Steven Spielberg memiliki andil besar dalam perkembangan pop culture (budaya populer) dunia lewat film-film ikonik yang ditanganinya dan kali ini sang maestro mempersembahkan Ready Player One, sebuah film yang menggabungkan berbagai ikon pop culture di dalamnya. Mulai dari ikon dalam film, games, musik hingga anime ditampilkan dengan cerita yang sangat menarik sehingga menjadikan film ini seperti persembahan yang manis dari Spielberg untuk para pecinta pop culture.
Ready Player One merupakan film adaptasi novel yang berjudul sama karya Roman van Ernest Cline. Film ini berseting pada tahun 2045 di mana sebuah permainan virtual reality yang bernama Oasis memegang peranan besar terhadap ekonomi dunia. Bagaimana tidak, orang-orang lebih sering menghabiskan waktu, tenaga dan uang untuk bermain di dalam Oasis daripada di dunia nyata. Di Oasis, mereka bisa menjadi apa yang mereka inginkan.
Hingga suatu waktu sang pencipta permainan tersebut, James Halliday, di akhir hayatnya mengumumkan sebuah event yang pemenangnya akan diberikan kendali penuh terhadap Oasis. Sang tokoh utama Wade Watts (Tye Sheridan) dengan username Parzival bersama teman-temannya, Art3mis (Olivia Cooke), Aech (Lena Waithe), Daito (Win Morisaki) dan Sho (Philip Zhao) berusaha memenangkan event tersebut dengan mencari tiga kunci yang akan menuntun mereka ke sebuah easter egg.
Mungkin premisnya cukup sederhana, namun berkat teka-teki, twist, dan kemunculan berbagai macam referensi budaya populer membuat film ini sangat menyenangkan dan mudah dinikmati dari awal hingga akhir, terutama bagi penonton yang menyukai budaya populer tersebut.
Berbagai macam referensi budaya populer baik dari tahun 70an, 80an maupun budaya populer yang pada saat sekarang ini ditampilkan di sepanjang film sehingga kamu harus mengetahui banyak referensi budaya populer untuk bisa menikmati film ini dengan maksimal.
Tapi, hal ini juga menimbulkan gangguan kecil ketika mentonton. Ada kalanya perhatian menjadi terganggu karena menebak-nebak referensi pop culture apa yang sedang ditampilkan. Jadi dapat dikatakan ketika menikmati film yang bercerita tentang pencarian easter egg ini, penonton juga akan disibukkan dalam pencarian easter egg yang disajikan untuk mereka di sepanjang film.
Lalu apakah Ready Player One tidak bisa dinikmati oleh penonton yang tidak memiliki pengetahuan banyak tentang referensi pop culture yang ditampilkan? Tidak juga. Tanpa pengetahuan yang memadai tentang referensi budaya populer itu, film ini tetap menghibur dengan alur cerita yang menarik, humor yang lucu dan berbagai adegan keren yang ditampilkan dengan visual efek yang memukau. Selain itu, para cast juga tampil dengan akting yang sangat bagus, terutama Tye Sheridan, Olivia Cooke dan Ben Mendelsohn sebagai villain di film ini.
Lalu, Ready Player One mungkin juga bisa menjadi pintu bagi mereka yang tertarik untuk mengenal lebih banyak tentang ikon budaya populer yang ditampilkan di dalam film. Asalkan mereka tidak dihalang-halangi dengan “gatekeeping” dari penonton yang merasa lebih dulu menjadi fans dengan kalimat seperti “jangan merasa telah jadi fans film, franchise, musik, atau game ini jika kamu baru mengenalnya dari film Ready Player One”.
Namun, banyaknya easter egg dari berbagai pop culture itu bukan satu-satunya kelebihan dari film ini. Ready Player One juga menampilkan cerita yang menggambarkan kondisi budaya populer saat ini dimana berkat internet orang-orang lebih suka menghabiskan waktu lewat avatar mereka daripada berinteraksi langsung. Film ini ingin menyampaikan pesan bahwa para nerds dan geeks tidak harus selalu terpaku dengan “tempat pelarian” mereka dan mengabaikan dunia nyata tanpa menggurui penonton.
Film ini juga ingin menunjukkan bahwa pop culture hakikatnya diciptakan untuk dinikmati para penikmatnya bukan untuk dieksploitasi demi keuntungan materi semata. Semua hal itu berhasil disampaikan tanpa menggurui para penonton dan hal ini membuat film ini sangat menyenangkan.
Namun film ini bukan tanpa celah. Ada beberapa kekurangan minor yang saya rasakan. Steven Spielberg terlalu banyak menggunakan narasi eksposisi untuk mengantarkan cerita bahkan beberapa hal yang bisa dijelaskan secara visual juga dijelaskan lewat narasi tersebut.
Selain itu, urgensi manusia melarikan diri ke Oasis tidak terlalu terasa. Kesusahan yang dialami Wade di dunia nyata yang membuatnya betah di Oasis hanya ditampilkan sedikit saja.
Secara umum Ready Player One adalah film yang layak untuk ditonton, baik itu bagi penggemar budaya populer maupun bagi yang tidak.
Film ini sedang tayang di bioskop-bioskop Indonesia.