Review Film The School for Good and Evil (2022): Interpretasi Baru Dongeng Lama

Film The School for Good and Evil adalah film drama fantasi terbaru dari Netflix yang membawa penonton dalam perjalanan mencari jati diri. Dipenuhi dengan karakter-karakter dari dongeng terkenal, sayangnya film ini belum bisa menghadirkan keseruan yang ditawarkan oleh sumber aslinya.

Sinopsis film The School for Good and Evil

Agatha (Sofia Wylie) dan Sophie (Sophia Anne Caruso) merupakan teman yang tumbuh dari keluarga berbeda di kota Gavaldon. Di kota tersebut, setiap empat tahun ketika bulan berwarna merah, anak-anak berumur 12 tahun diculik dan oleh makhluk misterius.

Sophia Anne Caruso dan Sofia Wylie di film The School for Good and Evil
via Netflix

Agatha yang tinggal di dekat pemakaman sering dicap sebagai penyihir oleh penduduk desa. Berbeda dengan Sophie yang cantik dan berambut pirang. Ia berharap bisa masuk ke School for Good and Evil, sekolah ternama yang melatih anak-anak menjadi pahlawan atau penjahat.

Ketika makhluk tak dikenal menculik mereka, Sophie yang berharap dimasukkan ke sekolah Good malah dilempar ke sekolah Evil. Sebaliknya, Agatha yang berperawakan keras masuk ke sekolah Good. Keduanya lalu mencari cara untuk memasukkan Sophie ke sekolah Good yang diisi oleh putri dan pangeran dari negeri dongeng.

Kisah remaja berlatarkan fantasi

The School for Good and Evil merupakan buku pertama dari seri fantasi karya Soman Chainani. Trilogi pertama dari seri ini menjelaskan tentang perjalanan Agatha dan Sophie di tahun-tahun ketika mereka bersekolah dan berteman dengan karakter lain yang merupakan bagian dari dongeng legendaris.

Film ini menghadirkan kembali adaptasi baru dari novel best seller yang memadukan cerita remaja bertemakan fantasi dan pertarungan antara baik dan jahat. Termasuk karakter yang terbagi menjadi sekolah Good dan sekolah Evil lengkap dengan stereotip masing-masing.

Kerry Washington dan Charlize Theron di film The School for Good and Evil
via Netflix

Premis yang ditawarkan pada film ini tak jauh berbeda dengan versi novelnya. Ceritanya fokus tentang persahabatan Agatha dan Sophie serta bagaimana keduanya merasa asing ditempatkan di sekolah yang berbeda dengan yang mereka inginkan.

Misalnya Agatha yang biasanya diejek sebagai penyihir harus berhadapan dengan pangeran serta putri yang merasa diri mereka anggun. Mungkin sedikit pembeda novel dan film adalah Agatha disebut sebagai gadis yang buruk rupa, sementara versi film diperankan oleh Sofia Wylie yang menggemaskan.

Sementara itu, Sophie, penyuka pink dan bermimpi untuk menjadi seorang putri harus berurusan dengan keturunan penyihir dan karakter jahat lainnya. Misalnya saja anak dari penyihir dari cerita Hansel and Gretel, atau putra dari Captain Hook.

Dari segi cerita, baik versi novel maupun film menyanggah premis klise tentang stereotip protagonis di cerita dongeng yang diisi oleh orang-orang yang cantik/tampan dan menarik. Di mana tak semua orang yang ada di sekolah Good bisa dibilang baik, begitu pula sebaliknya.

Sophia Anne Caruso sebagai Sophie
via Netflix

Gabungan drama dan fantasi berlatarkan perjalanan mencari jati diri menjadi kekuatan film ini. Progresi plot cukup baik dengan gabungan humor dan aksi. Namun masih banyak sub-plot yang terkesan mengganggu keseluruhan cerita.

Ada banyak karakter yang menarik dan berpotensi menghadirkan nuansa baru dari dongeng yang sudah familiar. Tapi keterbatasan cerita membuat film ini lebih banyak berpusat pada dua karakter utama, sehingga film ini kehilangan daya tarik yang seharusnya bisa dimaksimalkan.

Interpretasi baru dongeng lama

Penulis versi novelnya, Soman Chainani, mengungkapkan bahwa cerita ini lahir dari kegemarannya menonton kisah-kisah tentang putri Disney ketika kecil. Menghadirkan kisah baru antara putri dan pangeran dengan gaya unik dan tentunya dengan pengembangan yang berbeda.

Agatha, Prof Emma Anemone, dan Prof Clarissa Dovey
via Netflix

Film ini menginterpretasi ulang pilihan antara menjadi seseorang yang “Good” atau “Evil” yang sering ditemui dalam cerita dongeng. Bahwa tidak semua putri yang cantik dan pangeran yang tampan itu baik, serta tidak semua orang yang berpenampilan buruk itu selalu menindas.

Tema lainnya yang juga ditekankan bahwa setiap orang tidak bisa dikategorikan sebagai baik atau buruk. Karena manusia adalah makhluk yang kompleks dan tak salah jika orang-orang yang berbuat baik bisa melakukan kesalahan, dan masih ada kebaikan di hati orang-orang yang dianggap jahat

Cerita dari film adaptasi Netflix ini memang tak sekompleks novelnya. Di mana versi film tetap mempertahankan hubungan antara Agatha dan Sophie sebagai ‘teman’, bukannya ‘pasangan’ sebagaimana dalam latar novelnya.

Agatha dan Sophie
via Netflix

Selain itu, ada banyak sub-plot yang disederhanakan. Jelas terasa kekosongan dalam alur cerita dan motivasi kedua karakter utama dalam adaptasi ini. Membuatnya tak ubahnya seperti cerita remaja lainnya, hanya saja dengan latar fantasi dan kisah dongeng.

Film The School for Good and Evil tak bisa menampilkan kekuatan sumber aslinya dengan plot yang kompleks dan pesan mendalam tetang pencarian jati diri. Bahkan untuk sebuah film, cerita yang ditawarkan tak tersambung dengan baik. Meski masih menyenangkan untuk dinikmati sebagai hiburan di kala senggang dengan cerita yang ringan dan mudah dimengerti.

Genre: Fantasi

Sutradara: Paul Feig

Penulis Naskah: Paul Zeig, David Magee

Pemeran: Sophia Anne Caruso, Sofia Wylie, Kit Young

Avatar photo
Padli Nurdin

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.

Articles: 889

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *