REVIEW

Review 5 Centimeters Per Second (2007): Mengulang Kembali Pilu yang Dulu

4 / 5

Animasi

Reviewed by

poster film 5 Centimeters per Second

5 Centimeters Per Second adalah film yang telah berhasil membuat patah hati sejuta umat, dan saya rasa kita semua bisa sepakat pada pernyataan tersebut. Setelah sekian lama sejak rilisnya pada tahun 2007, saya kembali menyaksikan dinamika hubungan Takaki Tono dan Akari Shinohara dengan tujuan menggali hal-hal lain yang sempat tertutup emosi sedih dan kesal pada saat pertama kali menonton film yang terbagi menjadi 3 episode ini.

Ada cukup banyak hal yang baru saya sadari dan itu semua membuat saya lebih menyukai film ini dari sebelumnya. Berikut adalah catatan lebih mendalam dari Mariviu atas film 5 Centimeters Per Second. Tulisan ini mengandung spoiler yang tidak bisa dihindarkan demi menyampaikan poin-poin analisa saya.

Kehidupan di Antara Takdir dan Pilihan-pilihan

Semua yang terjadi pada ketiga episode film ini berkaitan dengan dinamika antara takdir yang tidak bisa diubah dan pilihan-pilihan yang dilakukan dengan sadar. Jika kebanyakan penonton merasa kesal pada kereta yang lewat di bagian akhir film ini (termasuk saya pada saat pertama kali menonton) yang dapat dilihat sebagai takdir, sebenarnya di balik itu banyak momen-momen lainnya yang memberikan pilihan-pilihan pada ketiga tokoh utama di film ini.

Anime 5 Centimeters per Seconds Makoto Shinkai
via coMIX Wave Inc

Menonton kembali film 5 Centimeters Per Second membuat saya menyadari bahwa film ini adalah tentang takdir perpisahan yang tidak terhindarkan, takdir kereta yang terlambat, pilihan menempuh perjalanan jauh demi kekasih hati, pilihan menunggu dambaan hati, pilihan untuk berhenti bertukar surat, pilihan tidak mengirim pesan yg sudah diketik, takdir cinta yang tak berbalas, pilihan untuk tidak menyampaikan perasaan, takdir dipisahkan oleh kereta, dan pilihan mengikuti ketakutan hati.

Terkait pilihan mengikuti ketakutan hati, saya akan jabarkan lebih lanjut lagi interpretasi saya di bagian terakhir tulisan ini.

Memulai Episode-episode Yearning

Pada fase pribadi saat ini, saya justru lebih menyukai Episode 2 dari ketiga episode di film ini. Episode 2: Cosmonaut adalah masa-masa Takaki berada pada fase total yearning ke Akari, meskipun sudah ada sosok perempuan lain di sisi nya: seorang teman dekat bernama Kanae Sumida.

Takaki Tono

Fase yearning ini diperlihatkan melalui Takaki yang mengaku pada penonton bahwa ia sering batal mengirim surel – tentunya untuk Akari – yang sudah diketik di handphone, sering melamun dan menerawang dengan tatapan nanar ke horizon dengan mata sayu yang terlihat tidak bersemangat, sering mendapatkan mimpi bersifat kosmik – yang buat saya hal ini menyimbolkan sesuatu atau seseorang yang jauh di entah-berantah dan tak tergapai.

Takaki Tono dan Akari Shinohara
via coMIX Wave Inc

Makoto Shinkai juga memperlihatkan sosok Takaki yang tiba-tiba memiliki hobi olahraga memanah dan ini tidak diperlihatkan pada Episode 1: Cherry Blossom saat Takaki masih SMP. Ini adalah cara Makoto untuk memperlihatkan sosok Takaki yang sedang dalam fase yearning, karena memanah adalah olahraga yang membutuhkan fokus pada suatu target yang jauh dari pandangan mata, dan target yang jauh dari pandangan Takaki saat itu adalah Akari.

Kanae Sumida

Pada episode ini juga kita menyaksikan scene peluncuran roket di sore hari, yang terkesan random dan secara plot sepertinya tidak berpengaruh apapun pada cerita. Namun, kita dapat melihat peluncuran roket itu sebagai metafora pengganti meluncurnya perasaan cinta Kanae yang batal terjadi di hari itu. Pernyataan cinta pada seseorang yang jauh dan sepertinya tidak akan pernah tergapai, seperti roket yang mencoba menggapai luar angkasa jauh.

Tidak hanya pada Takaki, akhir episode 2 ini sepertinya akan menjadi permulaan dari fase total yearning bagi Kanae. Keputusan Kanae untuk batal menyampaikan perasaannya pada Takaki didasari atas kesadaran diri akan betapa kecil kehadiran dirinya dalam kepala dan hati Takaki. Selain itu, keputusan tersebut agaknya juga didasari atas ketakutan akan jawaban yang sudah pasti akan diberikan oleh Takaki. Meskipun kita hanya diperlihatkan situasi Kanae menangis di kamar, sepertinya Takaki akan selalu menjadi the biggest what if dalam episode-episode selanjutnya di hidup Kanae.

I Chose to Keep You As A Concept

Pada Episode 3: 5 Centimeters per Second, penonton tidak disuguhkan cerita yang panjang. Makoto Shinkai memperlihatkan kondisi saat ini dari Takaki dan Akari melalui cuplikan-cuplikan implisit. Ini adalah episode yang paling menyebalkan bagi banyak orang. Episode di mana Takaki dan Akari, setelah sekian lama tidak saling berhubungan, hampir saja bertemu dan berinteraksi kembali di perlintasan kereta yang sama di mana mereka pernah berjanji untuk melihat bunga sakura gugur lagi di masa depan. Namun pertemuan itu tidak terjadi karena terlanjur dipisahkah oleh kereta yang melintas.

Hati yang Takut

Menurut saya, Takaki dan Akari tidak menoleh lebih cepat bukan karena telat menyadarinya pada saat sudah saling berseberangan, melainkan karena mereka – atau setidaknya Takaki – takut untuk mengetahui fakta-fakta yang menyakitkan tentang diri masing-masing: fakta bahwa mereka tidak lagi sedekat dulu, fakta bahwa salah satu atau mungkin keduanya sudah bukan orang yang sama, fakta bahwa pertemuan kembali bertahun-tahun kemudian itu justru akan menjadi sorrowful reunion, dan fakta bahwa cinta mereka di masa lalu sudah tidak mungkin lagi terulang.

Kereta pada episode 3 ini menjadi metafora bahwa takdir pemisah itu bisa datang dengan cepat tanpa dikira. Mereka berdua, atau setidaknya Takaki, paham dan tahu bahwa lebih baik tetap menyimpan satu sama lain dalam ingat tanpa harus merusak ingatan indah tersebut dengan fakta-fakta masa sekarang.

Oleh karena itu, saat kereta selesai melintas dan sosok Akari tidak lagi ada di seberang, alih-alih sedih, penonton malah dapat melihat Takaki tersenyum puas. Karena akhirnya Takaki tetap bisa menyimpan Akari sebagai konsep masa lalu romantis remaja yang manis dan lovey-dovey, meskipun perasaan rindu yang tidak bisa tersampaikan itu masih ada dan masih berpengaruh pada kehidupannya.


Menyambut versi live action yang akan tayang di Indonesia pada tahun 2026 ini, 5 Centimeters Per Second dalam format anime akan tayang ulang di bioskop di Indonesia per tanggal 16 Januari 2025. Beberapa screening akan ada bonus konten spesial berupa wawancara dengan Makoto Shinkai perihal cerita di balik layar pembuatan animasi ini.

Sedangkan untuk live action-nya yang sudah lebih dulu tayang pada Oktober 2025 di Jepang, masih belum ada informasi resmi untuk tanggal penayangannya di Indonesia. Sambil menunggu tanggal rilis format live action, saya mengajak kamu untuk sekali lagi merayakan perasaan sakit hati atas cinta-cinta yang kandas dan cinta-cinta yang tak sampai melalui versi animasi dari film ini di bioskop.

poster 5 Centimeters per Second

GENRE

Animasi

AKTOR

Kenzi Mizuhasi, Yashimo Kondo, Satomi Hanamura

SUTRADARA

Makoto Shinkai

TANGGAL RILIS

16/01/2026

5 Centimeters Per Second

RATING

Facebook
X Platform
LinkedIn
WhatsApp
Threads

About Reviewer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *