Den of Thieves 2: Pantera – Film Aksi yang Terlalu Banyak Bicara

Den of Thieves 2: Pantera melanjutkan cerita tentang perampokan bank yang penuh aksi. Duo aktor Gerard Butler dan O’Shea Jackson Jr. kembali hadir dalam latar dan alur cerita yang baru. Seharusnya film ini bisa mengemas cerita yang sudah ada di film pertamanya dengan lebih baik. Sayangnya sebagai film Heist, film ini kekurangan aksi karena terlalu banyak menampilkan drama.

Sinopsis film Den of Thieves 2

Setelah sukses melakukan perampokan di film sebelumnya, Donnie (O’Shea Jackson Jr.) dan kelompoknya yang bernama The Panther mulai menyasar target berikutnya. Ketika Sheriff Nicholas (Gerard Butler) “Big Nick” mengetahui bahwa Donnie akan merencanakan perampokan baru, dia pun menemuinya.

Tapi alih-alih menangkapnya, Nick pun menyebutkan bahwa dia telah bercerai dan berhenti dari kepolisian. Ia lalu menyebutkan niatnya untuk menjadi kaya raya dan meminta untuk bergabung dengan kelompok Donnie. Mereka akhirnya mulai menyusun rencana perampokan sempurna untuk mengelabui polisi.

Terlalu banyak drama dan dialog

review den of thieves 2

Film yang masih disutradarai oleh Christian Gudegast ini adalah sekuel yang berjarak tujuh tahun. Den of Thieves 2 kembali mempertemukan Donnie (O’Shea Jackson Jr.) dengan Big Nick (Gerard Butler). Ceritanya juga ga jauh-jauh dari film sebelumnya. Namun alih-alih di California, film ini sebagian besar berlokasi di Eropa.

Ceritanya punya perubahan besar, yaitu karakter Big Nick tak lagi menjadi polisi dan mengincar Donnie. Malahan dia bergabung dengan Donnie dan bersikeras untuk melakukan perampokan. Alur yang cukup beda, mengingat biasanya karakter antagonis yang beralih menjadi baik.

Tapi sayangnya, ga banyak peningkatan yang bisa dirasakan pada film ini. Apalagi mengingat Den of Thief (2018) yang memang tak disukai kritikus namun banyak ditonton penggemar akibat aksinya yang mentereng walaupun berdurasi 140 menit.  Sekuel ini terasa lebih hambar.

Untuk sebuah film heist yang membutuhkan gabungan plot yang cerdas dibalut aksi kelas kakap untuk memikat penonton, Pantera hadir dalam pace yang lambat. Alur ceritanya pun bisa dibilang mengikuti pola naskah Hollywood yang mudah ditebak.

Menyandang titel film heist, crime, drama, dan aksi, ada lebih banyak drama yang terpampang dalam film berdurasi 4 menit lebih lama ketimbang suksesornya. Terlalu banyak dialog dan minim aksi, tak ada adegan yang spektakuler atau setidaknya bikin tercengang yang bisa dilihat.  

Dari perampokan nyata

Plot Pantera sendiri dibuat berdasarkan perampokan berlian Antwerp yang disebut sebagai “perampokan berlian terbesar abad ini”. Dengan total kerugian mencapai lebih dari $100 juta, sebagian besar berlian yang dicuri di Antwerp, Belgia, pada 15-16 Februari 2003 ini masih belum ditemukan.

Tapi dengan latar cerita yang bombastis tersebut ga serta-merta bikin film ini lebih menawan dibandingkan film pertamanya. Jika perampokan Antwerp masih menyisakan misteri yang meminta untuk dipecahkan, Pantera masih berkutat dengan blockbuster Hollywood minim budget yang bahkan ga begitu menarik untuk dibahas.

Meskipun begitu, Gudegast sepertinya tak mau menutup pintu untuk film lainnya yang akan datang. Terlihat di bagian akhir (no spoiler, guys) ada banyak kemungkinan gimana karakter Donnie dan Nick akan memulai cerita baru mereka. Yah, bisa jadi sih kalau respons penonton di sekuel ini dibilang bagus.

Jadi sebenarnya Den of Thieves 2 seharusnya punya banyak cara untuk membuat plot menjadi lebih menegangkan dan ga ketebak. Cuma sayangnya menurut kami, Pantera ga banyak menghasilkan peningkatan dibandingkan film pertama. Yah, bakal jadi sekuel “buangan” yang mungkin bisa kamu tonton kalo udah ga tau mau nonton apa lagi saat diluncurkan di layanan streaming nanti.

Avatar photo
Padli Nurdin

Penulis baru yang terpesona dengan bagaimana kata-kata bisa mengubah dunia.

Articles: 889

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *