Di balik trailer dan premisnya yang nyeleneh, namun film The Sheep Detective menghadirkan pengalaman menonton yang menarik dari penyampaiannya yang komedik sekaligus emosional. Ceritanya yang multi-layer membuatnya jadi salah satu tontonan yang bisa dinikmati oleh semua umur.
Sinopsis film The Sheep Detective
George Hardy (Hugh Jackman) merupakan seorang gembala yang tinggal di padang rumput dan suka mengisolasi dirinya sendiri dari kebanyakan orang. Untuk mengisi waktunya, ia membacakan novel misteri pembunuhan kepada domba yang digembalakannya.
Ketika dia tidur, ternyata domba-domba yang ia miliki mendiskusikan novel yang dibacakannya. Seperti Cloud (Regina Hall), Sir Ritchfield (Patrick Steward), dan domba jantan kembar (Brett Goldstein dan Chris O’Dowd) yang punya ingatan tajam. Namun hanya Lily (Julia Louis-Dreyfus) yang bisa menerka siapa pembunuh dalam novel tersebut.
Suatu pagi, George ditemukan mati di trailernya. Tim Derry (Nicholas Braun) satu-satunya polisi yang ada di desa tersebut mengira George meninggal dikarenakan serangan jantung. Namun reporter Elliot Matthews (Nicholas Galitzine) menyebutkan bahwa itu adalah pembunuhan. Dan dipimpin oleh Lily, para domba mulai mencari tahu penyebab kematian George.
Film whodunit yang segar
Bahkan dari trailernya saja, film ini punya premis yang unik dan berbeda dari film-film drama komedi akhir-akhir ini. Cerita tentang sekumpulan domba yang mencari dalang pembunuh gembalanya memang lebih cocok jadi plot sebuah film animasi anak-anak.
Tapi dengan premis yang absurd, jangan berpikir bahwa film ini merupakan tontonan ringan nan receh. Tak hanya dipimpin oleh sutradara Minions (2015) dan Despicable Me 3 (2017), Kyle Balda, semua yang terlibat dalam film ini tak kaleng-kaleng.

Deretan pemerannya termasuk Hugh Jackman yang kini punya aksen British dan pengisi suaranya dipenuhi dengan gabungan aktor-aktor legendaris dan berbakat. Penulis naskah Craig Mazin yang berada di balik The Hangover Part II (2011) dan III (2013).
Mazin bersama Kyle mencoba untuk memberikan sebuah kisah whodunnit yang klasik tapi dengan eksekusi brilian. Petunjuk demi petunjuk berikan satu per satu untuk mengajak penonton menebak siapa dalang di balik kisah ini.
Terlebih bagi penonton yang belum membaca novelnya, film ini menghadirkan cerita yang baru. Plotnya yang lain dari yang lain juga disajikan dengan dinamis. Tak hanya menarik bagi penonton anak-anak atau remaja, tapi juga bisa dinikmati secara keseluruhan oleh penonton dewasa.
Ketika domba jadi detektif
Film ini diadaptasi dari novel berjudul Three Bags Full atau dalam bahasa aslinya Glennkill: Ein Schafskrimi karya Leonie Swann. Pertama kali dirilis di Jerman pada tahun 2005, novel ini meledak dan diterjemahkan ke berbagai bahasa pada tahun 2006.
Film ini mengambil pendekatan yang mungkin sedikit berbeda tapi secara esensinya sama dengan Chicken Run (2000). Tapi alih-alih ayam, penonton akan diajak untuk menikmati cerita dari sudut pandang para domba.
Ada banyak hal baru yang ditampilkan untuk membuat penonton tetap setiap menikmati cerita. Begitu pula ketidaktahuan para domba atas hal-hal yang mungkin biasa di dunia manusia jadi sebuah bentuk komedi yang membuat film ini jadi lebih dinamis.

Dan bukan hanya cerita ringan saja, film ini dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis yang terasa kompleks jika direnungkan. Misalnya ketika para domba memiliki untuk melupakan hal-hal tak menyenangkan dalam hidup, Mopple mengajarkan bahwa menerima hal buruk sama pentingnya dengan hal-hal baik yang pernah kita alami.
Penonton akan dibawa berimajinasi dalam mengarungi petualangan para domba yang penuh dengan cerita lucu tapi juga emosional. Setiap momennya menawan, dari kisah misteri yang membingungkan hingga akhirnya menghadirkan rasa hangat di penghujung cerita.
The Sheep Detective melampaui ekspektasi sebuah tontonan ringan dengan premis yang segar. Tak melulu hadir untuk memberikan hiburan, tapi juga menuntun melalui analogi-analogi yang diselipkan di sepanjang cerita. Menjadikannya sebagai salah satu rekomendasi film terbaik tahun ini.




