12 Rekomendasi Live Action Anime Terbaik, dari yang Terbaru sampai Legendaris

One Piece versi Netflix mungkin sering disebut sebagai live action anime terbaik yang pernah diproduksi. Tapi ada banyak hasil adaptasi anime yang bisa dibilang mampu menerjemahkan versi 2D ke dalam dunia asli. Berikut daftar 12 adaptasi anime terbaik yang patut masuk watchlist kamu.

12. Assassination Classroom (2015–2016)

Adaptasi manga karya Yusei Matsui ini dirilis dalam dua bagian. Dibintangi Ryunosuke Kamiki sebagai Nagisa, ceritanya soal sekelompok murid SMP yang ditugaskan membunuh guru mereka sendiri. Guru mereka merupakan makhluk gurita kuning superkuat bernama Koro-sensei yang bertujuan untuk menghancurkan bumi.

Koro-Sensei dalam live action Assassination Classroom
via Toho

Karena bentuknya yang unik, karakter Koro-sensei dihidupkan sepenuhnya menggunakan grafis komputer atau CG. Ini merupakan pencapaian teknis yang jarang dicoba studio Jepang saat itu. Filmnya sukses secara komersial di Jepang meski humor sekolahnya sedikit lebih kalem dibanding manga.

11. From Me to You / Kimi ni Todoke (2010)

Salah satu komedi romantis yang cukup sering diadaptasi. Diadaptasi dari manga shojo karya Karuho Shiina, versi sutradara Naoto Kumazawa punya keunikannya tersendiri. Ceritanya soal siswi pendiam yang dijuluki mirip tokoh horor, Sadako. Ia perlahan membuka diri berkat kebaikan teman sekelasnya yang populer.

Nuansa canggung dan manis khas komik remaja berhasil dipertahankan lewat akting yang natural dari Kikako Tabe. Versi ini merupakan salah satu adaptasi shojo live action paling dikenang meski skalanya kecil dibanding judul-judul aksi lain di daftar ini.

10. Bunny Drop (2011)

Sabu jadi sutradara dari manga karya Yumi Unita yang humanis dan down-to-earth. Ceritanya soal pria lajang berusia 30-an yang tiba-tiba mengasuh anak kecil hasil hubungan gelap kakeknya. Dibintangi Kenichi Matsuyama paska live action Gantz (2010) sebagai pemeran utama, Daikichi dan Mana Ashida cilik sebagai Rin.

Filmnya hanya mengambil arc awal manga soal pengasuhan, sehingga terasa lebih hangat dan family-friendly. Sabu menghindar untuk tak menceritakan arc lanjutan manga yang sempat menuai kontroversi di kalangan pembaca.

9. Bleach (2018)

Warner Bros Jepang mengangkat salah satu dari big three Weekly Shonen Jump yang sudah lama ditunggu-tunggu. Dengan Sota Fukushi sebagai Ichigo Kurosaki dan Hana Sugisaki sebagai Rukia, film ini sebenarnya punya daya tarik tersendiri sebagai live action anime yang tetap setia dengan sumber aslinya.

Ceritanya mengikuti Ichigo yang tiba-tiba mewarisi kekuatan Shinigami dan harus melindungi kotanya dari roh jahat. Mengulas arc awal Sould Society dari manga Tite Kubo, film ini punya koreografi pedang yang keren dan CGI yang cukup mulus. Sepertinya respons penonton tak sesuai dengan yang diharapkan WB, sekuelnya tak pernah direalisasikan.

8. Detective Pikachu (2019)

Salah satu live action anime terbaik Hollywood yang sempat membuat penggemarnya skeptis. Namun Rob Letterman bersama The Pokémon Company sukses membuat film dengan cerita baru, tapi masih mempertahankan esensi makhluk lucu nan imut khas Pokemon. CGI dan representasi Pokemon di film ini juga detail dan realistis.

Justice Smith jadi pemeran utama, Tim Goodman, seorang detektif remaja yang menyelidiki hilangnya sang ayah. Ia dibantu oleh Pikachu yang hanya berbicara dengannya. Menggunakan gaya cerita detektif, Detective Pikachu sempat jadi film adaptasi video game terlaris sejagat saat rilis.

7. Alita: Battle Angel (2019)

Sempat jadi salah satu adaptasi anime yang populer pada masanya. Rosa Salazar menjadi pemeran utama menggunakan teknologi motion-capture. Ia berperan sebagai Alita, sebagai cyborg yang terbangun tanpa ingatan di Iron City yang keras dan penuh intrik.

Desain visual Iron City dan gerakan bertarung Alita cukup setia pada manga Battle Angel Alita karya Yukito Kishiro. Apalagi film ini diproduseri oleh James Cameron himself. Filmnya menjadi adaptasi anime/manga live action Barat dengan pendapatan tertinggi, lebih dari $404 juta. Penasaran kenapa film ini masih belum punya sekuelnya.

6. Kingdom (2019–2024)

Disutradarai Shinsuke Sato, film ini merupakan salah satu produksi Sony Pictures Jepang yang tetap setia dengan sumber aslinya. Kento Yamazaki berperan sebagai Shin, anak yatim piatu yang kelak akan menjadi jenderal besar di masa Perang Tiga Negara di Tiongkok kuno.

Kento Yamazaki sebagai Shin dalam live action anime Kingdom
via Toho

Mangaka Yasuhisa Hara sendiri yang memilih Yamazaki untuk peran ini dan ikut menulis naskah. Perannya sangat krusial dalam menjaga kesetiaan pada nuansa periode sejarahnya. Sekuel keempatnya di 2024 mencetak rekor pembukaan film live action Jepang tertinggi sepanjang masa.

5. JoJo’s Bizarre Adventure: Diamond Is Unbreakable (2017)

Jojo’s Bizarre Adventure merupakan manga/anime niche yang punya basis penggemar yang luas di berbagai belahan dunia. Ceritanya soal siswa SMA dengan kekuatan supranatural “Stand” yang mengungkap rangkaian pembunuhan misterius di kota Morioh. Versi live action tahun 2017 ini disutradarai oleh Takashi Miike dengan produksi Toho dan Warner Bros.

Kostum dan gaya rambut ikonik dipertahankan cukup detail. Tapi menariknya, lokasi syuting yang dipilih justru di Spanyol, bukannya Jepang. Sebuah pilihan nekat yang terbayarkan, nuansa visual berbeda dari kota Morioh di manga. Filmnya sempat menang Audience Award di Neuchâtel International Fantastic Film Festival.

4. Gintama (2017)

Agak susah susah gampang dalam mengadaptasi Gintama. Selain karena menggabungkan gaya steampunk dengan Jepang kuno, karakter Sadaharu memang harus sepenuhnya dibuat dari grafis komputer. Adaptasi ini bahkan menunjuk megabintang Shun Oguri sebagai Gintoki Sataka yang urakan dan koplak.

Manga karya Hideaki Sorachi ini mengikuti Gintoki dan kru pekerja serabutannya di Edo yang telah dikuasai alien, mengejar pedang berbahaya bernama Benizakura. Komedi parodi masih dipertahankan, membuatnya meraih 2,7 miliar yen. Memecahkan rekor box office live action Jepang tahun itu. Sekuelnya di 2018 bahkan melampaui pendapatan film pertama.

3. Inuyashiki (2018)

Noritake Kinashi dan Takeru Satoh jadi bintang adaptasi manga Hiroya Oku ini. Ceritanya soal seorang karyawan tua dan seorang siswa SMA yang sama-sama berubah jadi cyborg berkekuatan super usai kecelakaan alien, namun memilih jalan hidup yang berlawanan.

Alih-alih mengikuti manga secara kaku, sutradara memilih mengubah beberapa detail akhir cerita demi alur yang lebih padat. Pendekatan ini justru dipuji kritikus karena tetap menjaga inti tema soal usia lanjut dan kemanusiaan di tengah aksi cyborg.

2. One Piece Live Action (Netflix, 2023–2026)

Digadang-gadang sebagai live action anime terbaik yang pernah diproduksi, serial yang sedang mempersiapkan musim ketiga ini dipuji karena menghadirkan adaptasi yang kuat sembari masih mempertahankan keunikan cerita aslinya. Sebagian besar karena keterlibatan sang kreator, Eiichiro Oda, sebagai executive producer.

Bahkan Oda memilih sendiri pemeran utama. Maka lahirlah Iñaki Godoy, Mackenyu, Emily Rudd, Tax Skylar, dan Jacob Romero sebagai kru Topi Jerami. Keunikannya ada pada keberanian memangkas 36 episode East Blue Saga jadi 8 episode tanpa kehilangan inti cerita, menjadikannya adaptasi Barat pertama yang benar-benar dianggap berhasil oleh fans lama.

1. Rurouni Kenshin (2012–2021)

Takeru Satoh memang bisa dibilang sebagai dedengkotnya live action. Perannya sebagai Kenshin Himura menjadikannya salah satu aktor prolific yang mampu memerankan peran Batosai yang kalem dengan sempurna. Terlebih adegan aksinya yang membuat seri ini menurut kami adaptasi live action anime terbaik yang pernah ada.

Manga karya Nobuhiro Watsuki ini fokus menceritakan mantan pembunuh bayaran era Meiji yang bersumpah tak membunuh lagi. Hingga akhirnya ia menggunakan pedang bermata terbalik. Versi live action mengikuti arc Kenshin-Kaoru dan Shishio secara setia. Dianggap fans sebagai salah satu trilogi adaptasi manga paling konsisten.

Avatar photo
Padli Nurdin

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.

Articles: 867

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *