia (atau bahasa Melayu). Yaitu Goreng, Trimagasi (permainan ucapan kata ‘terima kasih’), Imoguiri (diambil dari kata Imogiri, pemakaman raja-raja Mataram di Jawa), dan Brambang (sebutan lain untuk bawang merah). Hal ini memunculkan pertanyaan sekaligus kebanggaan tersendiri di kalangan penonton Indonesia.

Itulah pemaknaan ending The Platform menurut tafsiran Mariviu. Apakah ada hal penting yang terlewatkan? Atau kamu punya penafsiran lain? Sampaikan pendapatmu di kolom komentar, ya! 😉

Mahasiswa pascasarjana Kajian Wilayah Amerika di salah satu universitas di Indonesia. Mulai menyelami buku-buku sejak SMP diawali dari novel Lupus dan kemudian kuliah S1 di jurusan Sastra. Aktif meresensi buku melalui Instagram dan Youtube.