Mengenal Konversi Literasi dari Alih Wahana Karya Pak Sapardi

Adaptasi atau alih wahana membuat karya baru, menjadikan budaya yang dinamis

Konversi Literasi dari Lewat Jam Tiga

Lewat Jam Tiga kembali mengadakan diskusi mengenai karya sastra dengan tema Konversi Literasi. Mengundang pembicara ternama seperti Sapardi Djoko Darmono, penyair kenamaan Tanah Air dan penulis buku Alih Wahana; penulis novel Posesif dan Dua Garis Biru Lucia Priandarini; serta Muhammad Taufiq (Emte), kreator Gugug!.

Bertindak sebagai moderator adalah Fariq Alfaruqi, penyair dan penulis esai yang saat ini bekerja di Komite Buku Nasional. Acara yang mulai lewat jam tiga ini dihadiri oleh puluhan peserta diskusi yang memadati 2Madison Café.

Sapardi Djoko Damono, Lucia Priandarini, dan Emte
(kiri ke kanan) Lucia Priandarini, Sapardi Djoko Damono, dan Emte

Dalam buku Alih Wahana, Sapardi Djoko menyebutkan istilah ini – atau lebih akrab dikenal sebagai adaptasi – adalah pengubahan satu jenis kesenian ke jenis kesenian lainnya. Contohnya karya milik Sapardi, Hujan Bulan Juni, puisi yang telah dikonversikan atau dialihwahanakan menjadi lagu, novel, komik, hingga film yang dibintangi oleh Velove Vexia dan Adipati Dolken.

Ada pula Lucia Priandarini, penulis yang pernah mengkonversi dua film populer Tanah Air, Posesif (2017) dan Dua Garis Biru (2019) ke novel. Novelisasi pun merupakan salah satu bentuk alih wahana, dimana mengubah karya film berbentuk gambar bergerak dan bunyi ke bahasa verbal.

Turut hadir Muhammad Taufiq, ilustrator professional yang menciptakan Gugug!, komik tanpa kata yang sempat dibawa ke Korea Selatan. Seniman visual yang akrab dipanggil Emte ini menyebutkan bahwa alih wahana sebaiknya menjadi kemerdekaan bagi pencipta yang baru. Sebagaimana dia pernah mentransformasikan puisi Aan Mansyur, Melihat Api Berkarya menjadi bentuk visual.

Eyang Sapardi yang lebih dikenal sebagai penulis puisi pun menyampaikan pendapatnya tentang alih wahana; sang pemilik ‘orisinal’ harus merelakan karyanya diotak-atik dan dirombak sesuai keinginan pencipta baru. Karena setiap karya memiliki kekuatannya tersendiri. Sebuah kesalahan ketika penulis novel memaksakan karya film dibuat mengikuti versi verbalnya.

pembicara Konversi Literasi dari Lewat Jam Tiga bertema Alin Wahana

Di akhir diskusi, ketiga narasumber sepakat bahwa alih wahana selalu menjadi bagian dari kebudayaan. Puisi diubah ke novel, novel mendapatkan bentuk filmnya, atau puisi bertransformasi ke lagu. Dengan begitu, sebagaimana ditekankan oleh Eyang Sapardi, kebudayaan selalu berubah dan dinamis.

Lewat Jam Tiga adalah wadah diskusi yang membahas tentang karya sastra dan diberdayakan oleh Gramedia Pustaka Utama. Acara ini diadakan setiap bulan, sedangkan Konversi Literasi merupakan episode kedelapan. Bagi kamu yang ingin mengulik lebih dalam bisa langsung menuju akun Instagram resminya, yaitu @lewatjamtiga.

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.