Film Superman membuka era baru DC Universe milik James Gunn dengan menawan. Penuh harapan dan berwarna, lengkap dengan caranya memperlihatkan The Man of Steel jadi lebih ‘merakyat’ dan sesuai dengan sumber aslinya.
Sinopsis film Superman
Tiga minggu setelah menghentikan invasi Boravia ke Jarhanpurian, Kal-el, atau lebih dikenal sebagai Superman (David Corenswet) ditantang oleh Hammer of Boravia. Diselamatkan oleh anjingnya, Crypto, ia kembali ke Fortress of Solitude di Antartika dan menyembuhkan diri untuk kembali menghadapi Hammer.

Keputusannya untuk menghentikan Boravia ditentang oleh banyak pihak, termasuk Louis Lane (Rachel Brosnahan), rekan kerja yang juga menjadi pacarnya.
Di sisi lain, Lex Luthor (Nicholas Hoult) mendesak Pentagon untuk menyetujui penangkapan Superman. Ia pun mencari berbagai cara untuk menunjukkan bahwa Superman adalah alien yang bertujuan untuk merusak dan menguasai bumi.
Pondasi baru DC Universe
Telah lama sejak DC menawarkan tampilan layar lebar sekaligus cerita si Boyscout yang benar-benar menarik sekaligus hadir sebagai representasi wajah DC Comics setelah berkali-kali adaptasi yang gagal (secara kritikan maupun komersial), superhero DC ini sepertinya berada di tangan yang tepat.
Gunn membawa nuansa baru. Tanpa memperlihatkan bagaimana bayi Kel-el sampai di bumi, bagaimana ia tumbuh di pedesaan, atau pertemuan pertamanya dengan Lois Lane yang sudah diulang berpuluh-puluh kali di berbagai iterasi. Film ini langsung menggaet penonton dengan cerita yang menggugah.

Ada perbedaan signifikan dengan cara Gunn menggiring The Guardian of Galaxy yang lebih kelam dengan Superman yang berwarna. Kontras warna cerah memperlihatkan bagaimana ia merepresentasikan film ini sebagai sebuah harapan. Senada dengan simbol “S” bagi Superman. Termasuk menjadikannya awal baru bagi semesta DC yang sebelumnya luluh lantak.
Ceritanya padat. Tak bertele-tele dengan latar cerita yang sudah diketahui semua orang. Fokus tentang Clark Kent yang ingin berbuat baik, menolong siapapun yang membutuhkan, dan menghentikan peperangan. Tapi konflik politis dan kepentingan menghalanginya.
Pemilihan karakternya cermat. Gunn tahu betul bahwa tidak adanya Batman membuatnya mencari akal untuk karakter pendukung lain. Hadirlah Mr. Terrific, karakter dengan otak terencer ketiga di DC Comics sebagai ahli teknologi dengan komedi deadpan-nya. Untuk urusan receh ada Nathan Fillion sebagai Guy Gardner (Green Lantern).

Yang terpenting, ada banyak referensi pada film Superman terdahulu. Termasuk title ending yang mengingatkan kita pada versi Christopher Reeve yang legendaris. Dan tenang, ada beberapa cameo karakter DC era Gunn yang muncul. Termasuk karakter penting yang bakal dibikin filmnya tahun depan.
Superman yang dibutuhkan saat ini
David Corenswet bukan satu-satunya orang yang pantas untuk berada di balik kostum biru merah ini. Namun ia dengan tepat membawakan karakteristik Kal-el yang terlampau baik dan polos. Agak corny dan cringe, tapi memang Superman pada dasarnya bukanlah superhero yang terlampau serius. Itu miliknya Batman.
Memang salah satu hal yang membuat Superman milik Gunn berbeda (dan mungkin bersinar) ketimbang adaptasi sebelumnya adalah bagaimana ia membuat Last Son of Krypton ini bersifat lugu sekaligus naif. Karena itulah yang membuatnya berbeda: bagaimana ia percaya bahwa ada kebaikan di setiap orang.
Gunn tak ingin memperlihatkan ketangguhannya. Semua orang juga sudah tahu bahwa ia sangat…super. Bahkan film ini dibuka dengan karakter populer DC ini terlempar dan terbaring lemah di gundukan es. Terluka dan tak berdaya. Namun setelah itu, ia kembali bangkit untuk melakukan melawan penindasan yang terjadi di muka bumi.
Tema tentang imigran dan penindasan jadi poin penting yang membuat karya Gunn mentereng. Sepertinya hadir di saat yang tepat, film ini merupakan representasi politis dan kritik sosial terhadap kondisi Amerika saat ini. Sesuatu yang sempat hilang dari film superhero, khususnya DC.
Di tangan Gunn, film Superman mendapatkan pesonanya kembali. Berlandaskan nostalgia, pemimpin baru DC Universe ini mengembalikan apa yang hilang dari salah satu karakter superhero terpopuler sepanjang masa: dedikasinya yang tak terbatas untuk melakukan kebaikan dan rasa percayanya akan adanya kebaikan di setiap manusia.




