Akhirnya, The Catcher in the Rye Milik J.D. Salinger Hadir dalam Bentuk e-Book

cover buku The Catcher in the Rye

Salah satu novel paling berpengaruh sepanjang sejarah, The Catcher in the Rye karya J.D. Salinger akhirnya diterbitkan dalam bentuk ebook. Tidak hanya itu, beberapa karya Salinger lainnya akan diadaptasi dalam bentuk digital untuk memperkenalkan karya legendaris Amerika pada pembaca yang lebih muda.

Langkah ini merupakan bagian dari pameran yang lebih luas tentang hasil karya Salinger. Selain itu, untuk memperingati kehadiran penulis kelahiran Manhattan 100 tahun lalu itu, pameran yang dilakukan oleh New York Public Library akhir tahun nanti akan menampilkan pilihan surat, foto, dan barang-barang antik milik Salinger.

J.D Salinger dan ebook The Catcher in the Rye
via Salon

Selain ebook The Catcher in the Rye, karya lain Salinger seperti Nine Stories; Franny and Zooey; Raise High the Roof Beam, Carpenters; dan Seymour: An Introduction dirilis pada Selasa, (13/8). Sebelumnya, warisan Salinger masih belum bisa dikonversikan dalam bentuk ebook, terutama karena putranya Matt Salinger bertindak sebagai ahli waris karyanya.

“Ini adalah chip terakhir yang jatuh dalam hal karya klasik,” Terry Adams, wakil presiden, penerbit digital dan paperback dari Little, Brown, mengatakan kepada Times. “Semua karya lain dari penulis abad ke-20 utama telah pindah ke ebook, tetapi Matt sangat berhati-hati.”

Salinger yang meninggal 2010 silam pada usia 91 tahun, menerbitkan karya terakhirnya pada tahun 1965. Sang penulis kenamaan Amerika tersebut memilih untuk tidak melakukan wawancara dan menghindar dari media sejak 1980. Dia bersama keluarganya memilih untuk menghindar dari atensi publik dan menolak untuk penerbitan ulang atau versi e-book dari bukunya.

Matt Salinger
Matt Salinger via The New York Times

Sebelumnya, Matt Saling masih mempertimbangkan keputusan untuk mengadaptasi dan membuat ebook The Catcher in the Rye. Semua berubah setelah dia menerima surat dari seorang wanita yang mengalami kecacatan dan tidak bisa membaca buku cetak.

Dalam perjalanannya ke Cina awal tahun ini, Matt menyadari banyaknya anak muda di luar negeri membaca buku secara eksklusif di smartphone dan tablet. Setelah itu, dia menyadari bahwa membuat buku digital adalah salah satu cara untuk mempertahankan warisan dan karya Salinger di masa depan.

“Saya mendengar suaranya dengan jelas di kepala saya, dan tidak ada keraguan dalam pikiran saya tentang 96 persen keputusan yang harus saya buat, karena saya tahu apa yang dia inginkan,” Matt Salinger mengatakan kepada New York Times. “Hal-hal seperti ebook dan buku audio itu sulit, karena dia jelas tidak menginginkannya.”

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.