Film The Matrix Resurrections membawa kembali nostalgia di tengah banyaknya reboot dan sekuel di tahun ini. Tetap menawarkan visual apik dan adegan aksi yang sinematik, tapi kembalinya Keanu Reeves ke dunia The Matrix terbeban ekspektasi dan narasi megah di trilogi sebelumnya.
Kembali mengisahkan Thomas Anderson (Keanu Reeves), 20 tahun paska film terakhir. Ia dikenal sebagai kreator dari game trilogi The Matrix yang sukses besar di pasaran bersama rekan kerjanya, Smith (Jonathan Groff). Di kedai kopi, ia sering memperhatikan Tiffany (Carrie-Anne Moss) tapi tak mampu berbicara dengannya.

Anderson diduga kesulitan membedakan antara mimpi dan kenyataan, serta menganggap semua yang terjadi di game buatannya merupakan pengalamannya sendiri. Oleh karena itu, ia pun mengikuti sesi terapi bersama seorang psikolog (Neil Patrick Harris).
Tapi Morpheus (Yahya Abdul Mateen II) dan Bugs (Jessica Henwick) datang kepadanya dan menjelaskan bahwa ia masih terjebak di dunia yang dibuat oleh mesin. Ia pun menyadari bahwa cuplikan-cuplikan yang ia anggap mimpi merupakan kenangan lama yang pernah ia alami.
Callback dan nostalgia
Membawa kembali Lana Wachowski sebagai penulis naskah dan sutradara sangat berdampak pada keseluruhan kisah Neo dan Trinity. Apalagi film keempat ini mengungkapkan apa yang terjadi pada The Matrix setelah pertempuran besar antara Zion dan Machine City.
Dari segi plot, film The Matrix Resurrections mampu mereplika kembali apa yang membuat Matrix menjadi populer, yaitu tema pilihan manusia dan takdir. Menjelajahi lebih jauh tentang perbedaan antara ilusi dan kenyataan, dibuat relevan dengan kondisi saat ini.

Atau mungkin memang pendekatan yang ditawarkan oleh The Matrix tak pernah jauh dari kehidupan manusia. Apalagi di tengah semakin berkembangnya digitalisasi dan dunia virtual. Film keempat tetap stay to the roots membawa tema yang lekat dengan dunia nyata.
Pertarungan satu lawan satu atau menggunakan senjata api yang memadukan kung fu dan akrobatik membuat Resurrections menarik sebagai sebuah tontonan. Menegaskan kembali apa yang membuat The Matrix disebut sebagai salah satu film aksi terbaik sepanjang masa.
Tak ketinggalan sequence fenomenal yang membuat The Matrix menjadi salah satu film pengubah ranah film aksi: bullet time. Di film ini, ada lebih banyak adegan aksi penuh teknologi canggih yang tersaji dengan visual mengagumkan.

Tapi repetisi demi repetisi ditawarkan hingga mulai melelahkan. Bullet time sampai kekuatan ‘kamehameha’ Neo yang bisa menghentikan peluru dipamerkan setiap saat. Tapi kali ini dengan teknologi yang sudah meningkat, misalnya gerakan The Analyst yang hampir sama dengan Quicksilver di X-Men: Days of Future Past (2014).
Kembalinya The Matrix
The Matrix memang memiliki pengaruh yang besar di dunia film atau pop culture sejak dirilis pertama kali pada tahun 1999. Menginspirasi berbagai karya lainnya, baik film, series, maupun anime, dengan berbagai tema dan tentu saja adegan aksi tercanggih di masanya.
Tapi berbeda dengan franchise lainnya, Resurrections tak ragu menertawai dirinya sendiri sebagai sebuah sekuel. Terus menggali lebih dalam untuk mendapatkan cerita baru yang diminta oleh studio. Bahkan nama Warner Bros. sebagai pemilik franchise ini turut disebut.

Di kesempatan lain, dengan konteks The Matrix sebagai sebuah game, banyak dialog yang merepresentasikan kekuatan film orisinal; pertarungan penuh senjata, pilihan manusia, sampai kritik untuk kapitalisme kembali mengingatkan eksistensi dan popularitas ketiga film sebelumnya.
Jarak 18 tahun sejak film terakhir tentu saja membuat Resurrections bertindak sebagai sekuel sekaligus membawa nostalgia dari trilogi yang melambungkan nama Keanu Reeves ini. Berbagai callback dari tiga film sebelumnya menjadi selingan yang menyenangkan.Â

Wachowski memasukkan kembali dialog memorable hingga mereka ulang beberapa latar penting dalam cerita. Terlebih lagi, penonton dibuat mengulang kembali memori dari latar sebelumnya melalui sequence ikonik yang ditampilkan dalam bentuk cuplikan-cuplikan singkat dari awal hingga akhir.
Terbeban nama besar trilogi
Kehadiran Wachowski berpengaruh besar untuk menjaga nuansa film awal dalam melanjutkan kisah Neo. Dimana penonton akan mengetahui tentang apa yang terjadi pada dunia manusia dan mesin serta bagaimana film keempat bisa terjadi setelah ending ambigu di The Matrix: Revolutions (2003).

Tapi skala besar pertarungan manusia melawan mesin di trilogi sebelumnya tak terasa di film ini. Menonjolkan romansa, fokus pada Neo dan memberikan lebih sedikit ruang eksplorasi Carrie-Anne sebagai Trinity. Membawa The Matrix 4 yang kini layaknya seperti reboot pada umumnya.
Begitu pula keselarasan plot dan karakter dengan film terdahulu terkesan dipaksakan. Mengingat kemunculan Smith sebagai kontinuitas Agent Smith tak berpengaruh penting terhadap cerita. Atau kurangnya chemistry antara Neo dan Morpheus. Atau Sentinel yang hanya dijelaskan sepintas lalu.

Meski masih ada bagian mengenai pilihan manusia atau takdir, tapi kini tak ubahnya sebagai pemanis dialog tanpa dampak besar untuk keseluruhan film. Dibandingkan narasi Neo sebagai The One untuk menyelamatkan umat manusia, Resurrections bertumpu pada nostalgia, sinematografi, dan kisah romansa.
Film The Matrix Resurrections memiliki banyak kelemahan dari segi pengisahan atau melanjutkan cerita yang sudah dianggap sempurna. Tapi Wachowski setidaknya mampu mempertahankan warisan The Matrix yang penuh aksi dibarengi visual apik dengan nostalgia trilogi sebelumnya.
Genre: Aksi
Sutradara: Lana Wachowski
Pemeran: Keanu Reeves, Carrie-Anne Moss, Yahya Abdul-Mateen II, Neil Patrick Harris

