Film Onde Mande menggabungkan drama komedi berlatarkan suasana apik Danau Maninjau dengan kisah penuh isu kebudayaan serta ekonomi yang membuat film ini terasa eksklusif dan menawan dengan daya tariknya tersendiri.
Sinopsis film Onde Mande
Angku Wan (Musra Dahrizal) yang tinggal sendirian di kampung Sirigan, tepi Danau Maninjau, memenangkan sayembara perusahaan sabun senilai Rp2 miliar. Karena kecintaannya kepada kampung, ia ingin menggunakan uang hadiah untuk memperbaiki kampungnya.
Tapi sehari setelah pengumuman, ia meninggal dunia. Da Am (Jose Rizal Manua) yang telah dianggap keluarga oleh Angku Wan pun menyusun rencana untuk mencairkan uang tersebut.
Bersama sang istri, Ni Ta (Jajang C. Noer) dan anaknya, Mar (Shenina Cinnamon), mereka berusaha mengelabui Anwar (Emir Mahira), karyawan perusahaan sabun yang diminta untuk memverifikasi pemenang.
Kembali ke kampung
Dengan cast dan sutradara berdarah Minang, film Onde Mande menghadirkan nuansa Maninjau dan Sumatera Barat yang sangat kental. Mulai dari dialog, logat, sampai dengan budaya tersaji dengan sangat apik dan pas. Tak ketinggalan panorama Danau Maninjau yang menyegarkan mata.
Jika Ngeri-Ngeri Sedap (2022) mengangkat isu orang-orang yang pulang setelah mengadu nasib di perantauan, maka film ini erat kaitannya dengan orang-orang yang tinggal di kampung dan mencoba untuk menggerakkan roda perekonomian yang telah usang.
Karakter Angku Wan yang rela ditinggal istri dan anaknya, serta karakter Mar yang kembali dari kuliahnya di Jakarta untuk mengajar di kampung Sirigan merupakan contoh paling kental. Berusaha melestarikan sekaligus menjaga kampung dan adat.
Ceritanya solid dan dibarengi komedi, tapi masih terasa belum maksimal dengan kurangnya detail di berbagai adegan-adegan kecil; mayat yang masih terlihat bernafas, ketepatan timing komedi, sampai dengan logat yang mendekati sempurna tapi ada kalanya terbata-bata.
Mengambil lokasi di Danau Maninjau, visual film semakin merona didukung suasana kampung yang bersahaja. Bahkan adegan yang melibatkan kuliner Minang sangat menggugah selera. Terasa kurang jika hanya ditampilkan beberapa detik saja.
Peran sebagian karakter utama terbagi rata. Kudos buat Paul Agusta yang melibatkan pemeran-pemeran yang kental dengan darah Minang. Terlebih Shenina Cinnamon yang hadir memesona, serta Emir Mahira jadi tombak drama yang menggelegar di akhir cerita.
Bawa isu besar
Di balik drama komedi tentang siasat memenangkan uang lotre, film ini mengangkat isu yang lebih dalam mengenai masyarakat di area Danau Maninjau. Kampung yang bergantung pada ikan-ikan di danau, tapi harus merana selama setahun ketika belerang naik ke permukaan dan membuat ikan-ikan mati.
Selain keindahan dan pariwisatanya, Maninjau dikenal dengan ikan rinuak yang hanya tinggal di danau tersebut. Matinya ikan di Maninjau membuat keinginan Angku Wan menyediakan lahan usaha lain bagi masyarakat kampung Sigiran di pinggir Danau Maninjau terasa lebih personal dan urgent.
Selain itu, ada isu lain yang lebih kompleks; tentang orang-orang yang bertahan untuk memakmurkan kampung, contohnya Angku Wan, serta orang-orang yang memutuskan untuk pergi merantau tanpa memikirkan untuk kembali dan kehilangan esensi adat Minangnya, semisal Anwar dan ibunya.
Menyenangkan untuk melihat sebuah film komersial nasional mengangkat isu yang mungkin bahkan tak banyak diketahui oleh masyarakat Minangkabau pada umumnya. Sebuah apresiasi bagi Visinema dan Paul Agusta.
Sayangnya premis komedi mengenai lotre dibarengi unsur budaya Minang terasa kurang menggairahkan untuk penonton awam. Dibandingkan tema mengenai ‘perantauan dan rumah tempat pulang’ yang bikin Ngeri-Ngeri Sedap jauh lebih mengena dan membuatnya dibanjiri peminat.
Film Onde Mande punya drama berbalut komedi yang padat dan menarik. Namun eksekusi plot serta tema yang ditampilkan masih belum maksimal menggaet penonton umum. Cuma bagi penonton berdarah Minang, ada aroma kampung yang memanggil untuk pulang.
Genre: Drama
Sutradara: Paul Agusta
Penulis Naskah: Paul Agusta
Pemeran: José Rizal Manua, Emir Mahira, Shenina Cinnamon