Review Film Bumi Manusia (2019): Penghormatan untuk Pramudya

TIdak sempurna, tapi cukup merepresentasikan perlawanan khas Pramudya

cover Bumi Manusia

Novel pemberontakan karya Pramudya Ananta Toer yang diterjemahkan dalam 33 bahasa akhirnya bertransformasi ke layar lebar. Tak mudah menggambarkan dengan konkret alur serta karakter yang beragam dalam versi aslinya. Tapi film Bumi Manusia yang dikepalai oleh Hanung Bramantyo sukses membawa kisah Minke dan Nyai Ontosoroh sebagai bentuk perlawanan dan persatuan bangsa Indonesia.

Bumi Manusia merupakan bagian dari Tetralogi Pulau Buru yang tercipta ketika Pramudya ditangkap selama 14 tahun sebagai tahanan politik. Seringkali disebut sebagai ‘dokumentasi’ perlawanan bangsa Indonesia, novel ini menceritakan tentang Minke, seorang anak Bupati yang bersekolah di HBS, sekolah khusus anak-anak keturunan Belanda.

Iqbaal Ramadhan di film Bumi Manusia
via Falcon Pictures

Karena kesempatan mengenyam pendidikan, Minke tumbuh sebagai sosok revolusioner. Pada awalnya mengagung-agungkan ilmu pengetahuan Eropa, dia mengerti bahwa penjajahan yang dilakukan di negerinya merampas hak-hak bangsa Indonesia, “menjadi tamu di negeri sendiri”.

Minke bertemu dengan Nyai Ontosoroh dan keluarganya, termasuk anaknya Annelies Mellema. Kisah cinta Minke dan Annelies terhalang akibat Annelies yang berdarah Indo-Belanda. Cerita berlanjut ketika Nyai Ontosoroh dituduh sebagai pelaku tindakan kriminal. Perjuangan Minke dan Nyai Ontorosoh berkembang menjadi perjuangan bangsa Indonesia melawan peraturan yang menguntungkan pemerintah dan bangsa Belanda.

Tiga Jam untuk 535 Halaman

Durasi menjadi hal yang krusial ketika harus menyalurkan karya Pramudya yang penuh dengan berbagai konflik serta karakter dalam bentuk nyatanya. Bayangkan menerjemahkan ribuan kata-kata syahdu setiap peristiwa yang terjadi di dalam novel karya penulis kelahiran 6 Februari 1925 ini menjadi gambar dan adegan yang memesona.

Salah satu masalah yang sering dialami oleh film yang diadaptasi dari novel maupun komik adalah keterbatasan waktu untuk menjelaskan semua kejadian dalam durasi film yang kebanyakan di bawah 2 jam. Untuk itu, sang sutradara dan penulis naskah harus menghilangkan beberapa adegan untuk memangkas waktu penayangan.

Iqbaal Ramadhan dan Mawar de Jongh
via Falcon Pictures

Tapi untungnya, durasi 181 menit cukuplah untuk menikmati perjalanan Minke dan Anneleis Mellema serta sang ibu Nyai Ontosoroh melawan penindasan Belanda dalam film ini. Meskipun ada beberapa kejadian maupun penjelasan karakter yang dipangkas, tapi film Bumi Manusia tetap memberikan esensi perlawanan Indonesia pada masa itu.

Tema Nasionalis dan Feminis

Ada banyak tema dan perjuangan yang ditawarkan oleh Pramudya serta dikonversi oleh Hanung dalam film ini. Perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, modernisasi, hingga masalah hukum menghiasi perjuangan perjuangan romansa Minke dan Annelies. Tapi sepanjang cerita, tema nasionalis dengan keberagaman bangsa Indonesia serta perjuangan wanita di masa kolonial patut menjadi perhatian lebih.

Melalui tokoh Minke dan Nyai Ontosoroh – yang diperankan dengan sangat memesona oleh Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan dan Sha Ine Febrianti – dari novel aslinya, film Bumi Manusia menuturkan pemikiran Pramudya mengenai ketertindasan bangsa Indonesia dan perempuan di zaman penjajahan.

pemeran wanita dalam Bumi Manusia
via Falcon Pictures

Tidak hanya menonjolkan peristiwa penting dalam cerita, kesan perjuangan juga terlihat dalam percakapan antar karakter. Kutipan-kutipan emas milik Pramudya terjadi dalam dialog yang tersebar di sepanjang cerita. Tapi bagi yang ingin mendapatkan keutuhan tutur serta berimajinasi dalam kata-kata ciptaan Pramudya, tak ada salahnya membaca versi novel aslinya.

Karakter yang beragam

Bumi Manusia karya Pramudya memang sudah kolosal dari novelnya. Memperkenalkan masa penjajahan Belanda antara tahun 1989 hingga 1918 yang menjadi masa munculnya pemikiran politik etis dan kebangkitan nasional, film ini memiliki 22 karakter yang hadir sepanjang cerita.

Mulai dari keberagaman bangsa Indonesia sendiri, dari Jawa dan Madura yang sesuai dengan setting film ini, bangsa Tionghoa dan Arab, serta orang-orang Belanda datang dengan budaya dan bahasanya sendiri, Bumi Manusia turut menggandeng nama-nama besar film Indonesia. Seperti Donny Damara, Ayu Laksmi, Kin Wah Chew hingga Christian Sugiono.

Iqbaal Ramadhan sebagai Minke
via Falcon Pictures

Melalui film ini, kita bisa melihat bagaimana keberagaman bangsa Indonesia di masa kolonial hingga yang mungkin terlupa di zaman modern ini. Tema kebangsaan menjadi salah satu tema yang diangkat dengan lugas dan mempengaruhi jalan cerita dari awal hingga akhir.

Keberagaman bukan hanya terlihat dalam bentuk bangsa dan keadaan sosial., tapi kepribadian. Ada masyarakat pribumi yang pemberani dan setia, ada pula yang tega menjual anaknya. Karakter berdarah campuran Indonesia-Belanda menonjolkan perbedaannya masing-masing; karakter yang menginginkan darah Eropa-nya serta mereka yang ingin menjadi ‘pribumi’.

Tanpa mengesampingkan peran Minke dan Annelies dalam film ini, Sha Ine mampu membius dengan karakter Nyai Ontorosoh yang menunjukan ketegaran serta sikap tak mau menyerah dari perempuan Indonesia kala itu. Penggambaran karakter yang ibu yang tegas, menantang kelas sosial serta masalah yang terjadi di keluarganya.

Mawar de Jongh sebagai Annelies
via Falcon Pictures

Walaupun tidak semua karakter diperkenalkan lebih jauh. Masalah durasi lagi-lagi menghalangi. Seperti beberapa karakter yang menonjol dan menjadi bagian penting dalam novelnya hanya dijelaskan sedikti. Meskipun masih memberikan esensi yang sama, seperti karakter Jean Marais yang menjadi teman setia Minke dalam cerita novel dan filmnya.

Memang susah menyajikan film yang diangkat dari novel yang sudah memiliki nama besar dan diakui sebagai salah satu karya terbaik sastrawan yang berpengaruh di Indonesia itu. Namun hal tersebut tampaknya bisa dikonversi menjadi tontonan yang apik, tanpa meninggalkan akar dari novelnya sendiri.

Karakter yang kuat dengan padatnya cerita yang cukup menggambarkan versi novelnya membuat Bumi Manusia mendapatkan adaptasi yang memuaskan. Kekuatan Pramudya, yaitu perlawanan terhadap penindasan serta keinginan untuk merangkul kemajuan zaman tanpa melupakan adat dan budaya bisa terlihat sepanjang film. Film Bumi Manusia bisa menjadi tontonan yang pas untuk mempersatukan di bulan kemerdekaan ini.

Rating: 4/5

Genre: Drama, Sejarah

Sutradara: Hanung Bramantyo

Penulis Naskah: Salman Aristo

Pemeran: Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan, Mawar Eva de Jongh,
Sha Ine Febriyanti

Review
  • Review Film
4

Summary

Karakter yang kuat dengan padatnya cerita yang cukup menggambarkan versi novelnya membuat Bumi Manusia mendapatkan adaptasi yang memuaskan. Kekuatan Pramudya, yaitu perlawanan terhadap penindasan serta keinginan untuk merangkul kemajuan zaman tanpa melupakan adat dan budaya bisa terlihat sepanjang cerita. Film Bumi Manusia bisa menjadi tontonan yang pas untuk mempersatukan di bulan kemerdekaan ini.

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.