Mendengar Perjalanan Cinta Bernadya yang Sial

Rasa penasaran saya pada seorang musisi Indonesia dengan nama Bernadya ini muncul ketika saya melihat cuitan seseorang di Twitter/X, ketika album terbarunya yang berjudul “Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan” baru saja rilis, yang kurang lebih menyandingkan kualitas Bernadya dengan Danilla. Sebagai penikmat lagu-lagunya cici Danilla, tentu saya terdorong ingin membuktikan cuitan seorang random stranger tersebut.

Setelah pertama mendengar 6 dari 8 lagu di album tersebut, saya mengernyitkan dahi dan mencak-mencak, “Danilla dari mananya???”

Kemudian, atas dorongan seorang teman bernama Adib, saya memberi kesempatan kedua pada Bernadya. Kali ini, tanpa menaruh ekspektasi apapun dan tidak mengharapkan lagu yang saya dengar akan se-vibe dengan musisi manapun. Maka, inilah yapping hasil dengar kedua kalinya album “Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan” yang release pada akhir pertengahan pertama tahu 2024 ini.

bernadya sialnya
Cover art album “Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan. via rri.com

Album yang Jujur dan Apa Adanya

Ngomong-ngomong tentang judul album ini sendiri, saya sempat membaca sebuah cuitan yang men-julitinya karena seperti ditulis oleh Hindia. Meskipun dapat dipahami dari mana argumen itu berasal, namun saya rasa cara berbahasa yang jujur dalam lagu seperti ini bukan hanya dimiliki oleh Hindia seorang. Lagipula, dalam pengamatan mata awam saya, album dan lagu-lagu musisi lokal Indonesia beberapa tahun belakangan ini memang berada di titik dan bentuk estetika yang berbeda dibandingkan dengan dekade sebelumnya.

Saat ini, musisi lebih mengedepankan kejujuran (dan terkadang hingga nyeleneh?) dalam memberi judul album dan lagu. Contohnya Tulus dengan “Hati-hati di Jalan”, Danilla dengan album “POP SEBLAY” dan lagu “KIW”” di dalamnya, Sal Priadi dengan “Hi, selamat pagiii”, Hindia dengan lagu “Berdansalah, Karir Ini Tak Ada Artinya” dan beberapa lagu lainnya di album “Lagipula Hidup Akan Berakhir”, Sal Priadi dengan album “MARKER AND SUCH PENS FLASHDISK”, serta banyak contoh lainnya. Saya rasa di album ini pun, Bernadya hanya mencoba mengikuti estetika yang sama tanpa ada tujuan menyerupai atau meniru satu musisi secara spesifik.

Fun fact, ternyata Bernadya adalah nama asli. Lengkapnya Bernadya Ribka Jayakusuma. via JPNN.com

Meskipun sempat dibandingkan dengan album LHAB karena judulnya, namun jumlah lagu dalam album ini tidaklah serame album LHAB. Album “Sialnya…” ini, seperti lagu-lagu di dalamnya, terkesan compact dan to the point. Berisi 8 lagu dengan tema patah hati yang jika didengarkan secara berurutan dari judul “Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan” hingga lagu terakhir berjudul “Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan”, album ini terasa seperti sebuah rekaman sedih perjalanan cinta seorang perempuan yang selalu berujung kegagalan hingga akhirnya menemukan kedamaian.

Lirik yang Ringan dan Relatable

Lagu-lagu dalam album ini penuh dengan ekspresi dan kalimat-kalimat relatable yang tentu saja dengan sangat mudah menempel di telinga (dan hati?) siapapun yang mendengar. Bernadya tidak merepotkan dirinya dengan ungkapan dan diksi-diksi sulit, dan itu yang menjadikan lagu-lagi pada album ini terkesan sangat tulus dan to the point.

Album “Sialnya…” seperti menjadi opsi paling mudah untuk diputar jika sedang dalam kondisi patah hati, galau brutal, dan ingin nangis dikit. Karena kita tidak perlu banyak mengernyitkan dahi untuk memikirkan makna dari kalimat-kalimat sulit ataupun diksi-diksi tak umum.

sialnya bernadya
photo art by Froyonion

Nada dan Suara Bernadya Empuk yang Menyamankan

Saya tidak paham dengan kunci gitar dan progresi chord. Tapi di telinga awam saya ini, nada dan genjrengan gitar pada lagu-lagu di album ini terdengar familiar dan tidak rumit. Familiar di sini tidak dalam konteks plagiasi, melainkan familiar karena nada-nada ini memang menyamankan telinga dan sepertinya merupakan comfort chord untuk lagu-lagu pop galau dan sedih. Ya, saya rasa ini salah satu faktor lainnya yang membuat lagu Bernadya di album “Sialnya…” ini menjadi ear catching dan easy to listen. Jika dianalogikan sebagai makanan, lagu-lagu dalam album “Sialnya…” ini seperti makanan ready to go dan ready to serve yang dengan mudah diambil dan dibawa pada saat buru-buru dan tidak ingin repot.

Kembali pada cuitan pertama yang membuat saya penasaran pada Bernadya, setelah saya mendengar lagu-lagunya dengan volume lumayan tinggi, saya justru melihat suara Bernadya ada kemiripan dengan Idgitaf secara tarikan nafas dan di nada-nada tertentu. Suara empuk yang lembut dan mudah lolos masuk ke telinga. Kalau kata orang di Twitter, “sopan banget masuk telinga” ceunah.


album sialnya bernadya
Cover art lagu Kini Mereka Tahu. via Fryoyonion

Di antara 8 lagu pada album ini, lagu yang Bernadya yang paling saya suka adalah “Kini Mereka Tahu” dan “Ambang Pintu”, tentu saja karena relate dan pernah saya alami secara mirip at one point of my life. Saya rasa, album “Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan” akan jadi opsi lagu-lagu yang saya dengan kalau saya galau, selain lagu-lagu galaunya Yura Yunita dan Nadin Amizah.

Pengalaman mendengar album “Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan” untuk kedua kalinya ini pada akhirnya mengingatkan saya pada sebuah ucapan yang cukup sering diulang di internet: “in Indonesian, the word ‘sayang’ can be translated to ‘love’ and ‘pity’ but also ‘waste’, and I think that’s wonderful.”

Avatar photo
Haris Quds

A culture enthusiast and a book reviewer. Studied American Studies in University of Indonesia.

Articles: 46

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *