Star Wars: The Last Jedi berseting tepat setelah Resistance berhasil menghancurkan senjata pemusnah masal milik First Order, Star Killer. Walaupun mereka berhasil menghancurkan Death Star versi jumbo tersebut, para Resistance masih berada di situasi yang sangat genting karena First Order tidak henti-hentinya memburu mereka. Tanpa senjata pamungkasnya, First Order secara mengejutkan masih memiliki kekuatan yang cukup untuk melenyapkan Leia dan para pengikutnya. Sementara itu, Rey berhasil menemukan Luke dan berusaha membujuknya untuk membantu Leia dalam memenangkan pertempuran melawan First Order.
Setelah digantung dengan ultimate cliff-hanger sejak dua tahun lalu, para fans Star Wars akhirnya dapat menemukan jawaban dari pertanyaan dan teori-teori yang berseliweran di dunia maya selama dua tahun belakangan lewat film yang disutradarai oleh Rian Johnson ini. Walaupun begitu, masih ada pertanyaan-pertanyaan yang tetap tidak terjawab dan mungkin tidak akan pernah terjawab. Semoga Star Wars: Episode IX sebagai episode penutup saga Skywalker tersebut dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Dari segi plot, film ini berusaha untuk keluar dari bayang-bayang The Force Awakens yang disebut-sebut merupakan remake Episode IV, yaitu A New Hope, karena plot yang kurang lebih sama. Memang ada beberapa adegan di The Last Jedi yang mirip dengan film originalnya, namun hal itu berhasil ditutupi dengan twist-twist yang membuat film ini berbeda dari trilogi original-nya tersebut.
The Last Jedi mampu menceritakan semua karakternya dengan porsi yang pas. Film tidak selalu didominasi oleh cerita para pendekar pedang laser yang bisa telekinesis dan telepati. Finn, Poe, Leia, dan Rose (yang merupakan karakter baru) juga mendapatkan banyak adegan yang seru dan menegangkan. Mulai dari pertempuran di luar angkasa hingga sebuah misi rahasia di sebuah planet yang baru muncul di serial Star Wars.
Villain dalam film ini sangat bagus. Setelah hanya diperlihatkan melalui hologram raksasa di film sebelumnya, Snoke akhirnya memperlihatkan wujud dan kekuatannya. Dengan teknologi motion capture, Andy Serkis yang memerankan Snoke berhasil menghidupkan karakter yang sangat jahat, manipulatif dan kuat. Teori tentang kekuatan sang Supreme Leader First Order tersebut akhirnya terjawab dalam film ini. Apakah ia lebih kuat dari Darth Vader dan Emperor Palpatine seperti yang dirumorkan? Silahkan nilai sendiri.
Lalu ada Kylo Ren, petinggi First Order yang labil. Sebagai villain dalam film ini ia memiliki konflik yang menarik. Ia masih impulsif dan berusaha menjadi murid yang patuh kepada mentor Dark Side-nya, Snoke. Ia mau mematuhi semua perintah kejam Snoke hanya karena rasa takut dan bencinya terhadap masa lalu. Walaupun sudah berumur 34 tahun, Adam Driver berhasil memainkan karakter labil Kylo Ren yang seperti remaja masih mencari jati diri.
Namun, tetap saja yang paling ditunggu-tunggu dalam film ini adalah pertemuan antara Rey dan Luke Skywalker, sang Jedi master. Seperti trailernya, Rey nantinya akan berlatih menggunakan the Force bersama Luke. Selama berlatih, mereka mengalami pergesekan layaknya guru dan murid kebanyakan dalam pengendalian the Force. Daisy Ridley sekali lagi bermain sangat bagus sebagai Rey. Akting yang memukau dengan kemampuan yang sangat baik dalam melakukan adegan pertarungan lightsaber menjadi bukti kalau ia pantas menjadi “Rey” seperti Carrie Fisher menjadi “Leia”. Sayang ia tidak berencana menjadi Rey untuk selama-lamanya.
Sementara itu, Luke, sang Jedi master, mengalami konflik batin yang memilukan. Seperti yang ada di trailer, ia menyebutkan kalau Jedi Order harus dihapus. Sang Jedi legendaris merasa bahwa dikotomi Light dan Dark side serta tanggung jawabnya sebagai seorang Jedi legendaris sekaligus mentor membuatnya menjadi kaku dan melakukan hal yang sangat memilukan dan memalukan di masa lalu. Luke seperti memperlihatkan apa dampaknya kalau telalu kaku menjadi Jedi. FYI Luke menyebut Jedi sebagai “religion” atau agama di film ini.
Sama seperti The Force Awakens, film ini juga menampilkan beberapa penggunaan the Force yang berbeda dan tidak pernah diperlihatkan di film Star Wars sebelumnya. Di The Force Awakens, Kylo Ren dapat menghentikan tembakan laser dari sebuah blaster hanya dengan menggunakan the Force. Variasi baru penggunaan the Force ini menjadi salah satu daya tarik film-film terbaru Star Wars semenjak dibeli oleh Disney.
Film ini memiliki visual dan adegan aksi yang sangat bagus. Banyak adegan perperangan di luar angkasa yang menegangkan. Selain itu ada beberapa adegan perang di dalam parit yang mengingatkan film perang dunia. Adegan pertarungan lightsaber dalam film ini juga sangat bagus, walau tidak sebagus scene Darth Vader di Rogue One.
Pilihan Rian Johnson untuk mengurangi penggunaan CGI dan lebih banyak menggunakan boneka atau practical prop dalam menggambarkan beberapa makhluk asing seperti Porg seolah memberikan sebuah apresiasi untuk film original Star Wars sekaligus memunculkan efek nostalgia.
Walaupun film ini sangat bagus, ada beberapa hal yang mengecewakan dari film ini. Jika kamu belum menonton film ini, kamu dianjurkan untuk berhenti membaca review ini sampai di sini saja, karena ulasan berikutnya mungkin akan mengurangi pengalaman menonton kamu.
Penampilan Snoke di film ini ternyata tidak menjawab berbagai pertanyaan tentang jati dirinya. Selain itu ia juga tidak menunjukkan variasi penggunaan the Force yang berbeda dari yang sudah ada. Hal ini cukup disayangkan karena paling tidak Snoke yang disebut-sebut lebih kuat dari Darth Vader dan Palpatine harusnya dapat menunjukkan sesuatu yang berbeda dari penggunaan the Force.
Star Wars: The Last Jedi jelas merupakan salah satu film terbaik dari saga Skywalker. Berbagai twist yang mencengangkan yang terjadi di dalam film ini membuat Episode IX semakin layak untuk ditunggu. Tentu kita menjadi semakin penasaran untuk melihat bagaimana J.J. Abrams akan mengakali membuat cerita sambungan dari film yang sudah seperti sebuah finale.