Staging Desire: Ketika Kehendak dan Imajinasi Bersanding di Panggung Kreativitas

Staging Desire, atau Panggung Kehendak, adalah sebuah pameran yang mendokumentasikan proses aktualisasi diri melalui praktik seni, dengan menampilkan karya dua seniman: Nindityo Adipurnomo dan Imam Sucahyo. Proyek ini tidak hanya menampilkan hasil akhir karya, tapi juga menyuguhkan proses, dialog, dan perenungan yang melandasinya. Lewat pendekatan eksperimental dan reflektif, pameran ini menghadirkan pengalaman yang menggabungkan memori pribadi, material sehari-hari, dan pertanyaan tentang identitas.

Pameran ini menjadi ruang pertemuan antara dua cara pandang: kehendak sebagai alat eksplorasi dan seni sebagai bentuk pencarian. Imam dan Nindityo tidak menyajikan jawaban, melainkan membuka ruang dialog. Bagi mereka, makna bukanlah sesuatu yang statis, tapi selalu dalam proses menjadi cair, terbuka, dan interpretatif.

Dengan menjadikan seni sebagai medium, keduanya menghadirkan praktik yang tidak hanya visual, namun juga konseptual dan performatif. Pameran ini mengajak penonton untuk ikut terlibat dalam narasi yang dibangun, membayangkan kembali hubungan antara diri, ruang, dan masyarakat.

Wayang Kardus dan Imajinasi Tanpa Batas

Pertemuan Nindityo dengan wayang karton karya Imam menjadi titik awal kolaborasi mereka. Ia terkesima oleh bentuknya yang sederhana terbuat dari kardus bekas namun menyimpan ekspresi yang dalam dan dinamis. Wayang ini jauh dari struktur kaku wayang tradisional Jawa yang punya peran baku, karena justru menghadirkan imajinasi tanpa batas yang mengundang pertanyaan lebih lanjut.

pameran Salihara
via Mariviu

Bagi Imam, medium tersebut bukan sekadar bahan murah atau “sampah”, tapi wadah bagi kebebasan ekspresi. Ia menggunakan material sehari-hari untuk membebaskan narasi, menolak bentuk tunggal, dan membuka kemungkinan interpretasi baru. Setiap karakter wayangnya adalah fragmen, potongan dari kenangan dan pengalaman yang hidup.

Karya-karya Imam tidak hadir sebagai tokoh pasti, melainkan sebagai metafora dari keresahan, kerinduan, dan identitas yang terus bergerak. Inilah yang kemudian menjadi daya tarik utama dalam Staging Desire: cara karya Imam “bercerita” dengan membiarkan ruang kosong untuk diisi oleh penonton.

Memori, Tanah, dan Bayangan

Dalam proses kreatifnya, Imam kerap berjalan menyusuri sawah, bukit kapur, dan pelabuhan panas di Tuban. Dari situ, bayangan-bayangan muncul sebagai potongan pengalaman hidup yang kemudian bercampur dengan kenyataan dalam karyanya. Ia menyebutnya sebagai pertemuan antara imajinasi dan realitas yang cair.

pameran Panggung Kehendak Salihara
via Mariviu

Ia tidak melihat kehendak sebagai masalah untuk diselesaikan, tapi sebagai mode untuk merespons dunia. Mengamati, menyerap, mencipta semua itu menjadi cara bagi Imam untuk mengolah memori dan pengalaman menjadi bentuk-bentuk artistik yang terbuka. Ia percaya bahwa makna harus tetap cair dan tidak harus mutlak.

Bagi Imam, makna tidak ditentukan secara tunggal. Justru ketidakpastian itu yang menciptakan ruang bagi tafsir yang terus tumbuh bersama penonton. Ini pula yang membuat karya-karyanya terasa hidup karena tidak menuntut kesimpulan, melainkan mengundang partisipasi.

Rumah Bobrok sebagai Simbol dan Panggung

Di pusat pameran, berdiri sebuah rumah bobrok replika dari rumah masa kecil Imam di Tuban. Rumah ini, dengan atap miringnya yang mengingatkan pada konstelasi Salib Selatan, menjadi simbol dari narasi yang rapuh namun penuh resonansi. Ia membawa muatan memori personal sekaligus kritik sosial dan budaya.

Rumah ini dihadirkan bukan hanya sebagai objek fisik, tapi sebagai metafora. Ia adalah titik temu antara kehancuran dan kreativitas, antara kerinduan dan proyeksi. Di dalamnya, sejarah pribadi, trauma kolektif, dan kritik sosial disusun ulang dalam bentuk yang terbuka.

Nindityo Adipurnomo dan Imam Sucahyo
via Mariviu

Lewat proyeksi bayangan wayang Imam dan figur baja-dan-kulit Nindityo, rumah itu menjadi panggung bagi percakapan antar materi. Setiap elemen bersuara, saling menyinari, dan menyatukan kerinduan kreatif yang berbeda-beda menjadi satu ruang bersama.

Proyeksi di rumah bobrok memadukan berbagai bahasa visual dan material yang berbeda. Namun perbedaan itu tidak dihindari, justru dipeluk sebagai bagian dari perjalanan mereka. Setiap medium menyuarakan pertanyaan, bukan jawaban tentang identitas, kehilangan, dan hubungan sosial yang kompleks.

Di sinilah kehendak muncul bukan sebagai bentuk dominasi, tapi sebagai upaya terus-menerus untuk membuka kemungkinan. Praktik seni mereka adalah semacam latihan empati; peragaan fragmen-fragmen kehidupan yang menyisakan ruang bagi refleksi dan keterlibatan. Pameran ini tidak menawarkan penyelesaian. Ia justru mengajak kita masuk ke dalam ruang di mana makna dimunculkan lewat ketegangan, percakapan, dan pertemuan yang berlangsung antara diri dan masyarakat. Di sinilah Staging Desire menjadi lebih dari sekadar pertunjukan ia adalah panggung kehendak bersama.

Avatar photo
Azra Afifah
Articles: 10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *