Dinominasi Wanita, Ini 6 Nominasi International Booker Prize 2020

Women rules (part 2)

Untuk tahun kedua berturut-turut, sebagian besar novel yang terpilih untuk International Booker Prize 2020 adalah karya dari penulis wanita. Di antara novel yang menjadi nominasi adalah karya penulis Jepang, Yoko Ogawa bertajuk “The Memory Police”. Sedangkan “Tyll” karya Daniel Kehlmann  adalah yang paling laris, dengan penjualan 600.000 kopi di Jerman.

Pemenang akan diumumkan pada tanggal 19 Mei. Meskipun dalam kondisi wabah virus Corona, namun New York Times menyebutkan bahwa acara ini dipastikan akan tetap diselenggarakan sesuai jadwal. Berikut enam novel yang menjadi nominasi International Booker Prize 2020.

1. Hurricane Season – Fernanda Melchor

Karya penulis Meksiko Fernanda Melchor ini diterjemahkan oleh Sophie Hughes, menceritakan pembunuhan mengerikan berkedok praktek sihir di pedesaan Meksiko. Sekelompok anak-anak menemukan tubuh seorang penyihir yang terkenal di sebuah kota kecil di Meksiko. Dan mereka berusaha untuk mengetahui siapa pembunuh penyihir tersebut.

Hurricane Season – Fernanda Melchor
via Penguin Random House Grupo Editorial

Julian Lucas dari New Tork Times menyebutkan bahwa novel ini berhasil menyelidiki hubungan dalam atara dongeng dan ‘femicife’, sebuah istilah yang diadopsi oleh para feminis Meksiko yang menganalisis hubungan sistemanis terhadap perempuan dan anak perempuan di negara mereka.

2. The Adventures of China Iron – Gabriela Cabezón Cámara

Iona Macintyre dan Fiona Mackintosh menerjemahkan karya ajaib dari penulis asal Argentina, Gabriela Cabezón Cámara. Menceritakan tentang seorang wanita di abad ke-19 yang melarikan diri dari perkemahan gaucho. Menariknya, novel ini diceritakan dalam bentuk baris, memparodikan salah satu teks sejarah paling penting Argentina.

The Adventures of China Iron – Gabriela Cabezón Cámara International Booker Prize 2020
via LITERATURA RANDOM HOUSE

Plotnya terbagi menjadi dua bagian. China Iron adalah nama panggilan sang protagonis yang bertemu Liz, wanita asal Skotlandia. Liz mengajarinya bahasa Inggris dan dia pun belajar tentang makna kebebasan. Bagian kedua memiliki transformasi halus dalam nada di mana China berkenalan dengan José Hernández, pria rasis yang kejam dan suka melakukan tindak kekerasan.

3. The Discomfort of Evening – Marieke Lucas Rijneveld

Michele Hutchison menerjemahkan novel karya Rijeneveld yang lebih dulu diterbitkan dalam bahasa Belanda. Novel best seller di negara asalnya, The Discomfort of Evening mengisahkan tentang pengalaman seorang gadis setelah keluarganya yang religius berantakan setelah kematian sang anak tertua dalam keluarganya.

The Discomfort of Evening – Marieke Lucas Rijneveld nominasi International Booker Prize 2020
via Atlas Contact

Bertempat di daerah pedesaan di Belanda selama epidemi penyakit kaki dan mulut, sang protagonist harus berjuang dalam kesedihan serta kehilangan. Beberapa ulasan menyebutkan bahwa novel ini mampu menciptakan dunia yang penuh dengan kesepian dan ketakutan dari narasi dan plot yang relatif simpel.

4. The Enlightenment of the Greengage Tree – Shokoofeh Azar

Azar adalah penulis kelahiran Iran yang mengungkapkan kisah hantu seorang gadis berusia 13 tahun. Sang hantu menceritakan perjalanan keluarganya dari Teheran setelah revolusi yang terjadi di Iran pada tahun 1979. Penerjemah buku ini disebut ‘anonim’ untuk alasan keamanan, sebagaimana diungkapkan oleh Daniela Petracco, direktur penerbit buku Europa pada New York Times.

The Enlightenment of the Greengage Tree – Shokoofeh Azar
via Wild Dingo Press

Dirilis Januari awal tahun lalu, versi bahasa Inggris masih terasa segar dan belum banyak ditemukan. Namun para juri, termasuk penulis Meksisko Valeria Luiselli menyebutkan bahwa novel ini sebagai revisi liar dan lucu dari mitos dan dongeng Persia, yang dipenuhi dengan adegan brutal kehidupan kontemporer.

5. The Memory Police – Yoko Ogawa

Diterjemahkan oleh Stephen Snyder merupakan finalis dari National Book Award for Translated Literature. Novel ini bercerita tentang sebuah pulau di mana pemerintahan yang otoriter membuat penduduk menghilangkan sebagian benda sehingga membuat mereka lupa bahwa benda itu pernah ada.

The Memory Police – Yoko Ogawa
via Actes Sud

Buku ini awalnya diterbitkan di Jepang pada tahun 1994, namun baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris tahun lalu. Narrator merupakan seorang novelis yang tinggal di sebuah desa di pulau tersebut. Dan dia menyadari bahwa banyak kata-kata yang nantinya hilang dari pulau tersebut. Banyak ulasan yang menyebutkan kesamaan antara novel ini dengan 1984 dari George Orwell.

6. Tyll – Danie Kehlman

Novel yang diterjemahkan oleh Ross Benjamin, novel ini mendapatkan popularitas yang cukup tinggi di negara asalnya dan saat ini sedang diadaptasi oleh Netflix. Menceritakan tentang seorang badut bernama Tyll Ulenspiegel saat melakukan perjalanan melintasi Eropa berusaha menghindari kekacauan karena Perang 30 Tahun yang terjadi pada tahun 1618 dan 1648.

Tyll – Danie Kehlman nominasi International Booker Prize 2020
via Rowohlt

Dilansir dari The Guradian, Kehlmann menghadirkan Tyll sebagai sosok dengan berbagai peristiwa tragis. Karakternya dibuat sebagai putra seorang tukang giling yang selalu ingin tahu. Karena itu, ada banyak pertanyaan-pertanyaan filosofis yang bisa ditemukan dalam novel ini.

Booker International Prize 2020 merupakan penghargaan sastra untuk karya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan di Inggris atau Irlandia. Berbeda dengan Booker Prize yang khusus menjaring karya fiksi yang ditulis dalam bahasa Inggris. Walaupun keduanya memiliki hadiah yang sama, yaitu 50.000 pound (sekitar Rp1 miliar). Hadiah akan dibagi sama rata antara penulis dan penerjemah.

Padli Nurdin

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.