Review Film A Shaun the Sheep Movie: Farmageddon (2019): Untuk Anak-Anak, tapi Bisa Dinikmati Orang Dewasa

Rasanya seperti berpetualang ke peternakan di Inggris!

cover film A Shaun the Sheep Movie: Framageddon

Setelah film pertama tahun 2015 silam, karakter domba cerdas namun usil ini kembali hadir dalam versi layar lebarnya. Film A Shaun the Sheep Movie: Farmageddon datang memberikan cerita yang santai dan bisa dinikmati semua keluarga. Detail dan adegan yang indah serta cerita yang menyenangkan mampu membuat tersenyum selama satu setengah jam penuh.

kelompok domba dalam film Shaun the Sheep
via StudioCanal

Bukan sekuel langsung dari film keluaran empat tahun lalu, Farmageddon diawali dengan sinar-sinar aneh yang muncul di kota kecil Mossingham yang tenang. Fenomena tersebut membuat banyak penggemar alien hingga organisasi rahasia pemerintah turun menyelidiki kabar kemunculan alien tersebut.

Dan ketika alien nakal nan lucu, Lu-La datang ke perternakan Mossy Bottom Farm, dia langsung berkenalan dengan Shaun. Shaun pun menemani Lu-La mencari pesawat luar angkasanya yang hilang. Namun tentu saja tak mudah, karena Shaun dan Lu-La harus berhadapan dengan organisasi rahasia yang ingin menangkap Lu-La.

Mudah diikuti anak-anak

Film stop motion kebanyakan berkisah tentang persahabatan, keluarga, serta petualangan mendebarkan yang menyenangkan. Dan poin-poin tersebut masih bisa ditemukan dalam film ini. Walaupun sedikit bisa diprediksi untuk orang dewasa, tetapi cukup menarik untuk sebuah film yang menargetkan anak-anak sebagai penonton utamanya.

Shaun dan Lu-La
via StudioCanal

Aardman, perusahaan animasi dibalik Farmagedon, yang terkenal dengan Chicken Run (2000), Wallace & Gromit (2005), dan yang terbaru Early Man (2018), menyajikan tayangan yang indah serta detail menakjubkan. Penonton bisa menikmati semua adegan dengan detail rinci, seperti bagaimana bulu-bulu domba bergerak dengan mulus.

Hampir tak ada percakapan di dalam Farmageddon, sehingga semua emosi harus ditampilkan melalui anmasi. Dan tim Aardman mampu melakukannya dengan sangat baik. Plot dan jalannya cerita dibantu dengan gestur karakter serta lagu dan backsound sepanjang dari awal hingga akhir.

Shaun dan Lu-La di peternakan
via StudioCanal

Memang cerita yang diberikan tak terlalu menegangkan atau membuat penasaran. Tapi cukup untuk menarik minat penonton dari awal hingga akhir. Alur cerita mengalir dengan tenang diselingi lelucon-lelucon slapstik yang disenangi anak-anak. Tanpa dialog, hanya beberapa karakter terdengar menggumam seperti berbicara.

Menyenangkan untuk semua umur

Berbeda dengan Good Boys (2019) yang khusus dibuat untuk penonton dewasa, Shaun the Sheep memang ditujukan untuk penonton yang lebih muda. Tapi jangan sangka film ini tak bisa dinikmati oleh orang tua atau penonton dewasa. Versi film menghadirkan cerita yang ringan (dan tentu saja lebih panjang dibandingkan dalam serialnya) dan mudah dimengerti.

Untuk penonton yang lebih tua, ada banyak referensi film dan serial televisi lainnya yang tersebar di sepanjang fllm untuk memikat penonton dewasa. Tak terhitung, sang sutradara Will Becher dan Rihcard Phelan sendiri menyebutkan bahwa mereka tidak mengetahui seberapa banyak referensi yang mereka gunakan dalam film ini, seperti Doctor Who, Aliens, hingga E.T.

Shaun, Bitzer dan Lu-La dalam film A Shaun the Sheep Movie: Farmageddon
via StudioCanal

Meskipun begitu, dibandingkan film pertamanya, mungkin film A Shaun the Sheep Movie: Farmageddon bisa dibilang kehilangan konsep baru. Terlihat dengan pemilihan tema yang klise; ketika sebuah franchise kehabisan ide, pilihannya adalah ke masa lalu atau ke luar angkasa. Sangat familiar dan sedikit membosankan.

Bercerita tanpa dialog

Sebagai film yang menyasar penonton keluarga, khususnya anak-anak, penggunaan dialog memang ditiadakan, sebagaimana yang ditemukan pada versi TV-nya. Meski tanpa dialog, ada banyak hal yang ditonjolkan, seperti gestur dan musik. Karena itu, film ini dibuat dengan lebih mengandalkan visual serta lagu atau backsound yang diberikan.

Lagu-lagu yang dipilih maupun backsound sepanjang film patut diapresiasi. Memberikan kesan ‘berkunjung ke perternakan yang sunyi di Inggris’, tema suara yang yang terdengar dari awal hingga akhir memang menenangkan dan menjadi bagian penting dalam penyampaian cerita.

Shaun dan Lu-La di belakang tanda Farmageddon
via StudioCanal

Apa karena alur yang lambat tanpa dialog atau backsound yang terkesan (terlalu) menenangkan, sebagian mungkin merasakan film ini menidurkan, terlebih pada bagian akhir. Sebagian besar karena plot yang sangat statis dan cenderung menurun mulai di pertengahan atau klimaks yang tak terlalu menghentak.

Tidak ada kekerasan dan plot yang membingungkan dari film Shaun the Sheep Movie: Farmageddon. Masih dengan format stop motion-nya yang halus, film ini memberikan cerita yang lucu, segar, serta menarik untuk ditonton anak-anak. Bukan selera semua orang, tetapi Shaun dan kawan-kawan masih memberikan hiburan yang menyenangkan bagi penonton dewasa.

Rating: 6.5/10

Genre: Animasi, Komedi

Sutradara: Will BecherRichard Phelan

Penulis: Jon BrownMark Burton, Nick Park

Pengisi Suara: Joe SuggJustin FletcherJohn Sparkes

Review Overview
  • 6.5/10
    Film Oke - 6.5/10
6.5/10

Summary

Tidak ada kekerasan dan plot yang membingungkan dari film Shaun the Sheep Movie: Farmageddon. Masih dengan format stop motion-nya yang halus, film ini memberikan cerita yang lucu, segar, serta menarik untuk ditonton anak-anak. Bukan selera semua orang, tetapi Shaun dan kawan-kawan masih memberikan hiburan yang menyenangkan bagi penonton dewasa.

Sending
User Review
0/10 ( votes)

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.