Film Dear You adalah drama keluarga berbahasa dialek Teochew garapan Lan Hongchun dengan bujet mini sekitar 14 juta yuan. Dibintangi pemain-pemain yang nyaris tak dikenal, film ini berhasil menembus jajaran film terlaris China tahun ini dengan penceritaannya yang jujur dan emosional.
Sinopsis film Dear You
Zheng Xiaowei (Zheng Runqi) adalah pemuda asal Shantou yang terlilit utang besar. Ketika mengunjungi neneknya, ia ingin mencari alamat sang kakek, Den Bagsheng, yang kabur ke Thailand 70 tahun lalu demi menghindari wajib militer saat Perang Saudara China. Konon, kakeknya menjadi miliarder di Thailand melalui surat-surat qiaopi yang dikirimnya.
Zheng berharap sang kakek yang “miliarder” itu bisa melunasi utangnya. Namun ia mendapati bahwa kakeknya telah meninggal dunia pada tahun 1960. Dan surat qiaopi yang ia terima ternyata dikirim oleh seorang wanita Tionghoa-Thailand tak dikenal bernama Zia Lamgi (Li Sitong).
Ia berhasil melacak keberadaan Zia Zeghua, putra dari Lamgi. Zia lalu mengungkapkan kisah sebenarnya dari surat-surat tersebut, ketika Bhagseng muda (Wang Yantong) bekerja sebagai pengemudi becak dan tinggal di wisma milik Zia pada tahun 1950-an.
Budaya Tionghoa yang jarang diangkat
Lan Hongchun menjadi sutradara sekaligus penulis bersama Zheng Xuanxuan, Yang Leng, dan Zhu Liyun. Sutradara yang terkenal dengan proyek berbahasa Tiochiu ini memang punya deretan film drama bertemakan keluarga. Jadi, tak heran jika film ini punya alur dan cerita tentang keluarga yang menggugah.
Meski banyak yang bilang kalau film ini terlalu mellow, namun melodrama yang ditawarkan menghadirkan sisi sentimental tersendiri. Terlebih narasinya mengangkat cerita masa lalu dimana komunikasi jadi hal penting yang sering menjadi masalah karena ruang dan waktu yang memisahkan.

Yang membuatnya menarik adalah kekuatan emosional dan otentisitas budaya sebagai poin utama. Selain performa akting pemerannya, kesan nasionalitas dan kisah haru perantauan menghadirkan nuansa lain yang mungkin juga terasa bagi penonton di Indonesia.
Deretan cast-nya bisa dibilang jauh dari nama-nama glamor. Menariknya, ada nama Usha Seamkhum yang punya presence yang kuat di dalam film ini. Memang, karakternya sebagai oma-oma Thailand selalu membekas paska perannya yang fenomenal di How to Make Millions before Grandma Dies (2024).
Selain chemistry antar karakter yang menyentuh, Li Sitong hadir sebagai wajah baru yang punya penampilan yang kuat. Dear You merupakan debut film perdana dari aktris berusia 22 tahun ini yang ditemukan oleh sang sutradara melalui platform video pendek Douyin.
Selain budaya dan narasi yang ditawarkan, Lan membawa penonton kembali ke Asia tahun 50-an melalui wardrobe, latar, dan produksi yang menawan. Ditambah dengan sinematografi dari Hai Tao dan Zhou Zemin yang berhasil memberikan kesan klasik dan jadul pada keseluruhan film.

Memang ada kritik tentang jalan ceritanya yang seakan berputar-putar. Mungkin ini jadi sebuah kelemahan yang tak terlalu mengganggu dan bisa dengan mudah ditutupi oleh ceritanya yang membumi dan menyentuh.
Cerita yang bisa dirasakan para perantau
Jarang memang sebuah film China mengangkat budaya dan berbahasa Tiochiu. Film ini juga terinspirasi dari pengalaman perantauan Tionghoa yang ditemui Lan ketika membuat dokumenter Teochew yang mengeksplorasi hidangan Tiochiu ke seluruh dunia.
Film punya keotentikan budaya yang pas. Lan menggunakan dialek Tiochiu, mengangkat kisah diaspora Chaoshan yang jarang diangkat ke layar lebar, sekaligus membawa tradisi surat qiaopi yang menjadi benang merah cerita.

Surat qiaopi sendiri merupakan bagian dari tradisi perantau Tionghoa di Asia Tenggara pada pertengahan abad ke-20. Ini merupakan surat sekaligus kiriman uang untuk keluarga di kampung halaman. Bahkan butuh empat orang untuk sampai ke penerima, mulai dari penulis, juru tulis, pembaca, dan pendengar di ujung lain.
Konteks historis qiaopi terasa istimewa dan jadi tema yang unik sendiri bagi penonton. Apalagi tradisi ini juga terasa bagi diaspora Tionghoa di Nusantara. Nuansa emosional yang rindu kampung halaman, surat yang datangnya terlambat, dan keluarga yang menunggu tanpa kepastian membuat film ini terasa personal bagi sebagian penonton Tanah Air.
Dear You memang tak semuanya sempurna. Tapi ceritanya yang menyentuh dari kejujuran emosional dan budaya yang ditampilkan menambah keindahan narasi yang dibawakan. Tak heran jika film ini bisa menggaet penonton melalui drama yang mendayu-dayu, tidak hanya di China atau Indonesia, tapi juga bagi para diaspora di seluruh dunia.




