Film Alita: Battle Angel cocok bagi kalian yang mengagumi cerita distopia atau post-apocalypse. Memberikan narasi tentang kehidupan cyberpunk penuh cyborg, bounty hunter, serta kelas sosial, film yang disutradarai oleh Robert Rodriguez serta nama besar James Cameron sebagai penulis naskah dan produser ini dibalut visual canggih setara Avatar dan The Jungle Book.
Diambil dari manga berjudul Battle Angel Alita karya Yukito Kishiro yang diterbitkan dari 1990-1995, semuanya dimulai dari cybersurgeon (ahli bedah cyborg) Dr. Dyson Ido yang menemukan cyborg dengan otak yang masih hidup. Setelah memberikan tubuh baru, Dr. Ido memberikan nama Alita kepada cyborg yang mengalami amnesia tersebut.
Ternyata, Alita merupakan anggota pasukan elit cyborg khusus dengan seni bela diri Panzer Kunst serta teknologi yang sudah hilang selama 300 tahun. Dalam perjalanan mencari jati dirinya, ia bertemu dengan Hugo, seorang pencuri spare parts cyborg yang mengenalkannya pada olahraga Motorball, serta menjadi Bounty Hunter untuk memburu dan membunuh kriminal.
Nama James Cameron adalah alasan kenapa kalian harus rela mengeluarkan sedikit uang lebih untuk menonton film ini di layar 3D. Masih ingat dengan Avatar? Film Alita: Battle Angel juga menghadirkan pemandangan yang memanjakan mata. Penonton akan dibawa menyusuri Kota Besi di mana distopia Cyberpunk serta adegan aksi nan memukau akan menemani selama dua jam lebih pemutaran film.
Tak salah Fox yang sudah berinvestasi cukup besar terhadap Alita membangun sebuah film dengan tampilan 3D yang menawan. Mulai dari scene landscape perkotaan yang diselimuti gedung-gedung besi hingga pori-pori di wajah Alita dibuat sangat apik. Pada opening sequence saja, penonton sudah diajak melihat tempat pembuangan sampah berisi besi-besi tua pada abad ke-26 –mengingatkan pada film Wall-E– yang detil sebagai pembuka dunia Alita yang megah.
Namun, bisa dibilang mimik wajah serta gestur yang ditampilkan lewat karakter Alita menjadi daya tarik tersendiri melebihi semua CGI yang ada di sepanjang film.
Walaupun menggunakan teknologi motion capture, Rosa Salazar tampak tampil sepenuh hati memerankan Alita. Ia mampu mewujudkan cyborg polos tapi kuat yang mau merelakan hatinya –literally– kepada orang yang ia sukai. Perjalanan Alita dari gadis polos yang bahkan tidak tahu siapa dirinya menjadi petarung yang “tidak akan diam ketika melihat kejahatan” membuat alur cerita menjadi lebih hidup.
Berbanding terbalik dengan karakter Mahershala Ali yang didapuk menjadi sosok antagonis bernama Vector dengan kaca mata hitam ala The Matrix dalam film ini. Sebagai aktor yang pernah mendapatkan penghargaan Oscar untuk Best Supporting Actor, Ali tidak begitu menunjukan penampilan khas.
Berbicara tentang karakter, Fox yang ingin menjadikan Alita sebagai franchise tentu sudah siap untuk memperkenalkan karakter baru. Nah, karakter baru yang diperankan oleh seorang aktor ternama akan muncul di akhir. Sebagai siapa? Tonton saja filmnya untuk lebih merasakan keteganganya.
Film Alita: Battle Angel punya third act yang berantakan
Secara garis besar, tidak ada yang salah dengan film ini. Akan tetapi, memasukan cerita manga yang cukup panjang dan berjilid ke dalam sebuah film bukanlah tugas yang mudah. Beberapa bagian dalam film terkesan terburu-buru. Banyaknya penjelasan tambahan membuat cerita yang paling menarik dari film ini, yaitu perjalanan Alita dalam mencari jati dirinya, kurang mendapatkan durasi yang pas.
Selain itu, bagian akhir film juga dibagi menjadi beberapa bagian, mulai dari pertarungan terahir, beberapa sequence untuk resolusi cerita, dan penambahan adegan semacam setup untuk sekuel Alita: Battle Angel.
Meskipun dibuat fokus pada penggambaran visual yang juga disajikan dengan adegan aksi yang sinematis, Alita menunjukan sedikit narasi tentang bagaimana robot bisa menjadi lebih humanis dibandingkan manusia. Kritik yang sejalan dengan apa yang terjadi saat ini. Digambarkan dengan karakter manusia yang mau melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun tema ini menjadi tidak begitu terlihat dikarenakan alur yang terkesan tergesa-gesa.
Tetapi secara keseluruhan, Alita: Battle Angel merupakan salah satu film ambisius Fox yang patut ditonton. Terutama bagi kalian yang sudah pernah membaca versi manganya. Dengan imajinasi yang dimiliki Cameron, film Alita: Battle Angel menghadirkan pengalaman menyusuri masa-masa distopia yang – sekilas mirip dengan Maze Runner: The Death Cure, apa karena ada Rosa Salazar? – dipadukan dengan scoring mengagumkan dari Junkie XL.
Indonesia menjadi salah satu negara yang beruntung mendapatkan pemutaran film ini lebih awal, bahkan daripada Amerika Serikat. Penonton Indonesia sudah bisa menikmati film Alita: Battle Angel pada Tahun Baru Imlek, 5 Februari 2019. Sedangkan di Amerika, Alita: Battle Angel baru akan tayang pada Hari Valentine, 14 Februari 2019.
Rating: 3.5/5
Genre: Science-Fiction, Fantasy
Sutradara: Robert Rodriguez
Penulis: James Cameron (Screenplay), Laeta Kalogridis (Screenplay), Robert Rodriguez (Screenplay), Yukito Kishiro (manga)
Bintang: Rosa Salazar, Christoph Waltz, Mahershala Ali, Eiza González