Serial Gadis Kretek merupakan adaptasi dari novel karya Ratih Kumala dengan judul yang sama, menjadikannya serial orisinil Indonesia pertama dari Netflix. Menggugah dan sarat makna tentang sosok wanita di tengah industri kretek berlatarkan tahun ’65.Â
Sinopsis serial Gadis Kretek
Lebas (Arya Saloka) mengetahui bahwa ayahnya yang sedang sakit-sakitan memiliki sejarah dengan perempuan lain. Ia lalu diminta untuk mencari keberadaan sosok wanita yang bernama Darsiah (Dian Sastrowardoyo) melalui sebuah foto dan sebuah surat.Â
Surat tersebut menerangkan bagaimana Soeraja (Aryo Bayu) pernah bekerja di sebuah pabrik kretek di kota M pada tahun 1964. Sementara Darsiah sendiri merupakan anak pemilik pabrik yang memiliki ketertarikan terhadap saus, atau resep dari sebuah kretek.
Pencarian Lebas sampai ke Museum Kretek di Kudus, Jawa Tengah. Di mana ia bertemu Arum (Putri Marino) yang mengetahui bahwa foto tersebut adalah foto keluarganya, dan Darsiah merupakan kakak dari ibunya.
Romansa berlatar industri kretek
Disutradarai oleh suami istri, Kamila Andini dan Ifa Isfansyah yang masing-masing memiliki tonggak filmografi sendiri, serial Gadis Kretek membawa penonton jauh ke masa-masa awal Indonesia merdeka.Â
Cerita tentang perempuan di industri kretek yang dikuasai oleh laki-laki jadi pondasi. Secara keseluruhan, serial ini menghadirkan kisah cinta yang tak sampai namun tetap memberikan kehangatan layaknya mengenang cinta pertama.Â
Film ini terbagi menjadi dua latar, tahun 1960-an dan masa sekarang (meski di serial ini terlihat seperti awal 2000-an). Ceritanya dibuat dengan plot maju mundur, tapi tak terlalu membingungkan untuk penonton umum.
Beberapa bagian sedikit diubah dibandingkan sumber novelnya. Namun tak mengurangi keseruan serial ini. Memberikan nyawa baru yang siap menggaet penonton Netflix maupun pembaca novel aslinya.
Visual dan sinematografinya juara. Belum lagi magis yang terasa dalam lantunan soundtrack dan lagu-lagu yang terselip dalam serial ini. Membuai dan mengantarkan ke masa lampau, lantunan masa-masa penuh romansa dengan sopan masuk ke telinga.Â
Deretan cast dipenuhi nama-nama besar Tanah Air. Apalagi dengan kepiawaian Dian Sastro yang memancarkan keanggunan bak putri raja di setiap kemunculannya. Pesonanya tak tertandingi dibandingkan pemeran lain yang walaupun tak sempurna, tapi tetap memperkuat cerita.
Menelusuri sejarah kelam Indonesia
Serial Gadis Kretek bukan hanya membawakan sekelumit sejarah industri rokok di Indonesia. Tapi juga menyelipkan sejarah kelam yang pernah terjadi di negeri ini; pembantaian di tahun 1965.
Bagian sejarah yang masih dianggap tabu untuk dibicarakan. Bahkan dalam serial ini, nama dan peristiwa yang terjadi tak disebutkan dengan jelas. Termasuk kota tempat latar kisah Darsiah dan Soeraja hanya disebut sebagai Kota M.Â
Namun Gadis Kretek tak menyurutkan besarnya dampak mengenaskan dari peristiwa tersebut. Betapa pedihnya orang-orang tak bersalah yang kehilangan sanak saudara, pekerjaan, dan harta bendanya akibat dituduh sebagai pemberontak.Â
Membuat serial ini punya banyak kelebihan; cerita dan latar klasik tentang Indonesia paska kemerdekaan, alur menarik, dan diperkuat dengan soundtrack yang memanjakan telinga. Menunjukkan betapa kuatnya karya Tanah Air jika dibawakan dengan baik.
Mungkin sedikit yang mengganggu adalah dialog yang masih tidak sempurna merepresentasikan Indonesia dengan bahasa yang kaku dan ‘jadul’. Tapi ini tentu tak berpengaruh besar terhadap pentingnya tema dan kisah yang diceritakan dalam serial ini.Â
Serial Gadis Kretek menawarkan alur cerita yang syahdu berbalut kisah cinta yang sendu tapi hangat berlatar industri kretek Indonesia. Sebuah karya lekat dengan budaya Indonesia yang tak dilebih-lebihkan, menawan, dan dieksekusi dengan baik.Â
Genre: Drama
Sutradara: Kamila Andini, Ifa Isfansyah
Penulis Naskah:Â Kanya Priyanti, Ambaridzki Ramadhanto
Pemain: Dian Sastrowardoyo, Ario Bayu, Arya Saloka, Putri Marino