Melalui We Bury the Dead, Zak Hilditch menghadirkan kisah penerimaan akan kehilangan melalui film thriller survival dari zombie-zombie yang siap menyerang manusia. Terasa lebih menyentuh alih-alih menakutkan, membuat film ini tak mengambil jalan thriller biasa.
Sinopsis film We Bury the Dead
Ketika Amerika Serikat meledakkan senjata eksperimental mereka di lepas pantai Tasmania, kota Hobart yang terletak di area tersebut hancur terkena ledakan. Beberapa orang yang mati menjadi mayat hidup, dan sebagian mulai menyerang dan menjadi ganas.

Pemerintah setempat lalu membuka sukarelawan dari warga daerah lainnya untuk membantu menguburkan jenazah. Ava (Daisy Ridley) mengajukan diri dengan alasan untuk mencari Mitch, suaminya yang diketahui pergi ke area tersebut sebelum kejadian ledakan berlangsung.
Ava ditempatkan satu tim bersama Clay (Brenton Thwaites), sukarelawan lainnya. Ketika beristirahat di sebuah pom bensin, mereka diserang oleh Riley (Mark Coles Smith). Tanpa mereka sadari, mereka akan berhadapan dengan para zombie lainnya yang bermunculan di sepanjang perjalanan mereka.
Thriller rasa drama
Film We Bury the Dead dikembangkan oleh Zal Hilditch. Ia tidak hanya menjadikan zombie sebagai antagonis semata. Di film ini, zombie adalah orang-orang yang memiliki sanak saudara, bukan hanya benda tak bernyawa yang dibunuh untuk menyelamatkan diri.
Jika sebagian besar film bertemakan zombie fokus pada ketakutan terhadap manusia tak bernyawa yang menyerang, atau bahkan ketamakan dan keserakahan manusia layaknya yang disampaikan Danny Boyle dalam 20 Days Later (2002), film ini mengusung pendekatan yang lebih manusiawi terhadap ‘undead’.

Keseluruhan filmnya tak melulu mempertontonkan keganasan pada undead. Malah disebutkan bahwa mereka yang menjadi mayat hidup “bangkit karena punya urusan yang belum selesai”. Malah mirip dengan hantu penasaran, namun terasa fresh untuk ukuran Hollywood.
Di tengah cerita yang mungkin membosankan bagi sebagian penonton yang mengharapkan laga aksi ala Resident Evil (2002) atau Dawn of the Dead (2004), Zak jelas-jelas menghidupkan drama nan menyentuh dalam film ini.
Jangan sampai terkecoh dengan trailer yang membabi-buta. Benar memang ada beberapa adegan aksi yang menegangkan dan jumpscare di beberapa bagian. Namun Zak membawakan film ini dengan tempo yang terbilang pelan, lebih mengedepankan drama ketimbang aksi maupun horornya.
Zombie yang dulunya manusia
Begitu banyak thriller menggunakan zombie sebagai pemantik ketegangan. Perbedaan yang bisa dirasakan dalam bagaimana Zak terasa menempatkan sisi-sisi kemanusiaan dalam gerombolan zombie yang bertebaran dalam film ini.
Zak menekankan bahwa sebelum menjadi zombie, mereka adalah manusia biasa. Manusia yang memiliki keluarga, pasangan, atau orang-orang yang menyayangi mereka. Di satu sisi ketegangan dan jumpscare yang menakutkan masih terasa, tapi di sisi lain kita bisa melihat bagaimana film ini mengupas sisi manusiawi yang pernah mereka alami.
Sebagian besar karakter di film ini juga menghadapi trauma kehilangan orang-orang yang mereka cintai, yang beberapa juga menjadi zombie. Setiap karakter memiliki orang yang mereka cintai dan tak lagi bisa bersama.
Terlebih karakter Ava yang menggambarkan kisah mengharukan dari tahap-tahap kesedihan. Penonton bakal diperlihatkan bagaimana kilas balik kehidupan Ava bersama suaminya, hingga akhirnya pada tahap dimana ia merelakan dan ikhlas akan kepergian suaminya.
Film We Bury the Dead menampilkan sesuatu yang baru; sebuah eksekusi langka di tengah ramainya iterasi zombie dan undead saat ini. Untuk ukuran inovasi, Zak bisa dibilang mendekati Danny Boyle. Tapi urusan eksekusi atau apakah film ini bakal jadi selegendaris 20 Days Later, hanya waktu yang bisa menjawab.




