Joko Anwar kembali dengan film horor Ghost in the Cell. Menggambarkan kondisi Indonesia saat ini, film dengan genre eco horor ini menghadirkan sindiran (halus dan kasar) digabungkan dengan komedi satir tentang orang-orang yang terkurung dan harus berjuang mempertahankan kehidupan mereka sendiri.
Sinopsis film Ghost in the Cell
Anggoro (Abimana Aryasatya) merupakan seorang narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Labuhan Angsana yang sangat peduli dengan keadilan. Bahkan hukumannya diperpanjang karena ia selalu membela yang lemah selama ia di penjara. Ini membuatnya dimusuhi oleh geng napi yang dipimpin oleh Bimo (Morgan Oey).
Di tengah perselisihan yang memanas antara kubu Anggoro dan Bimo, hal aneh di dalam penjara mulai muncul. ini mulai terjadi ketika Dimas (Endy Arfian) masuk ke dalam penjara. Tiba-tiba, beberapa napi mulai terbunuh satu per satu.
Anggoro dan Bimo serta orang-orang di dalam penjara mulai bersatu memburu entitas yang tak bisa dilihat tersebut. Tanpa sadar, mereka membuka misteri lainnya yang menyelimuti penjara tersebut dan para narapidana di dalamnya.
Representasi sistem politik Indonesia
Sutradara yang akrab dipanggil Jokan ini kembali dengan tema yang unik. Ghost in the Cell menggabungkan genre horor, komedi, aksi, sekaligus drama yang dipermak dengan kompleks. Secara khusus, ceritanya dikenal dengan eco horor, yaitu jenis horor yang berkembang dari ketakutan akibat krisis lingkungan.
Memang film ini menghadirkan progresi plot yang sama seperti film horor pada umumnya. Dimana sebuah tempat yang penuh ketidakadilan mulai mengalami hal-hal aneh yang berujung pada kematian.

Latarnya masih menggunakan ex-set dari Pengepungan di Bukit Duri. Menjadikan bentuk LP yang kusam dan penuh dengan diskriminasi dan perlakuan tak adil. Jokan sendiri menyebutkan bahwa ini merepresentasikan Indonesia yang dipimpin oleh sistem yang busuk dan pemerintahan yang jelek.
Untuk urusan akting, nama-nama besar yang ada di dalam film ini tak perlu diragukan lagi. Gabungan cast paling maskulin yang ada di film Tanah Air. Cuma dinamika karakter dalam pengembangan plotnya terasa cukup menarik.
Abimana punya porsi khusus, baik dari segi drama, aksi, hingga komedinya. Apalagi adegan perkelahian dengan karakter Bimo yang diperankan Morgan. Menariknya, ada Almanzo Konoralma yang sebelumnya dikenal sebagai penari, memberikan warna tersendiri pada sisi komedi dan drama filmnya.
Dipenuhi simbol khas Joko Anwar
Jokan memang terkenal dengan simbol-simbol yang dipasang di semua filmnya, semisal Pengabdi Setan (2017) maupun Gundala (2019). Tak terkecuali film ini. Ada beberapa simbol (dan bahkan mungkin ada yang terlewatkan) yang kami temukan. Mulai dari penyimbolan karakter dan kejahatannya, plot satir serta dialog-dialog, termasuk nomor di masing-masing baju karakter yang punya simbol tersendiri.

Salah satunya adalah lubang di wajah karakter Tokek yang ada pada poster. Tak sepenuhnya bolong, tapi ada bunga seroja yang diletakkan di masing-masing lubang. Hal ini menandakan bahwa di setiap keadaan buruk masih ada secercah harapan.
Jokan bahkan tak mengungkapkan nama atau sosok entitas halus di film ini. Namun, makhluk ini merasuk ke setiap orang yang memiliki energi buruk, seperti marah, sedih, maupun putus asa. Jadi, sebuah simbol tersendiri yang menarik menyelimuti film ini.
Sindiran-sindiran halus maupun kasar pun kerap terlintas di sepanjang film. Keseluruhan cerita menyinggung berbagai aspek kehidupan, seperti politik, agama, isu ras, hingga isu lingkungan dalam bentuk deforestasi yang digambarkan dalam kehadiran entitas makhluk misterius yang menjadi fondasi film ini.

Keseluruhan tema menjadi refleksi tersendiri terhadap peliknya kehidupan di Indonesia. Di antaranya, tema #kaburajadulu yang kini diganti dengan #maukaburkemana. Para napi yang tak bisa keluar dari penjara merepresentasikan masyarakat yang harus mati-matian bertahan di tengah bobroknya kondisi pemerintahan saat ini.
Film Ghost in the Cell jadi penyegaran untuk skena horor Tanah Air. Tak hanya bersifat untuk menakut-nakuti, tetapi turut mengajak penonton untuk kritis dalam cerita penuh simbol. Plotnya memang tak sempurna, tapi kuat dari segi perlawanan bagi orang-orang tertindas, khususnya penduduk Indonesia.





One comment
Bagus bangat seru dari awal sampai akhir bintang 10000/10000👍👍