Film Retribution kembali menghadirkan Liam Neeson sebagai seorang ayah yang harus melakukan segalanya untuk melindungi keluarganya. Tanpa adegan aksi yang menegangkan dan dialog cheesy, film ini terasa layaknya film indie yang tak dikerjakan dengan hati.
Sinopsis film Retribution
Meski menjadi seorang pengelola keuangan yang sukses, Matt Turner (Liam Neeson) punya keluarga yang berantakan. Dengan istri yang ingin bercerai darinya, akhirnya mengantarkan anaknya Zach (Jack Champion) dan Emily (Lilly Aspell) ke sekolah.
Ia menemukan sebuah smartphone jadul di mobilnya ketika nomor tidak dikenal menelpon ke smartphone tersebut. Ketika diangkat, seseorang dengan suara yang disamarkan menyebutkan bahwa kursi mobilnya telah dipasang bom dan akan meledak jika ia berdiri dari tempat duduk.
Pengancam tersebut meminta agar ia mencairkan dana darurat perusahan yang hanya bisa dilakukan olehnya dan rekannya, Anders (Matthew Modine). Tak tanggung-tanggung, ia meledakkan mobil salah satu rekan kerja Matt dan membuat Matt dituduh atas serangkaian ledakan tersebut.
Karakter ‘nyaman’ Liam Neeson
Liam Neeson kembali menjadi sosok bapak-bapak pemarah yang ingin melindungi keluarganya dari (lagi-lagi) orang tak dikenal dengan ancaman melalui telepon. Terkesan familiar? Yah, tak jauh berbeda seperti film-film Liam setelah Taken (2018) tampaknya.
Tak ada yang salah dengan Liam yang (mungkin) ingin mendapatkan karakter yang mudah didalaminya. Apalagi di umurnya yang baru menginjak 71 tahun bulan Juni lalu, kakek satu ini masih terlihat fit untuk menjadi aktor film laga yang intens. Hanya saja eksekusi mengacaukan segalanya.
20 menit pertama dibawakan dengan cukup apik, menjanjikan sebuah film thriller yang intens dan menegangkan. Tapi setelah itu, film ini layaknya seri aksi tanpa nyawa. Plotnya menyajikan banyak pertanyaan yang tak kunjung mendapatkan jawaban sampai film berakhir.
Naskahnya dipenuhi dialog cheesy dan kebanyakan interaksi tak penting yang sebenarnya bisa langsung dipangkas. Ditambah dengan kualitas CGI yang tak seberapa, tapi jelas mengindikasikan bahwa film ini dibuat tanpa budget yang besar.
Hanya ada enam karakter utama yang ada di dalam film ini. Semuanya tenggelam di tengah pusaran karisma Liam Neeson. Tak ada yang benar-benar menarik dan mencuri perhatian. Praktis tanpa emosi yang believable.
Dan hampir di sepanjang film, Liam hanya duduk di belakang kemudi. Fokus pada emosi yang disampaikan lewat gestur dan mimik wajahnya. Bahkan The Ice Road (2021) punya lebih banyak aksi dan variasi akting di mana ia berperan sebagai pengemudi truk melintasi jalur es yang berbahaya.
Film aksi klise
Film ini merupakan remake ketiga dari film Spanyol berjudul asli El desconocido (2015). Sebelumnya, sudah ada dua remake dari Jerman (2018) dan Korea Selatan (2021). Sehingga mengadopsi cerita lama dengan gaya baru mungkin terasa lebih rumit.
Pace yang berantakan dan cerita yang membosankan jadi masalah terbesar film Retribution. Puncaknya dialog yang bertele-tele di penghujung film membuat aksi thriller ini terasa sangat melelahkan. Ditambah dengan karakter yang diperankan oleh Liam sepertinya tak banyak berubah.
Turner memang bukan karakter utama yang suci. Meski terlihat menyembunyikan sesuatu, ia berusaha untuk menyelamatkan anak dan istrinya. Premis yang mungkin sangat lekat dengan karakter-karakter lain yang dimainkan oleh Liam.
Gaya penyutradaraan Nimród Antal penuh dengan ledakan dan kejar-kejaran dengan mobil yang menghiasi 91 menit film berjalan. Namun semuanya terasa klise yang tak ubahnya seperti action flick tahun 2000-an.
Film Retribution menyenangkan bagi penggemar Liam Neeson yang ingin melihat kakek satu ini marah-marah dan kembali mengejar orang yang ingin mengganggu keluarganya. Selain itu, semuanya mengikuti standar film aksi TV movie, jauh dari kualitas blockbuster Hollywood.
Genre: Aksi Thriller
Sutradara: Nimród Antal
Penulis Naskah: Chris Salmanpour
Pemain: Liam Neeson, Matthew Modine