Review Film Terlalu Tampan (2019) – Absurditas Kocak dengan Pesan ‘Zaman Now’

ulasan film terlalu tampan

Terlalu Tampan membuka awal bulan ini dengan nuansa absurd, sesuai dengan komiknya yang sudah lebih dulu terkenal di Webtoon. Diangkat dari komik berjudul sama karya Muhammad Ahmes Avisiena Helvin (Mas Okis) dan Savenia Melinda Sutrisno (SMS), film ini memberikan nuansa ‘lebay’, ‘receh’, serta ‘absurd’ sama dengan yang kita temukan pada versi komiknya. Menyasar generasi milenial, film Terlalu Tampan juga menghadirkan pesan untuk menghargai diri sendiri dalam balutan komedi romantis khas masa kini.

Mengisahkan tentang Witing Tresno Jalaran Soko Kulino, atau biasa dipanggil dengan Mas Kulin (Ari Irham), adalah seorang remaja yang terlahir dari keluarga yang “terlalu tampan.” Trauma dengan ketampanannya yang membuatnya sering dikejar wanita, termasuk ibu-ibu, ia pun memilih untuk homeschooling dan mengabiskan waktunya di dalam kamar.

Takut anaknya tumbuh sendirian di dalam rumah, Pak Archewe (Marcellino Lafrand) dan Bu Suk (Iis Dahlia) mulai menyusun rencana untuk membuat Mas Kulin bersekolah di sekolah biasa. Cerita pun berkembang di mana Mas Kulin setuju untuk masuk ke sekolah khusus laki-laki. Dari awal sampai akhir film, penonton akan disuguhkan dengan masalah yang dihadapi Mas Kulis karena ketampannya dan keinginannya untuk mendapatkan kehidupan yang normal layaknya laki-laki seusianya.

Calvin Jermy dan Ari Ilham ulasan film terlalu tampan
via Visinema Pictures

Bagi pembaca serial ini, ada beberapa perbedaan dari versi komik yang bisa kalian temukan. Misalnya karakter Mas Kulin yang pada seri web merupakan anak pertama dari pasangan Pak Archewe dan Bu Suk, sedangkan dalam versi filmnya Mas Kulin adalah adik dari Mas Okis yang diperankan oleh Tarra Budiman.

Meskipun kisah yang sedikit berbeda dengan versi komiknya, perbedaan tersebut dibuat untuk membuat alur yang sedikit baru bagi penonton guna menyingkirkan plot yang ‘mudah tertebak’. Dan memang, perubahan karakter Mas Okis yang awalnya menjadi adik dalam versi komik dibuat lebih dewasa untuk menjadi sosok ‘Merlin’ yang membantu Mas Kulin dalam mengatasi masalah ketampanan wajahnya.

Selain itu, ketika serial komik yang mencapai 100 episode itu juga menceritakan tentang latar belakang anggota keluarga tampan yang lain, film Terlalu Tampan lebih fokus dengan masalah yang dihadapi oleh Mas Kulin dalam kehidupan sekolahnya. Sedangkan kisah keluarganya ditampilkan lewat beberapa flashback dengan kutipan asli dari komiknya untuk menyingkat durasi menjadi 106 menit.

review film Terlalu Tampan
via Visinema Pictures

Sepanjang cerita, penonton akan dibawa memahami masalah yang dialami oleh Mas Kulin dengan ketampanannya yang menyiksa. Ternyata, memiliki rupa yang di atas rata-rata tidak selalu membahagiakan. Mulai dari ketidakbebasan keluar rumah, kesulitan mencari teman, hingga masalah percintaan. Memang masalah apa yang bisa dialami oleh mereka yang terlalu tampan?

Perjalanan Mas Kulin yang mendambakan kehidupan normal ini dibalut dengan humor jayus tetapi tetap bisa membuat kita tersenyum. Dengan segala keabsurdan dan komedi receh (namun mengena) khas masa kini, rangkaian cerita yang disajikan dari awal hingga akhir tetap mengalir dengan dinamis.

Bahkan jika dilihat lagi, dinamika karakter hingga plot yang disajikan membentuk kesatuan yang cukup padat. Naik turunnya karakter utama yang tidak selamanya good boy juga tersaji. Jika diibaratkan, alur film Terlalu Tampan meluncur di jalan lurus, sedikit berbelok, namun dengan pace yang lancar dan dinamis.

review film terlalu tampan
via Visinema Pictures

Pengunaan special effect juga patut mendapatkan perhatian lebih, mengingat film ini menggunakan banyak tambahan efek untuk menguatkan kesan hiperbola cerita yang beberapa di antaranya masih menggunakan ‘desain’ komik. Walaupun harus diakui jika beberapa adegan dengan tambahan CGI tidak terlalu mulus, tetapi di luar itu, penggunaan CGI cukup membantu menghadirkan pesona ketampanan Mas Kulin dan mendukung karakteristik yang kuat pemeran lainnya.

Tentu saja, masih ada celah yang terlihat ketika menonton film ini. Sebut saja sebagian kecil logika yang tidak konsisten – meskipun menjunjung tinggi seni absurditas serta hiperbola yang mirip dengan serial komiknya – yang seringkali mengundang tanya. Tidak terlalu banyak memang, namun sedikit mengganggu jika ingin menghayati cerita lebih dalam.

ulasan film terlalu tampan
via Visinema Pictures

Dengan komedi yang menghibur dan cerita yang mudah dicerna, ada beberapa pesan mendalam yang tersirat untuk generasi muda saat ini. Seperti menghargai semua yang kita punya. Mungkin saja rumput tetangga terlihat lebih hijau, namun kita tidak tahu apa yang dirasakan pemiliknya. Sebagaimana ketampanan yang seringkali disebut sebagai anugerah, bagi Mas Kulin hanya mengundang masalah.

Dan dibalik itu semua, Mas Kulin yang memiliki ketampanan yang didambakan oleh setiap lelaki masih harus bekerja keras untuk mendapatkan orang yang ia inginkan. Dunia memang tidak selalu menjadi mudah hanya karena rupa.

Secara keseluruhan, kesan yang diberikan tidak hanya dibuat khusus untuk penggila komiknya, namun juga sebagai sarana memperkenalkan dunia Terlalu Tampan pada penonton baru. Jadi, bukan masalah jika kalian belum membaca Webtoon-nya. Karena film ini menampilkan versi lain – yang berbeda dari versi Webtoon – tapi tetap memberikan rasa yang sama ketika membaca karya orisinalnya.

Rating: 3,5/5

Genre: Komedi Romantis

Sutradara: Sabrina Rochelle Kalangie

Penulis: Nurita Anandia W. (script writer), Sabrina Rochelle Kalangie (script writer)

Bintang: Ari IrhamNikita WillyRachel Amanda, Calvin Jeremy

Review Overview
  • Rating Film
3.5

Kesimpulan

Sesuai dengan komiknya yang sudah lebih dulu terkenal di Webtoon karya Muhammad Ahmes Abisiena Helvin (Mas Okis) dan Savenia Melinda Sutrisno (SMS), film ini memberikan nuansa ‘lebay’, ‘receh’, serta ‘absurd’ yang sama dengan yang kita temukan pada versi komiknya. Sebagai film yang menyasar generasi milenial, Terlalu Tampan menghadirkan pesan untuk menghargai diri sendiri dalam balutan komedi romantis khas masa kini.

Sending
User Review
( votes)
Padli Nurdin

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.