“…hai, Waras! Hidup tak hanya selambung pangan! Beri gizi pada pikiran. Hahaha! Ya, ya, ya … Betul, Waras! Gemuki otakmu!” -Vinca Callista, 2015
Terkadang hasrat jahat dari pendaman emosi dan kemarahan di pikiran harus disalurkan melalui beberapa hal, salah satunya yaitu dengan membaca novel thriller atau psycho. Minimal dengan membaca buku-buku dengan genre itu, hasrat menyalurkan emosi kita telah terwakili oleh si pelaku yang melakukan pembunuhan dan kekejaman.
Buku Nyawa ini adalah salah satu buku yang mampu mewakili sisi gelap dan sisi psycho dari masing-masing kita. Novel ini dikarang oleh Vinca Callista, seorang penulis dan juga film maker asal Bandung yang sudah menerbitkan beberapa novel dan juga sudah memproduksi film-film indie, juga videoklip lagu Mocca yang berjudul Imaginary Girlfriend.
Dari sampul bukunya, sangat kentara kalau buku ini adalah buku dark literature. Disamping secara jelas dinyatakan bahwa ini buku darklit dan psychothriller, juga kelihatan dari ilustrasi yang memakan 1/3 bagian dari sampulnya; yaitu gambar sosok yang seperti dua orang namun satu kepala. Hebatnya, makna dan korelasi dari gambar tersebut dengan isi cerita hanya bisa diperoleh dengan membaca buku ini sampai habis.

Cerita yang disajikan dalam buku ini ringkasnya seperti ini: Ada sebuah kosan bernama Rumah Mangga yang ditinggali oleh beberapa mahasiswa dan mahasiswi dari beragam jurusan perkuliahan, mereka mendapat semacam teror mencekam berupa suara-suara anak kecil, rintihan perempuan, tawa perempuan yang melengking, coretan di dinding kamar, hingga serakan tanah coklat di dalam kosan. Beberapa mengira itu ada hubungannya dengan dunia mistis dan beberapa juga mencoba mencari alasan logisnya. Namun ada satu yang tidak mereka ketahui, yaitu kenyataan bahwa itu semua tidak ada hubungannya sama sekali dengan dunia mistis dan hantu-hantu. Penulis tidak menyertakan sosok hantu dalam novel ini karena novel ini memang bukanlah novel horror, melainkan psychothriller.
Novel ini menyajikan cerita yang lumayan kompleks, baik dari penokohan, konflik, alur cerita, dan sudut pandang. Penokohan dan konflik pada novel ini dibilang rumit karena penulis menyertakan tokoh yang banyak dan masing-masing tokoh tersebut memiliki konflik-konflik kecil nya sendiri-sendiri, setidaknya tokoh yang sering muncul dan memiliki percikan konflik yaitu: Rory, Lian, Sandre, Isvara, Aria, Gandes, Cangi, Danu, dan Mara. Lalu alur cerita dan sudut pandang pada novel ini dikatakan kompleks karena bersifat maju-mundur dan juga berganti ganti sudut pandang. Pada alur maju digunakan sudut pandang orang ketiga, sedangkan pada alur mundur (flashback) digunakan sudut pandang orang pertama (aku) yang mana sosok si ‘aku’ ini baru akan terungkap identitasnya setidaknya saat memasuki klimaks cerita.
Secara logika cerita, novel ini dapat dicerna oleh otak dengan lancar baik dari logika konflik dan juga dari logika misteri nya. Buku ini seperti sebuah puzzle bongkar pasang yang terdiri dari banyak konflik-konflik kecil yang berfungsi sebagai potongan-potongan puzzle, kemudian pembaca harus menyusun data-data tersebut menjadi sebuah gambaran utuh agar dapat mengerti apa sesungguhnya yang sedang terjadi dalam cerita ini. Maka, dapat saya katakan bahwa penulis berhasil membuat cerita yang rumit dengan logika misteri yang sangat baik sehingga membuat pembaca puas di akhir cerita nya karena seluruh pertanyaannya telah terjawab.

Bagaimanapun, fakta-fakta di atas secara tidak langsung memberi nilai plus sekaligus minus untuk novel ini. Kelebihan novel ini adalah detailnya pada penokohan dan juga penggambaran konflik antar tokoh menjadikan novel ini sangat mampu membawa pembacanya merasa menjadi salah satu penghuni Rumah Mangga itu sendiri yang menyaksikan setiap kejadian secara langsung. Hal ini juga membuat pembaca mampu memapah imajinasinya dalam menggambarkan setiap tokoh nya dan juga setiap situasi yang tejadi.
Novel ini juga memiliki akselerasi alur yang unik dimana alur rising-actions-nya sangat landai dan panjang hingga kemudian meningkat sangat pesat saat mendekati klimaks cerita. Saat memasuki klimaks cerita, buku ini akan menahan pembaca agar tetap membalik halaman untuk menyelesaikan buku ini dalam sekali duduk, saking intens dan misterius nya situasi cerita tersebut!
Namun, di saat bersamaan, kompleksitas cerita ini juga menjadikan pembaca membutuhkan waktu yang agak lama untuk benar-benar melihat konflik psikologis yang terdapat dalam cerita ini (karena di sampul diterangkan bahwa buku ini adalah buku psychothriller, sehingga pembaca akan ‘menagih’ janji tersebut untuk direalisasikan dengan segera!). Ternyata, percikan-percikan konflik berbau psikologis justru baru keluar setelah menghabiskan lebih dari setengah buku, which can be so boring for some readers.
Satu lagi poin minus dari kekompleksan cerita ini, yaitu adanya konflik-konflik pengantar yang bertujuan untuk menguatkan penokohan satu-per satu, namun konflik-konflik ini agaknya berlebihan dari segi intensitas dan juga tidak ada hubungannya dengan konflik utama sehingga terkesan mengganggu. Contohnya, konflik antara Danu-Mara dan juga konflik segitiga atara Rory-Sandre-Aria.
Dari segi ide cerita, isu konflik, dan juga adegan-adegan dalam novel ini, agaknya target pembaca dari Vinca adalah remaja menuju dewasa yang seharusnya sudah memiliki psikologis yang relatif stabil. Novel ini juga cocok dibaca oleh mahasiswa psikologi karena mereka akan menemukan novel ini sangat terhubung dengan kajian mereka sehari-hari.

Judul : Nyawa
Penulis : Vinca Callista
Penerbit : Bentang Belia
Tahun terbit : 2015
Tebal buku : 290
Review ini dibuat oleh Haris Sibghatullah Fil Quds
Untuk review lainnya bisa teman-teman cek pada https://kanvaskatablog.wordpress.com/

