Representasi ‘Penyakit Masyarakat’ dalam 5 Adaptasi Karakter Joker di Setiap Generasi

Every Joker has its own representasion!

cover Joker

Karakter Joker merupakan salah satu reinkarnasi dari masalah yang dihadapi masyarakat di setiap era adaptasinya. Setiap generasi memiliki Joker-nya tersendiri, namun memiliki dua kesamaan: tawa ikonik dan penampilan badut. Mulai dari Cesar Romero hingga Joaquin Phoenix, setiap adaptasi karakter Joker datang sebagai representasi ‘penyakit’ yang terjadi di masyarakat.

1. Cesar Romero

Adaptasi karakter Joker dalam serial dan film Batman tahun 1960-an tak dapat disangkal sebagai Joker paling lucu dan paling konyol dalam daftar ini. Menolak untuk mencukur kumisnya untuk peran ini, Romero memerankan Joker sebagai penjahat kartun yang konyol dan gelak tawa di setiap adegan.

Cesar Camero adaptasi karakter Joker
via 20 Century Fox Television

1960-an adalah masa pergolakan masyarakat yang hebat, terlebih di Amerika. Dimulai dari Perang Vietnam, pembunuhan Martin Luther King Jr., kerusuhan Stonewall, dan pendaratan di bulan. Karena itu, Joker menjadi parodi dari semua aturan dan struktur. Sementara dunia menganggap Joker sebagai penjahat serius, Joker-nya Romero tampil sebagai penjahat biasa yang ingin menikmati dirinya sendiri.

2. Jack Nicholson

Pada akhir tahun 80-an, kapitalisme menjadi masalah yang sangat nyata bagi orang Amerika. Bisnis telah mengubah sebagian besar kehidupan menjadi komoditas yang dapat dibeli dan dijual kembali ke konsumen. Selain itu, kejahatan, terutama di New York, semakin meningkat.

Dan Joker milik Jack Nicholson dalam adaptasi Batman Tim Burton pun mendeskripsikannya; bergaul dengan anggota dewan, menerima suap dari polisi, serta menjalankan bisnis gelapnya sendiri. Bertransformasi sebagai the Clown Prince of Crime, karakternya berubah anarkis, membunuh semua kaki tangannya, dan meracuni setengah Gotham hanya untuk bersenang-senang.

Jack Nicholson dalam karakter adaptasi Joker
via Warner Bros. Pictures

Adaptasi ini mendekonstruksi ketamakan kapitalis. Dia tidak memiliki rasa hormat terhadap seni, bahkan menasbihkan dirinya sebagai seniman ketika menghancurkan lukisan klasik. Dia menggunakan keserakahan penduduk Gotham dan memancing mereka dalam perangkap kematian.

3. Heath Ledger

Setelah 9/11, masyarakat Amerika takut terhadap teroris. Orang-orang Amerika melihat sebuah kekuatan kekacauan dari teroris. Sulit untuk menangkap ketakutan ini dalam layar lebar, tetapi Christopher Nolan menemukan caranya dengan seluruh trilogy The Dark Night berkaitan dengan ketakutan, korupsi, dan makna kekuasaan.

Heath Ledger menguatkan Joker dengan membentuk rasa takut dan memanfaatkannya sebagai senjata. Di sisi lain, Joker memiliki motivasi khusus: menunjukkan kepada dunia bahwa tidak ada aturan. Joker ingin mendekonstruksi masyarakat bahwa siapa pun bisa menjadi seperti dia.

Heath Ledger Joker
via Warner Bros. Pictures

Namun seperti halnya teroris di era ini, Joker datang, melakukan pekerjaannya dan kemudian menghilang. Tidak ada yang tahu – sebagian besar masyarakat umum – mengapa atau apa yang ia lakukan. Dengan cara yang pas, Joker ini adalah yang paling mengerikan: tindakannya intens dan membuat orang lain bertanya-tanya, “Mengapa dia melakukan ini?” But some men just want to watch the world burn!

4. Jared Leto

Dari semua interpretasi sinematik, Jaret Leto di Suicide Squad paling sering disebut sebagai inkarnasi Joker terlemah. Bahkan, sebagian penonton menyebutnya yang terburuk. Tentu saja, mengingat adaptasi karakter Joker yang satu ini muncul selepas penampilan menawan Heath Ledger. Dan daripada meniru Ledger atau Nicholson, Leto berusaha membuat Joker versinya sendiri.

Jared Leto karakter adaptasi Joker
via Warner Bros. Pictures

Terlepas dari itu, versi Joker-nya Leto masih mendeskripsikan tentang penyakit yang sering terlihat di Hollywood, bagaimana mengubah Joker sebagai seorang pacar bad-boy, penuh tattoo, dan menjadikannya seolah keren dengan abusive relationship-nya bersama Harley Quinn. Masalahnya adalah studio film seperti tidak benar-benar memahami daya tarik dan kekuatan Joker, sehingga membuatnya gagal mengesankan penggemar.

5. Joaquin Phoenix

Baru saja diluncurkan, Joker (2019) karya Todd Phillips mewakili realitas yang jauh lebih intim di sebagian besar masyarakat, yaitu masalah kesehatan mental. Apa yang dialami Joaquin Phoenix sebagai Arthur Fleck adalah manusia yang ditolak oleh masyarakat. Karakter ini dikaitkan sebagai penjahat yang terkena masalah mental, seperti pelaku terorisme atau penembakan yang sering diberitakan di Amerika.

adaptasi karakter Joker
via Warner Bros Pictures

Alih-alih menerima kegagalan pribadinya, Joker yang satu ini menyerang masyarakat yang mengecewakannya; mencerminkan apa yang sering dirasakan orang saat ini. Digambarkan sebagai individu yang terisolasi, hancur dan kecewa terhadap dunia. Seperti pembunuh di dunia nyata, dia berusaha keras menyerang dunia yang ia salahkan atas masalahnya yang ia alami.

Tapi, dengan pengungkapan gangguan penyakit mental yang dialami Artur Fleck, film Joker membuat origin story ini jadi ambigu. Apakah Joker benar-benar orang baik yang sering tersakiti, atau semua kekecewaan yang ia alami hanyalah khayalannya belaka?

Padli Nurdin

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.