Dengan banyaknya bacaan yang kita baca ketika kecil maupun remaja, ada beberapa karya sastra klasik yang harus kita baca ulang ketika kita dewasa. Karya-karya dari Shakespeare, Robert Louis Stevenson maupun F Scott Fitzgerald menarik dibaca ketika kita sedang mengalami krisis menuju kedewasaan.
Dilansir dari Independent, berikut karya sastra klasik mereka, yang bukan hanya bacaan menarik untuk dibaca, tetapi juga memiliki nasehat untuk krisis ketika umur kita menanjak seperempat abad.
- Tess of the d’Urbervilles oleh Thomas Hardy

Bad boy akan mengacaukan anda.
Tess dari cerita Tess of the d’Urbervilles merupakan wanita yang polos, manis tetapi malang. Dengan naifnya, Tess terjebak oleh ‘bad boy’ bernama Alec d’Urberville. Meskipun pengambaran ‘bad boy’ Alec di cerita kanon klasik Thomas Hardy ini sangat ekstrem menurut standar modern, dimana Alec diduga memperkosa dan menghamili Tess ketika Tess dikucilkan dari masyarakat. cerita ini menggambarkan hal dasar tentang kisah komedi romantis masa kini.
Cerita naratif tentang wanita yang bertemu dengan pria yang baru dikenalnya, terpikat oleh pesona filosofi ‘bad boy’ dan acuh tak acuhnya. Tetapi sang bad boy tidak selamanya romantis, suka berselingkuh, berbohong dan mengacuhkan wanita yang mencintainya. Familiar dengan skema ini? Kisah romantis ini mungkin pernah kalian temui di kehidupan kalian (atau pernah mengalaminya). Terlepas dari kebebasan dan pesona yang dimiliki oleh seorang ‘bad boy’, mereka akan menyakiti kalian, dengan lebih dari satu cara. Waspadalah waspadalah.
- Hamlet oleh William Shakespeare

“To be or not to be?’ Pertanyaan yang paling dihafal oleh seluruh penyuka Shakespeare. Hamlet memiliki masa lalu yang kelam, ayah yang meninggal, paman pembunuh, ibu yang aneh, keinginan besar untuk bersama ibu, tetapi hal itu tidak dibarengi dengan instropeksi diri dan penganalisaan diri sendiri.
Hamlet mempunyai 7 soliloquies di dalam drama, jika dibandingkan dengan masa modern, hal itu sama dengan selfie dengan penuh filter Instagram dengan caption panjang tentang kehidupan yang dikutip dari orang-orang ternama. Hahahah. Pada zaman sekarang, Hamlet mungkin bisa dianggap sebagai seorang nartistik, kids zaman now yang terobsesi pada diri sendiri serta penuh keraguan.
Dengan keraguan atas pikirannya sendiri, dia tidak bisa memutuskan apakah akan membalaskan dendam ayahnya atau tidak. Seperti yang kita rasakan ketika sudah beranjak 20, apakah kita akan berkerja, membuat pekerjaan sendiri, atau mencari pengalaman dengan cara belajar menempuh jenjang pernikahan pendidikan yang lebih tinggi.
- The Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde oleh Robert Louis Stevenson

Fokus dengan satu identitas.
Masih ingin membuat banyak akun sosial media untuk personal branding? Jangan mencoba memisahkan satu akun untuk pesta pora dan hedonisme serta akun lain untuk kata-kata bijak dan image “good girl/boy”. Setiap orang bisa memiliki beberapa sifat dan karakteristik berbeda, jadi satu orang tidak hanya bisa baik dan satu orang tidak hanya bisa jahat terus menerus.
- The Great Gatsby oleh Scott Fitzgerald

Bahkan orang-orang kaya mempunyai masalah mereka sendiri.
Jay Gatsby yang kaya raya melipah ruah sampai angkasa saja tidak bisa mendapatkan kebahagiaan yang haqiqi. Dengan semua keglamoran dan pesta pora yang diadakan di mansion mewah berserta semua uang yang dimilikinya, dia akhirnya tetap saja memilih ending yang menyedihkan; menembak kepalanya sendiri. Kita semua tahu bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan. Tapi dengan realitas semua kekayaan yang mungkin kita dapatkan, harta dan tahta tidak selamanya menyenangkan.
Banyak pengalaman hidup yang bisa kita dapatkan dari karya sastra klasik. Meskipun bersetting masa lalu dan memiliki latar belakang yang berbeda, karya tersebut secara garis besar selalu memberikan pesan moral untuk dibagikan kepada pembaca, tanpa mengenal ruang, tempat, dan waktu.
Jadi, mau baca buku klasik apa hari ini?

