Spider-Man: No Way Home adalah salah satu film yang paling banyak dibahas di internet tahun ini mengingat trailernya menampilkan villain dari lima film Spider-Man rilisan Sony dan tentu saja karena hype multiverse yang sudah dibocorkan lewat beberapa series MCU seperti WandaVision dan What if..?. Sayangnya film Spider-Man: No Way Home agak kurang memuaskan karena cenderung lebih terasa seperti sebuah setup untuk film-film MCU lain di masa mendatang dengan bonus nostalgia.
Sebelum saya diamuk oleh fans garis keras MCU, saya akan berikan beberapa alasan kenapa film No Way Home kurang memuaskan menurut saya (in case kamu lupa kalau semua review film itu bersifat subjektif) sebelum memberikan hal-hal yang saya suka dari film ini.
Sinopsis film Spider-Man: No Way Home
Berlatar setelah keberhasilan Perer Parker mengalahkan Mysterio di mana jati dirinya sebagai Spider-Man terbongkar. Kehidupan remaja Peter yang sudah cukup rumit menjadi semakin rumit karena gagal masuk MIT. Kuliah di MIT bersama Ned dan MJ sangat penting bagi Peter, lebih penting dari masalah global yang bisa muncul akibat ulahnya bermain sihir demi masuk MIT.
Ya, Peter meminta bantuan Doctor Strange untuk menghapus ingatan semua orang tentang jati dirinya sebagai Spider-Man agar bisa kuliah di MIT bersama Ned dan MJ. Sayangnya, mantra inilah yang menjadi sumber masalah karena mendatangkan musuh berbahaya yang belum pernah ia lawan.
Dirusak bocoran dan teori fans
Oke, alasan pertama kenapa film Spider-Man: No Way Home kurang memuaskan adalah leaks foto dan teori fans yang ternyata sangat akurat. Sejak trailer dirilis, para fans ramai-ramai menyebarkan bocoran foto dan teori mereka di berbagai media sosial secara sporadis. Bocoran foto itu sempat dianggap editan dan teori fans sering tidak akurat (sebut saja teori Star Wars). Namun kali ini keduanya terbukti sangat akurat dan bisa dibilang sama dengan spoiler.
Entah leaks dan teori ini adalah bagian dari gimmick promosi Marvel karena memang memiliki andil menaikkan hype film, atau memang murni dari fans. Yang jelas tersebarnya “spoiler” tersebut membuat film No Way Home kehilangan unsur kejutannya. Jadi beruntung bagi kamu yang tidak terpapar spoiler dari “fans” tersebut.
Hanya sebuah setup untuk film lain
Apa yang jadi alasan kamu menyukai sebuah film? Tentu jawabannya beragam dan pastinya subjektif. Bisa itu karena plot twist, color palette, simbolisme, isu sosial, dialog, sinematografi, atau mungkin easter eggs, jokes, cameo, kelanjutan cerita dari sebuah franchise, dan lain-lain.
Film-film Marvel Cinematic Universe, terutama pasca End Game, cenderung lebih mementingkan setup untuk kelanjutan franchise-nya daripada film itu sendiri, termasuk film Spider-Man: No Way Home. Film ini lebih terasa seperti setup untuk film-film MCU seperti trilogi Spider-Man yang baru dan film Doctor Strange 2. Selain sebagai setup untuk film-film ini, No Way Home bisa dibilang tidak banyak menawarkan hal lain.
Beberapa tahun belakangan, film MCU terasa bermain aman demi mempertahankan kontinuitas franchise-nya daripada bereksperimen dengan hal baru. Mungkin film Eternals besutan Chloe Zhao yang bisa dibilang agak berani dan memiliki “suara” tersendiri. Selain dari itu, film-film MCU mulai terasa repetitif: superhero menyelamatkan dunia dengan bumbu easter eggs, nostalgia, cameo, dan celetukan berisi jokes.
Karena film-film yang sudah mulai terasa repetitif, saat ini alasan saya menonton film MCU adalah agar tidak ketinggalan cerita semesta Marvel dan untuk melihat siapa cameo yang muncul. Jika ingin menonton film Marvel yang solid, saya akan memilih menonton kembali Winter Soldier. Kalau ingin mengharu biru, ada Infinity War dan End Game.
Memang konsep multiverse di No Way Home yang menghadirkan “cameo” yang memancarkan perasaan nostalgia bisa jadi senjata andalan untuk menghibur penonton. Tapi bagaimana jika kamu sudah tahu siapa saja cameo yang akan hadir (terima kasih spoiler)? Lebih parah lagi kalau kamu tidak tahu sama sekali konteks dari cameo tersebut. Tentu yang akan membuatmu menikmati film tersebut adalah hal-hal seperti akting, sinematografi, aksi, plot, dan lain-lain yang sayangnya tidak begitu menonjol, ya karena Marvel lebih sibuk mempersiapkan franchise-nya, bukan film itu sendiri.
Selama ini seri Spider-Man “Home” memang terasa kurang kuat dibandingkan seri superhero lain di MCU karena seperti film “uji coba” hasil deal Sony dan Marvel Studios. Lebih cenderung menjadi setup untuk film lain karena kedudukan Spider-Man di MCU masih lemah. Ia bisa saja dijadikan abu jika deal antara Sony dan Marvel berujung jalan buntu.
Di satu sisi, ketiga film Spider-Man Marvel Cinematic Universe bukan benar-benar khusus untuk Peter dan kawan-kawan. Setiap film selalu menyandingkan Peter dengan sosok mentor. Kali ini dengan Stephen Strange. Kombinasi keduanya menyenangkan untuk dilihat, meski kehadiran Strange mengikis sorotan yang harusnya dikhususkan untuk Peter atau Spider-Man.
Namun, dengan ending No Way Home yang seperti “itu,” sepertinya Marvel Studios dan Sony akan lebih “serius” membuat trilogi Spider-Man baru yang kabarnya sedang dikembangkan melanjutkan petualangan Tom Holland sebagai Peter Parker.
Film superhero “coming of age”
Walaupun menyebutkan kekurangan, bukan berarti saya tidak menikmati film film Spider-Man: No Way Home. Ada beberapa hal yang menonjol di film ini.
No Way Home masih menghibur seperti film-film Marvel kebanyakan. Salah satu hal yang saya suka adalah film ini (mungkin) menjadi penutup kisah coming of age Peter Parker sebagai superhero.
Sejak Homecoming, Peter digambarkan sebagai remaja yang masih berusaha mencari jati dirinya sebagai superhero. Ia masih polos, butuh panutan, dan suka membuat kesalahan kecil yang berujung masalah besar. Peter belum sadar kalau di balik kekuatan yang besar ada tanggung jawab yang besar pula.
Sayang sekali sosok orang tua yang dimiliki Peter versi Tom Holland tidak memberikan nasihat ini kepadanya di dua film pertama. Akibatnya ia selalu saja membuat masalah.
Di No Way Home, konflik terjadi akibat kesalahan “remeh” Peter. Ia lebih suka cara instan, bukan cara legal agar bisa masuk MIT. Kesalahan kecil tersebut menimbulkan masalah besar yang berakibat fatal yang akhirnya membuatnya lebih paham apa artinya menjadi pahlawan.
Dengan berakhirnya kisah SMA Peter Parker, semoga trilogi baru yang sedang dikembangkan akan mengangkat tema yang lebih dewasa dan seru saat ia kuliah sambil kerja sampingan.
Akting dan durasi tampil para karakter juga pas
Hal lain yang menonjol di film ini adalah akting para bintang di film Spider-Man: No Way Home yang terasa lebih apik. Chemistry para pelakonnya dapat banget. Mungkin ini karena interaksi mereka terlihat jelas di layar.
Tidak seperti beberapa film Marvel yang bintangnya kerap syuting secara terpisah (demi menjaga kerahasiaan cerita) yang hasilnya malah membuat interaksi di beberapa adegan terasa janggal.
Di No Way Home hal itu hampir tidak terasa. Chemistry Peter, MJ, dan Ned sangat dapat. Lalu yang mencuri perhatian juga adalah interaksi para cameo dengan Peter yang lucu dan penuh nostalgia dalam porsi yang cukup banyak dan pas.
Selain itu, walau film ini penuh adegan aksi pertarungan Spider-Man melawan para villain, para pemeran pendukung tetap mendapatkan waktu tampil yang pas, terutama Ned dan MJ. Kali ini pesona Zendaya tidak hanya menolong marvel lewat promosi film Spider-Man di interview-interview YouTube saja, tapi juga lewat durasi tampil yang cukup di film.
Kesimpulan
Untuk sebuah film standalone, film Spider-Man: No Way Home memang tak sekuat film Marvel ataupun film superhero lainnya, tapi punya poin signifikan sebagai bagian dari kontinuitas MCU. Yang menjadi kekuatan film ini adalah interaksi para karakter yang lebih dapat daripada beberapa film marvel lainnya. Ditambah dengan sejarah dan popularitas si Manusia Laba-Laba, No Way Home adalah tontonan wajib.
Genre: Action, Adventure, Superhero
Sutradara: Jon Watts
Penulis: Chris McKenna, Erik Sommers
Bintang: Tom Holland, Zendaya, Benedict Cumberbatch