Review Film The Hunger Games: The Ballad of Songbirds and Snakes (2023)

Film The Hunger Games: The Ballad of Songbirds and Snakes jadi andalan terbaru Lionsgate dalam usaha mengembalikan kejayaan cerita petualangan untuk remaja (Young Adult) yang pernah populer di masanya melalui awal dari sebuah trilogi yang sejauh ini cukup berterima.

Sinopsis film The Hunger Games: The Ballad of Songbirds and Snakes

Menjelang Hunger Games ke-10, Snow (Tom Blyth) berjuang untuk mendapatkan Penghargaan Plinth demi menyokong ekonomi keluarganya. Awalnya dipilih dari mahasiswa terbaik, namun peraturan berubah; pemenang diambil dari mentor dengan Tribut yang berhasil memukau penonton.

Rachel Zegler dan Tom Blyth
via Lionsgate

Snow menjadi mentor dari Lucy Gray (Rachel Zegler), gadis penyanyi dari District 12. Ia lalu melakukan segala cara untuk meningkatkan reputasi Lucy, termasuk diam-diam membantunya dalam pertarungan hidup mati di Hunger Games.

Ia dibantu oleh sahabatnya, Sejanus Plinth (Josh Andres Rivera) yang menganggap permainan ini tidak bermoral. Di sisi lain, dekan universitas sekaligus penggagas Hunger Games, Casca Highbottom (Peter Dinklage) mencari berbagai cara untuk menggagalkan rencana Snow. 

Prekuel trilogi Hunger Games

Setelah kesuksesan trilogi Hunger Games (2012-2015), Lionsgate membuka kembali awal trilogi dari prekuel permainan berbahaya tersebut. Dibuka di Capitol, film ini fokus pada perubahan yang dialami oleh Cariolanus Snow muda sebelum ia menjadi presiden Panam.

Francis Lawrence kembali menjadi sutradara setelah kesuksesan Catching Fire (2013) dan Mockingjay part 1-2 (2014-2015). Hal ini memberi Ballad of Songbirds & Snakes warna yang sama dengan film terdahulu dari segi drama dan intrik yang ditawarkan.

Lucy Gray dan Coriolanus Snow
via Lionsgate

Ceritanya terbagi menjadi tiga babak, “The Mentor”, “The Prize”, dan “The Peacekeeper”, semuanya menggali karakter Snow yang ambisius dengan moral abu-abu seperti yang ditemukan pada film Maleficent (2014) maupun Cruella (2022). 

Dari 157 menit durasi, lebih sedikit plot mengenai game dan karakter dari distrik lain yang ikut serta. Ceritanya lebih banyak berkisar antara Snow dan Lucy, jadi tak heran jika bagian aksi dan pertarungannya jauh lebih teredam dibanding film sebelumnya. 

Keseluruhan nuansa film terasa lebih gelap, mengingat film ini masih berpusat pada Capitol yang baru mengatasi pemberontakan distrik dan menjadikan Hunger Games sebagai hukuman, bukannya sebuah perayaan seperti yang dirasakan pada tiga buku pertama.

Rachel Zegler sebagai Lucy Gray
via Lionsgate

Intrik dan pengkhianatan yang datang silih berganti menghasilkan cerita yang penuh twist. Bahkan babak ketiga dibuat sangat berbeda dengan menyusupkan aura thriller yang memberi film ini aura mencekam. 

Zegler sebagai Lucy muncul sebagai penawar yang mampu sedikit mengurangi aura gelap film ini dengan nyanyian yang menyentuh sebagai sebuah perlawanan. Performa yang menawan meski belum bisa jadi penyeimbang keseluruhan film. 

Tiga babak arc

Melanjutkan kesuksesan novel dan adaptasinya, Suzanne Collins kembali mengisahkan negara Panam dan 12 distriknya melalui novel prekuel The Ballad of Songbird & Snakes dengan latar 64 tahun sebelum kisah Katniss Everdeen. Ketika Hunger Games ke-10 mulai ditinggalkan penonton. 

Snow hadir dengan gagasan bahwa peserta dari masing-masing distrik harus bisa memenangkan hati penonton, memberikan harapan dan keterikatan yang membuat mata penonton tertuju pada game berdarah ini.

film The Hunger Games: The Ballad of Songbirds & Snakes
via Lionsgate

Adaptasi ini dirasa cukup setia dengan sumber aslinya. Termasuk memperlihatkan Hunger Games sebagai sebuah wadah bagi penguasa untuk menguasai distrik lainnya; keberlanjutan Hunger Games jadi kekuatan besar menebar teror bagi anak-anak muda.

Meski tak fokus pada permainannya, tapi semua intrik politik di Capitol hingga pertarungan hidup mati dijadikan tontonan menunjukkan kekuatan terbesar Hunger Games dalam merepresentasikan kekuasaan dan orang-orang kelas bawah yang dijadikan hiburan. 

Versi film belum mampu mengisahkan pertarungan moral Snow yang dijelaskan dengan rapi pada novelnya. Namun Tom Blyth berhasil menggambarkan perubahan karakter yang signifikan di awal dan akhir film. 

Lucy Gray dan Coriolanus Snow di film The Hunger Games: The Ballad of Songbirds & Snakes
via Lionsgate

Tapi layaknya sebuah film pertama dari sebuah trilogi, ada banyak bagian yang masih menggantung dan pertanyaan tanpa jawaban meski durasinya merupakan yang terpanjang dari seri Hunger Games. 

Meski jauh dari segi aksi, film The Hunger Games: The Ballad of Songbirds and Snakes tampil cukup kuat sebagai pondasi sebuah trilogi. Memberi cerita baru bagi penggemar Hunger dengan lebih banyak drama dalam perjalanan panjang Coriolanus Snow yang penuh dengan pengkhianatan. 

Genre: Petualangan Aksi

Sutradara: Francis Lawrence

Penulis Naskah: Michael Lesslie, Michael Arndt, Suzanne Collins

Pemain: Rachel Zegler, Tom Blyth, Viola Davis

Avatar photo
Padli Nurdin

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.

Articles: 853

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *