Film Supergirl menjadi andalan terbaru Warner Bros. dalam mengembangkan semesta superhero-nya. Pemilihan Milly Alcock sebagai protagonis utama terbayarkan. Namun sangat disayangkan ceritanya yang tergolong standar membuatnya tak punya daya tarik lain.
Sinopsis film Supergirl
Kara Zor-el (Milly Alcock) lebih memilih untuk menghabiskan hari-harinya dan merayakan ulang tahunnya yang ke-23 dengan minum-minuman keras untuk menghilangkan rasa bersalah atas kehancuran Krypton dan orang-orang terdekatnya. Ia hanya ditemani oleh Krypto, anjing kesayangannya.
Ia bertemu dengan gadis muda bernama Ruthye Marye Knoll (Eve Ridley) yang memintanya untuk membantunya membalaskan dendam atas kematian orang tuanya. Kedua orang tuanya dibunuh oleh geng antar galaksi kejam dipimpin oleh Krem (Matthias Schoenaerts). Meski enggan, Kara akhirnya mencoba membantunya.
Masalahnya dengan Krem dan kelompok Brigands membuat Krem meracuni Krypto dan mencuri pesawat luar angkasanya. Ia hanya punya waktu 3 hari sebelum racun itu membunuh Krypto. Kara dan Ruthye berkelana memburu Krem untuk mendapatkan penawar sekaligus membalaskan dendam Ruthye.
Berat di naskah
Supergirl yang disutradarai oleh Craig Gillespie merupakan film kedua dari semesta DC yang baru arahan James Gunn. Di luarnya, film ini menyenangkan dengan cerita yang ringan, dan didukung berbagai momen aksi yang lumayan keren.
Visualnya juga dibuat gritty dengan warna yang suram ala-ala kisah distopia. Latarnya yang penuh dengan aroma industrial dan paska-apokalips dengan setting area-area kumuh yang mirip skena steampunk. Seperti menggabungkan Guardian of the Galaxy mampir ke dunia Mad Max.

Sayangnya naskah dari Ana Nogueira tak ubahnya seperti film superhero pada umumnya. Yang membuat film ini terasa monoton mungkin adalah Krem. Kehadirannya sebagai villain tak mengubah apa pun. Tanpa motif dan logika yang menarik, ia hanya menjadi villain karena plotnya membutuhkan seorang big bad guy.
Hal ini juga berdampak pada plot balas dendam Ruthye yang juga membosankan. Formula cerita yang mungkin sudah usang dipakai di berbagai film aksi, bukan hanya kisah-kisah superhero. Tak heran jika banyak penonton yang mungkin tak suka dengan karakter Ruthye. Karena naskahnya tak memberikan ruang bagi penonton untuk bersimpati pada logika dan motifnya.
Pemilihan lagunya cukup menarik. Mengingat Supergirl juga masih menggunakan tema “apa itu punk rock” yang disanjung-sanjung oleh Superman-nya James Gunn. Jika Superman mengagungkan punk rock dari segi tema, Gillespie memberikan nuansa punk dari karakter Kara dan lingkungan/latar tempat di dalam film. Jujur, agak mengganggu dan tak terlalu ngena.
Supergirl dan Lobo
Film ini dikembangkan dari komik Supergirl: Woman of Tomorrow karya Tom King yang pertama kali dirilis pada bulan Juli 2022. Menarik untuk dilihat alasan Gunn dan Gillespie menggunakan latar ini untuk film pertama Supergirl dan film kedua DCU. Mengingat ceritanya niche dan tak banyak disukai oleh penggemar DC pada umumnya.

Ada beberapa narasi yang diubah dari versi komik. Termasuk memangkas beberapa latar cerita untuk menyesuaikan durasi 108 menit yang cukup pendek untuk sebuah kisah superhero. Dan yang paling kentara adalah kehadiran Lobo yang justru jadi salah satu keunikan film ini.
Kehadiran perdana Jason Momoa sebagai Lobo patut diacungi jempol. Dengan dandanan seperti anggota Kiss, ia lebih lepas dan terasa lebih cocok dibandingkan saat menjadi Aquaman. Meski screentime-nya tak banyak, namun ini layak disebut sebagai debut yang menarik.
Selain itu, salah satu hal yang setidaknya membuat film ini patut ditonton akan Milly Alcock sebagai Kara/Supergirl. Kehadirannya secara alamian menggaungkan karakter Kara yang easygoing, rentan dan hidup di tengah depresi, namun tetap punya hati yang baik dan melakukan semuanya sekuat tenaganya. Mirip seperti Gen Z yang harus berjuang diterpa beban-beban kehidupan.

Memang plot dan cerita film Supergirl terasa biasa. Villain-nya pun tak kuat maupun memorable. Ceritanya ringan, mungkin terlalu ringan sampai-sampai tak kentara plotnya mau dibawa kemana. But at least, isu tentang grief dan perjuangan menghadapi trauma dibawakan dengan mulus.
Bagi penggemar DC, baiknya menurunkan ekspektasi sebelum menonton film ini. Tak usah berharap ceritanya akan lebih kuat ketimbang Superman. Nikmati saja cerita dan aksinya selayaknya film superhero ala kadarnya. Tak heran banyak kritikus yang tak menyukai film ini.




