Review Film Scary Stories to Tell in the Dark (2019): Ringan, tapi Tetap Seram

cover Scary Stories to Tell in the Dark

Guillermo del Toro akhirnya kembali dengan film horor terbarunya, Scary Stories to Tell in the Dark. Menggandeng pemain-pemain muda, film ini sukses memberikan cerita horor yang mencekam dan cukup menakutkan. Diambil dari cerita pendek horor karya Alvin Schwartz dengan judul yang sama, film ini juga masih menghadirkan pesan mendalam seperti bukunya.

Bertempat di sebuah kota kecil di Amerika pada tahun 1968, film ini mengisahkan tentang Stella (Zoe Margaret), gadis remaja yang bercita-cita untuk menjadi penulis dan menyukai cerita horor, serta dua orang temannya, Augie (Gabriel Rush)  dan Chuck (Austin Zajur).

Stella dan Ramon di Scary Stories to Tell in the Dark
via CBS Films

Bertemu dengan Ramon, remaja berdarah campuran Meksiko yang datang ke kota mereka, mereka berempat masuk ke sebuah rumah kosong yang penuh dengan mitos menyeramkan. Dan akhirnya para remaja ini menemukan sebuah buku cerita horor milik anak dari keluarga yang pernah tinggal di sana. Buku ini menjadi awal petaka karena cerita menyeramkan di dalamnya bisa menjadi kenyataan.

Sedikit tersendat di awal

Seperti Annabelle Comes Home, Scary Stories to Tell in the Dark juga merupakan salah satu film horor yang bersetting di masa lalu. Dan tentu saja, latar waktu ini memiliki dampak besar dari cerita yang ditampilkan.

pertemuan dengan hantu di Scary Stories to Tell in the Dark
via CBS Films

Guillermo del Toro juga mengakui pengaturan cerita di tahun 60-an memungkinkan dia dan sutradara André Øvredal bermain dengan elemen horor dalam plot. Dia mengungkapkan bahwa teknologi modern seperti Google akan membuat karakter kurang terisolasi dari dunia. Mencari informasi melalui kliping koran dan catatan di buku lebih susah dibandingkan mencari di internet, bukan?

Memang, film horor yang berlatar tahun 60-an hingga 80-an sangat banyak dalam beberapa waktu belakangan. Namun berbeda dari film horor lainnya, kali ini cerita yang diberikan tidak terlalu berat. Sehingga kalian masih bisa menikmati pengalaman menyeramkan sepanjang cerita.

Stella menemukan buku misteri
via CBS Films

Sayangnya, alur ceritanya tidak selalu berjalan dengan mulus. Beberapa bagian malah terkesan klise dengan cerita yang mudah ditebak. Sebagian kecil juga tidak terlalu padat, menyisakan pertanyaan di awal film. Meskipun alur tersebut tidak mengganggu narasi yang diberikan, kesalahan-kesalahan kecil, seperti motif yang tidak jelas, masih menimbulkan pertanyaan yang membingungkan.

Layaknya Goosebumps yang lebih serius

Di Indonesia, buku karya Alvin Schwartz ini memang kalah terkenalnya dibandingkan Goosebumps milik R.L. Stine atau karya-karya Stephen King. Tapi jangan salah, buku yang ditujukan untuk anak-anak ini masih mengerikan dengan makhluk gaib yang menakutkan. Sebagai perbandingan, bayangkan Goosebumps dengan cerita yang lebih serius dan menakutkan.

karakter di Scary Stories to Tell in the Dark
via CBS Films

Bukan hanya makhluk dari buku hadir dengan tampang yang mengerikan, tim produksi juga menambah monster asli The Jangly Man. Produser eksekutif Guillermo del Toro mengatakan bahwa monster ini adalah gabungan dari beberapa ilustrasi Stephen Gammell dari buku Scary Stories yang asli. Dan monster ini bukanlah CGI, tapi seorang contortionist yang meliukkan badannya.

Dan layaknya film-film horror lainnya, film ini juga memiliki jump scare. Tapi cerita yang dibuat del Toro mampu mengundang penonton untuk ‘takut lebih lama’ dibandingkan film lainnya. Meskipun tidak terlalu menyeramkan, tapi del Toro dan Øvredal menggunakan pendekatan baru: menunggu lebih lama untuk memberikan rasa deg-degan yang lebih banyak.

via CBS Films

Maka jangan heran jika kalian mendengar penonton yang berteriak dan ‘gemes’ ketika karakter dipastikan akan bertemu dengan monster/hantunya. Masing-masing monster juga memiliki karakteristiknya masing-masing dan muncul tanpa diduga-duga. Cukup membuat deg-degan.

Tema yang kompleks

Film Scary Stories to Tell in the Dark juga menjabarkan tema yang cukup kompleks seperti yang ada di bukunya. Karakter remaja, yang menurut del Toro adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa dibuat sangat dimanis. Dinamika karakter berkembang sepanjang cerita.

Stella dan Ramon dalam scary stories to tell in the dark
via CBS Films

Pun pemilihan tahun 1968 dalam film ini bukan tanpa alasan. 1968 merupakan tahun yang sangat berdampak bagi Amerika Serikat. Mulai dari eskalasi Perang Vietnam, pembunuhan Martin Luther Jr dan Rober F. Kennedy, serta pemilihan Presiden Richard M. Nixon. Konteks sosial politik itulah yang ditampilkan oleh Guillermo del Toro.

Dilihat lebih dalam, film ini mengungkapkan berbagai masalah yang dihadapi Amerika pada masa tersebut. Mulai dari rasisme, wajib militer bagi pemuda Amerika dalam Perang Vietnam (1955-1975), hingga depresi dan masalah psikologis. Tapi tenang saja, beberapa tema di atas hanya hadir sebagai pendukung cerita film ini masih ringan dan tetap menyenangkan untuk disaksikan.

kisah menyeramkan scary stories to tell in the dark
via CBS Films

Secara keseluruhan, film Scary Stories to Tell in the Dark merupakan tontonan yang menyeramkan namun masih ringan untuk dinikmati. Diadaptasi dari cerita untuk anak-anak dan remaja, film ini tidak terlalu berat. Mengandalkan cerita misteri serta monster yang menakutkan, menonton film ini seperti menyaksikan Goosebumps, namun dengan versi yang lebih kelam. 

Rating: 3/5

Genre: Horror, Mystery, Thriller

Sutradara: André Øvredal

Penulis: Dan Hageman, Kevin Hageman, Guillermo del Toro, Alvin Schwartz (buku)

Review
  • Review Film
3

Summary

Film Scary Stories to Tell in the Dark menyeramkan namun masih ringan. Mengandalkan cerita misteri serta makhluk yang menakutkan, menonton film ini seperti menyaksikan Goosebumps, namun lebih kelam. 

Sending
User Review
3 (2 votes)

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.