fbpx

Review Film Aladdin (2019): Menyenangkan, Tapi Masih Jadi yang Kedua

If it ain’t broke, don’t fix it.

review film Aladdin indonesia

Film Aladdin merupakan salah satu animasi Disney yang populer di era 90-an. Ketika Disney berencana untuk membuat live action Aladdin, banyak yang tidak menerima bahkan menolak rencana tersebut. But hey, we can give them a chance. Namun sayangnya, Disney tidak bisa memanfaatkan kesempatan untuk memberikan film baru yang lebih berkesan di hati penontonnya.

Salah satu risiko memproduksi kembali film yang pernah tenar di masanya (untuk Aladdin, ketenarannya masih terasa hingga saat ini) adalah mampu atau tidaknya menghadirkan sesuatu yang bisa menyaingi pendahulunya. Entah dari segi cerita, karakter, scene yang mengagumkan, atau pesan yang disampaikan. Untuk film Aladdin, bisa dibilang live action-nya tidak mampu menyamai atau melebihi kartunnya. Seperti yang terjadi pada live action Dumbo.

review film Aladdin dan Putri Jasmine
via Walt Disney Pictures

Masih mengandalkan cerita yang sama dengan versi 1992 yang diperankan oleh Robin Williams, Scott Weinger, dan Linda Larkin, edisi ‘manusia’ dari film ini seperti kurang menyihir. Meskipun begitu, film ini masih menampilkan cerita yang menyenangkan untuk diikuti serta lagu-lagu yang tak kalah dengan versi aslinya.

Cerita romantis komedi khas Disney

Salah satu hal yang berhasil dipertahankan oleh Disney adalah cerita romansa Aladdin dan Putri Jasmine yang tetap mengesankan. Cerita legendaris pencuri yang terpikat dengan kecantikan seorang putri dan rela melakukan segala cara agar bisa diterima oleh keluarga sang Putri dibawa dengan apik oleh Naomi Scott dan Mena Massoud.

ulasan film aladdin
via Walt Disney Pictures

Tidak begitu ‘whole new world’, tetapi Naomi Scott dan Mena Massoud mampu mengkreasikan kembali adegan dimana Aladdin mengajak Putri Jasmine untuk berjalan-jalan menggunakan karpet terbang. Menikmati indahnya terbang berduaan mengelilingi Agrabah sembari bernyanyi di bawah cahaya bulan.

Formula yang dipakai masih tetap sama. Tentu saja tidak apa-apa. Mengingat sebagian besar cerita romansa Disney menggunakan plot ini. Dengan semua karakter dan cerita yang diberikan, Aladdin masih menjadi film yang cukup menyenangkan untuk ditonton.

Perubahan dari animasi ke musikal

Mengubah film animasi menjadi karakter manusia adalah tantangan tersendiri. Dan Aladdin pun tak bebas dari masalah ini. Film ini memang diperankan oleh aktor sungguhan, tetapi beberapa bagian diwujudkan lewat CGI, seperti Abu, si monyet pencuri dan si Harimau milik Putri Jasmine. Untuk film live action, tingkah laku keduanya masih terlihat bergaya kartun demi menghasilkan adegan komikal dalam film ini.

review live action Aladdin
via Walt Disney Pictures

Guy Ritchie yang dikenal sebagai orang dibalik dua instalasi film Sherlock Holmes yang diperankan Robert Downey Jr. dan Jude Law masih tertatih mengarahkan film ini menjadi film musikal Disney yang sangat menyenangkan. Beberapa lagu baru diperkenalkan, tetapi tidak semuanya bisa menyaingi lagu-lagu animasi pertama yang melekat di ingatan.

Ada bagian yang cukup menggelitik dari masukan musikal untuk film ini. Memang lagu ‘Speechless’ yang dinyanyikan sendiri oleh Naomi Scott sangat bertenaga, tapi memasukkannya ke dalam plot yang sedang menanjak sedikit mengganggu. Terkesan seperti sebuah video musik di tengah-tengah film. Cukup awkward untuk mengantarkan raising action menuju klimaks.

Cerita tiruan dengan karakterisasi “baru”

Tak ada yang baru dari cerita yang disajikan. Sama seperti versi aslinya, Aladdin digambarkan sebagai seorang pencuri bersama monyetnya di kerajaan Agrabah yang bertemu dengan Putri Jasmine. Mendapatkan lampu berisikan Genie yang bisa mengabulkan permintaan, ia pun melawan Perdana Menteri jahat Jafar demi sang Putri. Masih sama tanpa perubahan.

review aladdin 2019
via Walt Disney Pictures

Namun perubahan karakter Putri Jasmine yang dibuat lebih kuat dan memiliki tujuan dibandingkan versi asli yang tidak terlalu mencolok menghadirkan nuansa baru. Tidak hanya sebagai Disney Princess yang menunggu diselamatkan Aladdin, Jasmine mampu memberontak dan menunjukan bahwa wanita juga bisa melakukan sesuatu. She’s got some power, guys.

Bahkan bisa dibilang kuatnya karakter Putri Jasmine sendiri terkesan menutupi karakter Aladdin yang seakan kehilangan jati dirinya. Aladdin yang diperankan Mena Massoud memang memikat sebagai pencuri dengan kemampuan akrobatiknya. Tetapi alur cerita dan backstory Jasmine yang lebih kuat membuatnya mendapatkan lebih banyak simpati di sepanjang cerita.

review film aladdin indonesia
via Walt Disney Pictures

Dan satu lagi, pemilihan Will Smith sebagai suksesor Robin Williams sebagai Genie tidak berlangsung sempurna. Meskipun ia bisa membuat versi Genie miliknya sendiri, tetapi karakteristik khas Robin Williams masih tetap melegenda dan tidak bisa dengan mudah dilupakan.

Bagi mereka yang sudah pernah merasakan penampilan yang diberikan Robin Williams dalam versi animasi pasti sulit menerima Genie selain aktor kawakan tersebut. Sedangkan Will Smith dengan Genie versi hip hop bisa dibilang bukanlah daya tarik film Aladdin. Meskipun perjuangannya menjadikan karakter ini memiliki daya tarik baru patut diacungi jempol. Not bad, but you couldn’t defeat the legend Robin Williams!

CGI hingga kostum yang tak sesuai

Produksi yang tidak sempurna ditambah dengan kostum yang kurang menyatu. Terlepas dari Putri Jasmine yang mendapatkan kostum Disney Princess layaknya seorang putri, pahlawan utamanya malah tidak memiliki kostum yang memadai. Mungkin Disney ingin membuat Aladdin memiliki fashion yang lebih modern, tetapi malah membuatnya kurang sesuai dengan latar waktu cerita. Atau memang wardrobe Disney ingin sesuatu yang beda?

ulasan film Aladdin 2019
via Walt Disney Pictures

Alan Stewart sebagai direktur fotografi malah tidak fokus menangkap akrobatik Aladdin. Aladdin disebut sebagai “Tikus Jalanan” yang melarikan diri dari penjaga karena mencuri. Ia meloncat dari satu rumah ke rumah lainnya. Cuma sayangnya, adegan tersebut tak ditangkap dengan baik dan hanya memberikan gambar yang memusingkan.

Sedangkan divisi visual menjadi masalah lain dalam film Aladdin. Dimana dalam beberapa adegan terlihat dunia Agrabah versi “asli” dan adegan karpet terbang tidak semenarik versi animasinya. Bisa dibilang beberapa bagian tampak seperti pengerjaan editing yang tidak selesai.

Mungkin jika live action Aladdin dibuat lebih dahulu sebelum versi animasinya, akan ada lebih sedikit kritikan terhadap film ini. Namun sayangnya, sebagai bagian dari warisan animasi Disney dan Robin Williams yang selalu diingat oleh generasi ‘80 dan ‘90-an, versi kedua akan selalu dibanding-bandingkan.

Naomi Scott sebagai Putri Jasmine dalam live action Aladdin 2019
via Walt Disney Pictures

Secara keseluruhan, Guy Ritchi masih mampu menghadirkan magical-nya Aladdin, walapun tidak sebagus versi animasinya. Tetapi ada banyak kekurangan yang bisa dilihat dari segi cerita yang tak banyak berkembang hingga CGI yang kurang mengesankan. Namun untuk sebuah film musikal Disney yang mengedepankan tampilan fantastis serta cerita yang ringan namun bermakna, film live action Aladdin tidak terlalu buruk.

Rating: 3/5

Sutradara: Guy Ritchie

Penulis: John AugustGuy Ritchie

Bintang: Will SmithMena MassoudNaomi Scott

Review
  • B aja
3

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Guy Ritchi masih mampu menghadirkan magical-nya Aladdin, walapun tidak sebagus versi animasinya. Tetapi ada banyak kekurangan yang bisa dilihat dari segi cerita yang tak banyak berkembang hingga CGI yang kurang mengesankan. Namun untuk sebuah film musikal Disney yang mengedepankan tampilan fantastis serta cerita yang ringan namun bermakna, film ini tidak terlalu buruk.

Sending
User Review
( votes)

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.