Resiko membuat sekuel adalah ekspektasi penonton yang ingin sekuel tersebut bisa melanjutkan kesuksesan, atau bahkan melebihi film pertamanya dan Uprising terasa seperti sebuah penurunan jauh dari film Pacific Rim. Disutradarai oleh Steven S. DeKnight dan dibintangi oleh John Boyega, Scott Eastwood, Cailee Spaeny dan beberapa wajah lama dari film pertamanya, Pacific Rim: Uprising cukup bisa menampilkan adegan aksi yang menghibur. Namun, film ini terasa melupakan hal-hal yang membuat film pertamanya sangat menarik.
Salah satu hal yang membuat Pacific Rim sangat bagus adalah karena film tersebut berhasil menampilkan film aksi dengan robot raksasa yang sangat jauh berbeda dari film sejenisnya sedangkan Uprising malah terasa seperti film robot mainstream lainnya.
Berseting beberapa tahun setelah Rayleigh, Mako, dan Stacker berhasil menutup portal tempat Kaiju melintas ke bumi di samudra Pasifik, tampak para Jaeger mendapatkan upgrade dengan teknologi terbaru. Kokpit dipenuhi tombol-tombol hologram dan para robot raksasa itu dapat bergerak jauh lebih lincah dari sebelumnya.
Gerakan robot raksasa yang lincah ini memang berhasil menampilkan adegan aksi dengan CGI yang keren. Terlebih lagi banyak dari pertarungan tersebut terjadi di siang hari sehingga penonton dapat melihat lebih jelas adegan aksi tersebut. Namun, di situ sangat terasa kalau Pacific Rim: Uprising kehilangan sentuhan yang membuat pertarungan Jaeger dengan Kaiju menjadi sangat dramatis.
Gerakan lincah tersebut membuat Jaeger tidak lagi terasa seperti robot raksasa sungguhan yang dikendalikan dengan susah payah oleh manusia. Tidak ada lagi gerakan-gerakan lambat seperti alat berat ketika Jaeger dengan epik bertukar pukulan dengan Kaiju. Sebenarnya hal ini bisa saja diterima karena Jaeger telah mendapatkan upgrade teknologi yang canggih. Namun tetap saja hal ini membuat pertarungan Jaeger dan Kaiju di Uprising tidak terlalu dramatis dan epik.
Film ini juga tidak bisa menggunakan momen slow motion sekeren pendahulunya. Banyak adegan lambat “overused” yang ditampilkan, seperti menghindari sebuah serangan sambil melihat serangan tersebut dalam gerak lambat. Terakhir kali adegan seperti ini terasa sangat keren adalah ketika Neo menghindari peluru agen Smith.
Selain itu, ketika menonton Uprising, saya tidak lagi merasakan ketakutan kalau sesuatu yang buruk terjadi kepada para pilotnya. Selain karena film ini gagal memperlihatkan betapa susah dan berbahayanya menjadi pilot Jaeger, film ini juga gagal membangun ikatan para karakter dengan penonton.
Film ini memiliki beberapa karakter yang kurang menarik dan tidak berkembang, khususnya karakter para pilot muda Jaeger. Ditambah lagi, karakter tersebut juga memiliki banyak dialog yang terasa kaku dan seperti ocehan tidak berguna dengan akting yang tidak terlalu menonjol. Hal ini membuat ikatan antara para karakter dan penonton, khususnya saya, tidak terlalu terjalin kuat sehingga saya tidak terlalu peduli dengan mereka dan lebih memilih untuk menikmati adegan pertarungan CGI robot raksasa dengan monster di tengah kota.
Hal ini sangat berbeda dengan adegan ketika Kaiju memporak-porandakan pilot Jaeger kembar tiga dan duo Rusia di Pacific Rim pertama yang terasa sangat emosional padahal para karakter tersebut hanya diperkenalkan sebentar saja.
Bahkan aktris sekaliber Rinko Kikuchi sebagai Mako Mori pun tampil kurang bagus setelah kebagian dialog yang kaku tersebut. Jangan salah, saya sangat menikmati setiap adegan Mako dan Raleigh di Pacific Rim pertama walaupun ia berbicara bahasa Inggris dengan kaku. Di Uprising tampaknya Mako mendapatkan skrip dan arahan yang kurang pas sehingga banyak dialognya yang terasa sangat “awkward”. Satu-satunya hal yang mungkin bisa membuat penonton peduli dengan karakter Mako adalah rasa nostalgia.
Dari semua cast, John Boyega berhasil tampil sangat bagus. Akting bengalnya mengingatkan peran yang dimainkannya di film Attack the Block namun dengan karakter yang lebih humoris. Sedangkan Scott Eastwood tetap menjadi Scott Eastwood.
Hubungan karakter Jake (John Boyega) dan Lambert (Scott Eastwood) sebenarnya cukup menjanjikan di awal film. Ada rivalitas yang kental dan menarik diantara mereka di awal film. Namun rivalitas tersebut perlahan menjadi “gaje” tanpa ada adegan yang menjelaskan kenapa hal itu bisa terjadi.
Lalu apakah Pacific Rim: Uprising ini layak ditonton? Bagi kamu yang menyukai adegan aksi pertarungan robot raksasa dengan monster yang menghancurkan kota, maka film ini mungkin akan cukup menghibur. Namun jika kamu sangat menyukai film Pacific Rim, mungkin Uprising akan kerap membuat kamu menghela nafas di sepanjang film.