Serial She-Hulk: Attorney at Law ditutup dengan ending yang benar-benar diluar ‘ dugaan. Bukan kesukaan semua orang, serial ini menegaskan kesan ‘meta’ yang berbeda dari kebanyakan serial Marvel Cinematic Universe, tapi tetap setia dengan sumber aslinya.
Sinopsis serial She-Hulk: Attorney Law
Jennifer Walter (Tatiana Maslany) mendapatkan kekuatan Hulk setelah menerima darah dari sepupunya, Bruce Banner (Mark Ruffalo). Setelah berlatih dengan Bruce, ia lalu mendapatkan pekerjaan sebagai pengacara yang menangani kasus orang-orang berkekuatan super.
Klien pertamanya yaitu Emil Blonsky (Tim Roth) yang dituduh meninggalkan selnya tanpa sebab. Jennifer lalu berurusan dengan kelompok Intelligencia yang menyebarkan rumor dan menjelekkan She-Hulk, termasuk akun Hulk-King yang ingin mendapatkan darahnya agar bisa mendapatkan kekuatan Hulk.
Ia lalu bertemu dengan Matt Murdock a.k.a Daredevil (Charlie Cox) ketika mengurusi kasus tentang superhero dengan kesalahan kustom. Keduanya pun bekerja sama untuk membekuk penjahat yang menyandera penjahit kostum superheronya.
Hingga akhirnya kelompok Intelligencia menyabotase event dimana Jennifer Walter mendapatkan penghargaan. Dan ternyata kelompok tersebut dibuat oleh seseorang yang dekat dengannya.
Serial MCU paling meta
Meta sendiri pada serial TV merupakan sebuah keadaan dimana karakter maupun plot di dalam serial mengakui bahwa mereka adalah sebuah karya, bukan realita. Sebagian besar ditandai dengan karakter maupun adegan yang seakan berbicara kepada penonton. Dan dengan pengertian ini saja, She-Hulk bisa dibilang sebuah serial meta.
Dimulai dari episode pertama dimana Jennifer Walter, heroine dalam serial ini berbicara kepada penonton dan mulai mengisahkan cerita tentang bagaimana ia mendapatkan kekuatan Hulk dan bertransformasi menjadi She-Hulk.
Hingga 9 episode serial ini berjalan, semua episode setidaknya memperlihatkan bagaimana Jennifer menembus batas antara serial dan realita, atau sering disebut breaking the fourth wall, hal yang juga ditemukan pada film Deadpool.
Bagi yang belum tahu, kemampuan She-Hulk untuk ‘berbicara dengan penonton’ diambil langsung dari versi komiknya. Dimana ia bahkan diperlihatkan sedang merobek panel komik sehingga membuat plot menjadi lebih menarik dan tidak tertebak.
Dengan perjalanan MCU yang tahun depan sudah genap berumur 15 tahun, tentunya kehadiran She-Hulk datang sebagai tontonan yang sangat berbeda dibandingkan 36 film Marvel selama ini. Mungkin setara dengan karakter The Watcher yang menarasikan ceritanya sendiri di What If (2021).
Dan semua itu ditutup dengan plot yang benar-benar meta di She-Hulk episode 9. Dimana She-Hulk bertemu langsung dengan K.E.V.I.N yang disebut menjadi otak dari segala cerita yang ada MCU. Ia berang dengan cerita yang berantakan di episode terakhir dan meminta K.E.V.I.N untuk mengubahnya.
Jennifer tahu bahwa ia berada di dalam sebuah serial TV. Ia lalu menjalani cerita yang diberikan kepadanya dari waktu ke waktu. Hingga pada akhirnya ia menyadari bahwa episode akhir di musim ini bukanlah cerita yang tepat.
Mungkin baru kali ini seorang karakter Marvel mampu mengubah jalan ceritanya sendiri. Termasuk beberapa pertanyaan yang mungkin ditanyakan oleh penggemar Marvel lainnya; Ada apa dengan daddy issues? Kapan kita bisa melihat X-Men?
Tanpa plot yang biasa
Bicara tentang meta, memang sedari awal penonton sudah diperingatkan bahwa serial ini bukan kebanyakan seri MCU lainnya. She-Hulk hadir dengan pesonanya sendiri, menertawai semesta MCU sekaligus penggemar berat melalui sindiran-sindiran sarkasme yang datang silih berganti.
Tapi hal ini tentu membuat She-Hulk mengorbankan banyak hal, salah satunya adalah keberlanjutan plot dan narasi yang seakan teropong dan berantakan. Tak mengikuti alur cerita per episode layaknya serial lain, semisal Loki (2021) maupun Hawkeye (2022). Bahkan WandaVision (2021) yang dinarasikan sebagai sebuah program televisi klasik pun masih memiliki plot yang mengalir di setiap episodenya.
She-Hulk lebih nyaman dengan memotong setiap episode menjadi satu kesatuan narasi tersendiri. Senada dengan serial komedi situasi pada umumnya, seperti Big Bang Theory atau The Office. Dimana satu episode, Jennifer menghadapi permasalahan yang berbeda-beda.
Secara garis besar, semua yang ada pada musim pertama terjadi untuk mengantarkan Jennifer memahami tentang perubahannya; dari sebelumnya seorang pengacara biasa menjadi pengacara yang memiliki kekuatan super dan berhadapan dengan supervillain.
Meski tak berkelanjutan dalam satu narasi besar, namun She-Hulk tetap menampilkan aliran plot dan sub-plot yang menyenangkan. Memperlihatkan perjalanan Jennifer sebagai She-Hulk, keluarga dan teman-temannya, serta beberapa cameo yang datang menghiasi serial ini.
Tapi selain itu, She-Hulk masih menyinggung beragam topik tentang perempuan di dunia kerja dan masyarakat yang masih didominasi oleh laki-laki. Sentilan-sentilan dan sindiran tajam yang membuat serial ini tidak hanya fokus pada fokus dan gaya meta saja.
Bisa dibilang serial ini bukanlah selera semua orang, bahkan mungkin bagi penggemar MCU itu sendiri. Tapi tidak mengapa, karena serial ini ikut menyindir penggemar MCU yang hanya mengikuti serial dan film karena cameo atau keberlangsungan semesta MCU yang lebih besar.
Meski tanpa pace serta plot yang tak berkelanjutan, tapi keseluruhan serial She-Hulk: Attorney at Law menawarkan cerita yang segar. Memberikan nafas baru bagi orang-orang yang mungkin sudah mulai jenuh dengan puluhan tahun iterasi MCU yang semakin besar.
Genre: Komedi, Drama
Sutradara: Kat Coiro
Penulis Naskah: Jessica Gao
Pemeran: Tatiana Maslany, Mark Ruffalo, Ginger Gonzaga, Jameela Jamil