Review Film Monkey Man (2024): Intens, Gore, dan Penuh Layer

Film Monkey Man menayangkan sajian aksi berkoreografi apik yang menawan dari awal sampai akhir dalam balutan kisah emosional yang mencakup berbagai isu, dari agama, politik, gender, hingga kelas sosial di India. 

Sinopsis film Monkey Man

Kid (Dev Patel) tumbuh di daerah kumuh India dan mencari penghasilan dengan menjadi petarung bertopeng monyet di sebuah arena bawah tanah. Ia mencari cara untuk naik ke kelas sosial lebih tinggi dengan masuk ke sebuah bar milik Queenie (Ashwini Kalsekar) yang dipenuhi orang-orang berpengaruh. Di sini ia pun dekat dengan salah satu pekerja di sana, Sita (Sobhita Dhulipala).

karakter di film Monkey Man 2024
via Universal Pictures

Berkat bantuan Alphonso (Pitobash), ia akhirnya bekerja sebagai pelayan bar sampai akhirnya ditugaskan untuk melayani pelanggan VIP di area khusus. Motif dibalik kegigihannya masuk ke kelas atas adalah membalaskan kematian ibunya yang dibunuh Tiger (Sharlto Copley) 

Bukan ‘John Wick’

Siapa yang melihat trailer Monkey Man mungkin berprasangka bahwa film ini terinspirasi dari John Wick (2014). Meski punya vibe dan aksi berdarah-darah yang tak jauh berbeda, tapi film ini punya lebih banyak layer ketimbang franchise Keanu Reeves tersebut. 

Bukan hanya menghadirkan sebuah kisah balas dendam, tapi film yang juga disutradarai oleh Patel ini menggabungkan berbagai elemen yang membuat ceritanya semakin kaya, termasuk mitologi Hanuman yang jadi pondasi narasi film ini.

Film Monkey Man
via Universal Pictures

Ceritanya dibangun dengan rapi. Dibangun perlahan demi menumbuhkan rasa penasaran sekaligus ketertarikan pada tokoh utama. Penonton diajak menyelami perasaan serta trauma yang dialaminya lalu mendukung misi balas dendam yang pada awalnya disusun dengan baik hingga pertengahan cerita. 

Dibangun dengan cukup pelan di beberapa menit pertama,, penonton dibawa untuk mengenal Kid (Patel) yang ingin membalas dendam atas kematian ibunya. Tapi seiring durasi berjalan, ada pengalaman unik yang membedakannya dari film aksi pada umumnya. 

Baik sinematografi, koreografi aksi, sampai dengan camerawork disajikan dengan penuh gaya. *chef kiss*.  Tak terkecuali pemilihan warna gemerlap yang kontras, menegaskan kesan gelap namun sedap dipandang mata. 

Dev Patel di film Monkey Man
via Universal Pictures

Patel tampil fenomenal. Ia memberikan karakter Kid yang kuat di luar namun rapuh di dalam dengan penuh makna. Mengajak penonton turut geram dengan kondisi yang dialaminya dalam kisah yang sentimentil tentang kehilangan dan perjuangan bertahan hidup. 

Debut sutradara yang manis

Monkey Man menandai debut sutradara pertama dari Dev Patel. Selain berperan sebagai pemeran utama, aktor kelahiran Inggris ini juga menjadi nyawa film sebagai penulis naskah. Sedangkan di kursi produser ada nama besar Jordan Peele.

Memang tak ada yang sempurna. Beberapa bagian dan koreografi masih terlihat kasar, termasuk editing yang terasa ‘patah’. Tapi mengingat ini merupakan debut perdananya, Patel bisa jadi sutradara yang menjanjikan di kemudian hari.

Dev Patel sebagai Kid
via Universal Pictures

Patel menjawab tantangan dengan tidak hanya memberi penonton sajian aksi yang apik, tapi juga taburi isu-isu sosial tentang kaum minoritas, politisasi agama, dan kesenjangan sosial yang kentara di India. Hasilnya? Film ini lebih berisi dan padat. 

Berbicara tentang atmosfer, perbandingan antara kelas sosial antara si kaya dan si miskin di film ini samar-samar mengingatkan kita pada Slumdog Millionaire (2008), film pertama Patel. 

Menariknya lagi, film ini melakukan proses syuting di Batam akibat terkendala COVID-19. 

Film Monkey Man membawa rasa baru; sebuah misi balas dendam penuh aksi dalam balutan mitologi mengantarkan isu-isu yang bukan hanya hangat di India, tapi hampir di seluruh dunia tentang korupsi, masyarakat yang tertindas, authoritarianism, hingga nasionalisme semu. 

Genre: Aksi

Sutradara: Dev Patel

Penulis Naskah: Dev Patel

Pemeran: Dev Patel, Sharlto Copley, Pitobash

Avatar photo
Padli Nurdin

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.

Articles: 889

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *