Banyak yang memprotes Hope karya Na Hong-jin karena jalan ceritanya dianggap kabur, ending-nya menggantung, dan kualitas CGI-nya mengecewakan. Di paruh pertama, film ini dipuji sebagai blockbuster yang mendebarkan. Namun, memasuki paruh akhir, naratifnya dinilai tidak memberikan kepastian. Padahal, jika kita renungkan lebih dalam, Hope justru menyimpan lapisan makna yang sangat menarik.
Sinopsis Film Hope

Cerita dibuka dengan penemuan bangkai sapi akibat serangan hewan buas di sebuah desa terpencil dekat perbatasan Korea Utara. Kejadian ini memicu spekulasi di kalangan polisi dan pemburu setempat. Ketakutan warga desa pun membuncah; lokasi yang dekat dengan wilayah DMZ membuat mereka cepat berasumsi bahwa teror ini adalah ancaman dari luar.
Ditambah lagi, para pemburu sengaja menyebarkan rumor bahwa pemangsa itu adalah harimau gunung. Kepanikan polisi (Bum-seok, diperankan oleh Hwang Jung-min) cukup beralasan, mengingat dalam cerita rakyat Korea, harimau sering dipersonifikasikan sebagai sosok supranatural pembuat teror. Namun, narasi harimau ini sebenarnya cuma rekayasa para pemburu untuk melampiaskan ketamakan (dan mungkin hobi) mereka. Dan ternyata, yang membunuh ternak tersebut adalah sesosok monster yang mereka anggap sebagai alien.
Ketamakan dan kebodohan manusia

Di sinilah inti cerita film Hope: ketamakan dan kebodohan manusia. Bencana invasif yang kemudian menimpa desa bukan murni salah si alien, melainkan dipicu oleh keserampangan warga setempat yang terdorong oleh rasa penasaran, ketidaktahuan, dan iming-iming uang. Kebodohan tersebut literally mengundang bencana turun dari gunung dan menelan banyak korban jiwa.
Setengah durasi pertama menyajikan aksi yang amat mendebarkan. Kita dibuat berspekulasi tentang wujud sang alien sembari menyaksikan daya rusaknya. Menariknya, di balik ketegangan tersebut, adegan demi adegan memperlihatkan bahwa serangan manusia terhadap alien lahir dari ketidakpahaman. Kendala bahasa jelas menjadi benteng komunikasi, tetapi pemicu utamanya adalah ketakutan terhadap hal yang tidak diketahui (fear of the unknown). Didorong oleh paranoia warga perbatasan Korsel dan Korut, warga memberondong sang alien dengan timah panas dan peledak tanpa memikirkan akar masalahnya.
Pergeseran moral
Titik balik psikologis terjadi pada karakter Bum-seok. Ia mulai mempertanyakan aksi konfrontatif mereka. Momen ketika Bum-seok berhadapan dan bertatapan mata dengan alien dalam gerakan slow-motion hadir sebagai puncak pergeseran moral. Watak jahat mulai bergeser dari alien ke manusia. Benar-benar sebuah pengalaman sinematik.
CGI lawak dan ending yang gantung
Sayangnya, setelah rentetan aksi kelas atas tersebut, Hope justru berbalik arah dari ekspektasi penikmat sci-fi blockbuster pada umumnya: menyajikan kematian tokoh yang absurd, konklusi yang ambigu, dan efek visual yang terasa lawak.
Soal CGI, kritik penonton memang ada benarnya. Untuk standar film rilisan tahun 2026 di tengah pesatnya teknologi efek visual dan AI, kualitasnya terbilang tanggung. Jangan bilang kalau bujet CGI-nya dipotong agar bisa dipakai untuk menggaet Michael Fassbender dan Alicia Vikander yang ikut main di film ini.
Meski begitu, nasib para karakter dan konklusi film ini sebenarnya sangat koheren dengan tema film ini. Semua elemen terikat pada benang merah yang sama dan tidak terjadi tanpa alasan.
Kematian beberapa figur “heroik” secara konyol justru mempertegas tema absurditas dan ironi dalam kehidupan. Di dunia yang dikacaukan oleh kebodohan manusia sendiri, takdir memang tidak selalu selaras dengan harapan. Kadang seseorang selamat atau tewas hanya karena alasan yang terkesan sepele.
Ending Hope mencerminkan kegagalan manusia dalam mengenali kesalahannya sendiri. Karakter-karakter di dalamnya sibuk memerangi dampak, tanpa menyadari penyebab utamanya. Di penghujung cerita, Bum-seok tertegun dan bingung menghadapi rangkaian peristiwa yang serba absurd, sementara Sung-ae, yang diperankan dengan apik oleh Jung Ho-yeon (Squid Game), memilih untuk terus melangkah terlepas dari absurditas itu. Konklusi terbuka ini secara brilian merekam dua respons paling mendasar manusia dalam menghadapi ketidakpastian dunia.




