Review Film Rambo: Last Blood (2019): Terlalu Mudah Bagi Juanito Rambo

cover film Rambo: Last Blood

Setelah lebih dari 10 tahun, John J. Rambo kembali hadir dengan cerita yang lebih menyentuh di masa tuanya. Film Rambo: Last Blood adalah instalansi kelima sang veteran Amerika yang berusaha mengubur masa lalunya yang kelam. Di film ini, sosok Rambo dibuat lebih manusiawi dengan menggali semua trauma paska perang yang dialaminya.

Dalam film kelimanya, John Rambo dikisahkan hidup tenang di sebuah peternakan kuda bersama Maria, asisten rumah tangga dan Gabriella, anak Maria yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Setelah perperangan yang dilaluinya, dia menderita PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). Inilah yang membuatnya mencari ketenangan dalam kehidupan barunya di peternakan.

Sylvester Stallone memegang senapan
via Lionsgate

Gabriella yang ditinggal ayahnya mengetahui bahwa sang ayah berada di Meksiko. Meskipun dilarang, dia kabur dan mencari ayahnya. Rambo yang menyadarai hal tersebut melintas ke Meksiko dan mengetahui bahwa Gabriella disekap oleh kartel Meksiko untuk dijadikan wanita penghibur. Dan cerita pun berlanjut dengan aksi Rambo menyelamatkan Gabriella.

Dibuat lebih humanis

Memang Stallone sendiri mengungkapkan bahwa film Rambo tidak bersifat politis, tapi banyak yang menyakini adanya hubungan Rambo dengan masalah kepentingan Amerika. Rambo I hingga IV mempertontonkan perjuangan prajurit Paman Sam melalui perang melawan negara lain, seperti Vietnam hingga Rusia di Afghanistan.

drama dalam film Rambo: Last Blood
via Lionsgate

Tapi dibandingkan tiga film pertama yang membuatnya menjadi jagoan perang, Rambo IV lebih memperhatikan sisi kemanusiaan karakter fiksi ini. Dan di film Rambo: Last Blood, John Rambo lebih manusiawi dengan mengikuti perasaan ‘kebapakkan’ ketika Gabriella diculik dan membalaskan dendam atas kejadian yang menimpa Gabriella.

Sylvester Stallone dan Yvette
via Lionsgate

Last Blood yang mengandalkan karakter Rambo yang macho serta kesan Western dengan kuda, jeans, dan topi koboi. Tapi di satu sisi, ia menderita trauma paska perang. Dan ketika Gabriella diculik oleh kartel Maksiko, film ini pun mengungkapkan bagaimana Rambo terlihat lebih tenang ketika menghadapi perperangan yang baru. Peace doesn’t suit him though.

Adegan aksi penuh darah

Istilah ‘Rambo’ saat ini masuk ke dalam bahasa dan digunakan secara umum untuk menggambarkan seseorang yang ceroboh, mengabaikan perintah, dan menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Maka jangan heran jika melihat film ini penuh dengan adegan aksi yang berdarah-darah.

Sylvester Stallone memegang penjahat
via Lionsgate

Tak terlihat sesuai dengan umurnya, Stallone – saat ini berusia 73 tahun – masih memiliki badan yang tegap. Ada banyak adegan aksi diperlihatkan oleh Rambo di film terakhirnya ini. Penonton akan dibuat gemas dengan bagaimana cara Rambo membalaskan dendam dan membunuh lawan-lawannya.

Tapi jangan kira film ini akan menunjukan adegan pertarungan aksi bela diri layaknya The Expendables. Sama seperti film-film sebelumnya, penonton akan disajikan dengan adegan dimana Rambo membunuh lawannya satu per satu dengan berbagai peralatan, seperti pistol, pisau, panah, hingga jebakan-jebakan lainnya.

Act III yang terlalu mudah

Plot yang dibangun dengan apik dari awal hingga mencapai klimaksnya cukup menyenangkan untuk ditonton. Tapi sayangnya, ada banyak kesamaan alur yang entah kenapa mudah ditebak. Alur cerita terasa seperti pengulangan film-film Rambo sebelumnya.

Sylvester Stallone
via Lionsgate

Salah satunya bagaimana sang Rambo mampu mengalahkan lawan-lawannya dengan sangat mudah di akhir cerita. Di satu sisi, Third Act menunjukan bagaimana kepiawaian dan pengalaman Rambo selama 30 tahun membuatnya terlalu superior dibandingkan lawan-lawannya. Don’t mess with the old man! Satu per satu bertumbangan, layaknya dalam tiga film Rambo ketika ia masih muda.

Tapi sebaliknya, keunggulan Rambo membuat bagian akhir menjadi tak begitu menegangkan. Penonton dibuat yakin bahwa ia mampu menghabisi sekelompok penjahat sendirian. Dan hasilnya? Sangat mudah bagi sang legenda perang untuk kembali ke habitatnya. Dan di akhir cerita, sebagian mungkin akan bertanya-tanya, udah nih?

Ekspektasi besar memang telah menunggu akhir cerita yang diprediksi sebagai penutup kisah Rambo. Tapi tak ada yang baru dari segi cerita dengan plot. Walaupun di ahir cerita penonton akan diajak bernostalgia dengan beberapa adegan yang diambil dari film pertama hingga keempat.

Sylvester Stallone di depan kuburan
via Lionsgate

Secara keseluruhan, film Rambo: Last Blood kembali menyajikan penampilan yang berdarah-darah dari John Rambo di masa tuanya. Dibuat lebih humanis, ada perasaan nostalgia yang diberikan dengan alur yang relatif sama. Sayangnya, third act yang lemah membuat film ini masih jauh sebagai penutup waralaba Rambo yang telah melegenda.

Rating: 6/10

Genre: Aksi, Drama

Sutradara: Adrian Grunberg

Penulis: Matthew CirulnickSylvester Stallone

Pemeran: Sylvester StallonePaz VegaYvette Monreal

Review Overview
  • 6/10
    Film yang cukup oke - 6/10
6/10

Summary

Secara keseluruhan, film Rambo: Last Blood kembali menyajikan aksi yang berdarah-darah dari John Rambo di masa tuanya. Dibuat lebih humanis, ada perasaan nostalgia yang diberikan dengan alur yang cenderung sama. Sayangnya, third act yang lemah membuat film ini masih jauh sebagai penutup waralaba Rambo yang telah melegenda.

Sending
User Review
0/10 ( votes)

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.