Ess Jay Pictures bekerja sama dengan AAA Clan dan Marapthon membawa Harusnya Horor sebagai film debut perdana Reza “Arap” Oktovian menjadi sutradara. Film horor komedi dengan premis unik yang pas untuk para fans dan penggemar Marapthon, tapi mungkin sulit diikuti oleh penonton biasa.
Sinopsis film Harusnya Horor
Geng Kusut merupakan nama dari Kumpulan konten kreator yang terdiri dari Kevin (Tierison), Cipuy (Yukatheo), Kenzo (Garry Ang), dan Gea (Lula Lahfah). Mereka mencoba untuk sukses di jalur konten horor karena terinspirasi suksesnya King Aloy (Aloy) sebagai YouTuber horor.
Mereka bertemu dengan Mas (Reza Oktovian), sosok hantu yang mati penasaran dan baru kembali dari alam baka. Mas mengungkapkan bahwa ia ditugaskan untuk menakut-nakuti 100.000 orang dalam 30 hari supaya dia bisa mendapatkan reward, yaitu menonton kelanjutan anime kesukaannya.
Mas yang kebingungan akhirnya setuju untuk diajak bekerja sama dengan Geng Kusut. Mereka melakukan tayangan streaming penelurusan horor dengan Mas sebagai hantunya. Ia dibimbing oleh tro bodyguard setan bernama Danan (Bravy), Teguh (Ibot) dan Michael (Niko Junius) untuk mengubahnya menjadi setan yang seram.
Inside jokes buat penggemar
Pada awalnya, film ini punya premis yang menarik untuk sebuah horor komedi. Naskah yang ditulis oleh Rahabi Mandra dan Syahrun Ramadhan ini menghadirkan sosok setan yang lebih mudah ketakutan ketimbang manusia. Plotnya terkesan renyah, namun eksekusinya masih jauh jika dibandingkan dengan film bioskop kebanyakan.
Tapi menariknya, set dan background film tak kalah dengan film ‘serius’ lainnya. Baik dari segi blocking serta production value, Arap dan kawan-kawan sepertinya sudah mengerti bagaimana cara membuat set yang solid dan mendukung cerita.

Memang, film ini seperti dibuat khusus bagi fans garis keras Arap dan Marapthon. Tak terhitung inside jokes yang diberikan. Tentunya nyentil bagi penonton yang mengikuti kegiatan mereka, dan tak kena bagi penonton baru. Dan penonton sepertinya juga sudah berekspektasi apa saja yang akan mereka temukan di film ini.
Plot dan alur cerita tentu bukan kekuatan utama film ini. Jika ditelusuri, ada beberapa plot hole yang mengusik keteraturan narasinya. Namun semuanya ditimpa dengan alur komedi dari awal sampai akhir.
Masih banyak pertanyaan yang membekas ketika film ini berakhir. Tapi mau bagaimana lagi. Proyek ini lebih condong sebagai film senang-senang AAA Clan, bukan karya yang terlalu dipikirkan dari segi teknis hingga plotnya. Anggap saja melihat kekonyolan orang-orang di belakang Marapthon tampil di layar lebar.
Persembahan terakhir Lula Lahfah
AAA Clan merupakan gabungan dari para streamer dan konten kreator yang digawangi oleh Reza “Arap” sebagai sosok yang jadi wajahnya. Penggemar konten gaming yang kebanyakan diisi oleh generasi muda dan gen Z bisa dipastikan kenal dengan kelompok ini.
Karena ini bagaikan reunion Marapthon tapi di layar lebar, Arap membawa teman-teman yang kebanyakan merupakan streamer. Termasuk cameo tak terduga yang muncul tiba-tiba tanpa ada pengaruh besar untuk cerita.
Film ini jadi yang perdana untuk sebagian besar pemerannya. Film perdana Arap sebagai sutradara dan beberapa aktor yang menjalani debut film pertama mereka. Jadi tak heran untuk urusan akting, ada banyak yang bisa diperdebatkan.

Tapi tak ada yang bisa mengalahkan para karakter ini ketika harus saling berinteraksi di depan layar. Chemistry mereka yang sudah dibangun dari bertahun-tahun lalu terasa sampai ke layar. Mungkin ini yang bisa dirasakan oleh penggemar dan penonton streaming-nya.
Namun peristiwa yang terjadi di belakang layar jadi momen tersendiri. Sebagai karya terakhir Lula Lahfah, film ini tentu punya sisi emosionalnya tersendiri. Dan hal ini bisa terlihat jelas di dalam cerita, termasuk bagaimana Arap memberikan penghormatan terhadap sosok Lula di credit roll.
Arap punya gaya yang khas dan tahu apa yang diinginkan oleh penontonnya. Film Harusnya Horor bisa jadi persembahan khusus bagi penggemar Marapthon dengan cerita komedi dan sisi emosional sebagai penghormatan untuk mendiang Lula Lahfah.




