Film Saw X menandai kembalinya Tobin Bell memerankan John Kramer yang legendaris. Skalanya dibuat lebih kecil demi mempertontonkan kebengisan sekaligus sisi humanis Jigsaw dalam film penuh siksaan berdarah-darah.
Sinopsis film Saw X
John Kramer (Tobin Bell) diberitahu bahwa ia hanya memiliki beberapa bulan untuk hidup akibat tumor pada otak yang dideritanya. Berkenalan dengan orang di grup penyintas kanker, ia mengetahui sebuah pengobatan alternatif yang disebut manjur.

Ia lalu menghubungi Dr. Pederson (Synnøve Macody Lund), pemilik klinik pengobatan rahasia tersebut. Setelah menyetujui jadwal operasinya, Kramer bertolak ke Meksiko untuk mendatangi klinik Pederson.
Setelah operasi, Kramer menyadari bahwa klinik Dr. Pederson merupakan settingan dan ia ditipu. Ia lalu melacak semua orang yang terlibat dalam penipuan tersebut dan memberikan ‘penebusan dosa’ ala Jigsaw.
Siksaan yang menyakitkan
Franchise Saw memang sudah berjalan hampir dua dekade. Menariknya, sekuel film ini masih tetap dibuat bahkan hingga instalasi ke-sepuluh. Dan untuk keberlangsungan cerita, film ini berlatar di antara Saw (2004) dan Saw II (2005).
Kembali digawangi oleh Kevin Greutert yang juga menjadi sutradara Saw VI (2009) dan Saw 3D (2010), film ini menghadirkan cerita dari sudut pandang John Kramer a.k.a Jigsaw yang didapuk sebagai protagonis, lengkap dengan ‘kompas moral’-nya.

John menawarkan ‘penebusan’ atas dosa-dosa dari penipuan yang telah dilakukan oleh Dr. Pederson dan kelompoknya. Menjadikan setiap siksaan (anehnya) dipenuhi dengan tepuk tangan dan riuh sorai penonton.
Kevin kembali mempertontonkan berbagai siksaan yang mengundang pilu dan adegan berdarah-darah. Bisa jadi terkesan menjijikkan dan bikin ngilu penonton yang tak siap. Tapi, tak mungkin penonton tak tahu apa yang mereka harapkan dari film ini? Pastikan untuk tidak membawa anak-anak menonton film ini.
Kembalinya Tobin Bell menjadi salah satu upaya bagi waralaba ini untuk mengulangi kesuksesan awal. Meski tak bisa dipungkiri tubuh yang sudah dimakan umur (ia kini berusia 81 tahun) terlihat lebih renta dibandingkan film pertamanya (saat umurnya 60-an).

Secara garis besar, Saw X dibekali dengan plot yang lebih berterima, didukung siksaan-siksaan yang terasa lebih nyata. Mengangkat ceritanya lebih padu dibandingkan beberapa entri sebelumnya
Hanya saja dengan struktur cerita yang sudah bisa ditebak, intensitas dan suspense terasa jauh berkurang. Penonton tahu bahwa Kramer akan menang dan semua villain/korban akan mati.
Demi nostalgia
Saw X bisa dibilang sebagai salah satu film terbaik dari waralaba ini. Punya cerita yang padat dan plot yang masuk akal, tak ketinggalan fan service berupa adegan gore penuh darah serta karakter-karakter lama yang ikut ambil bagian.
Setiap siksaan yang ditampilkan punya cara tersendiri untuk memberikan mimpi buruk. Walau bukan yang tersadis, tapi Kevin mampu membawa penonton ikut-ikutan meringis kesakitan.

Tapi sayangnya, semakin lama film berjalan, penyampaiannya terasa semakin repetitif; awalnya korban menolak untuk melakukan, dibuat terpaksa, namun pada akhirnya tewas ketika waktunya habis.
Begitu pula kehadiran Amanda dalam film sebenarnya tak punya pengaruh yang signifikan di untuk plot. Mengingat ada atau tidaknya Amanda, cerita masih bisa berjalan dengan menarik.
Praktis hanya sebagai nostalgia bagi penggemar yang ingin melihat kembali dua karakter utama di seri thriller ini. Psst, ada satu cameo menarik yang bisa kamu lihat di adegan post credit Saw X.

Sama seperti awal kemunculan waralaba ini, film Saw X punya berbagai cara untuk membuat penonton ikut merasakan kesakitan para korban. Kali ini plotnya lebih masuk akal dan punya sisi humanis dalam tema pemulihan kembali jiwa-jiwa yang kotor.
Genre: Thriller
Sutradara: Kevin Greutert
Penulis Naskah: Josh Stolberg, Peter Goldfinger
Pemain: Tobin Bell, Shawnee Smith, Synnøve Macody Lund

