Film Lupa Daratan menandai kembalinya Ernest Prakasa sebagai sutradara. Menggandeng Vino G. Bastian sebagai aktor serba bisa yang tiba-tiba tak bisa berakting lagi, film ini dipenuhi dengan komedi dan sindiran meta yang menyenangkan untuk diikuti.
Sinopsis film Lupa Daratan
Vino Agustian (Vino G Bastian) adalah aktor papan atas Indonesia. Setiap film yang ia bintangi selalu sukses. Ia bahkan mendapatkan penghargaan Aktor Terbaik di Anugerah Film Indonesia mengalahkan deretan aktor lainnya.

Tingkahnya yang arogan membuatnya tak memperdulikan sekitarnya. Hingga pada suatu ketika ia tak lagi bisa berakting. Padahal ia sudah menandatangani kontrak untuk memerankan film biopik mantan presiden Indonesia, Dibyo (Arswendy).
Panik, Vino mencari cara untuk mengatasi masalah tersebut dibantu oleh asistennya, Dini (Dea Panendra). Takut akan kehilangan film yang dibintanginya, ia akhirnya meminta pertolongan ke abangnya, Ikhsan (Agus Kuncoro).
Penuh sama sindiran meta
Dikenal dengan nama Lost in the Spotlight dalam versi Inggrisnya, film ini merupakan produksi orisinal Netflix untuk pasar Indonesia. Dan tentu saja, ada banyak nama besar yang turut serta dalam film ini, baik sebagai karakter utama hingga cameo.
Tak jauh berbeda dari film garapan Ernest lainnya, semisal Cek Toko Sebelah atau Teka-Teki Tika (2021), deretan komika terlihat menghiasi film dari awal hingga akhir. Tak terkecuali influencer dan pesohor lainnya bisa ditemukan di berbagai adegan. Mungkin ini jadi pemanis atau pemanggil penonton.

Komedinya terbilang renyah, kadang tak terlalu ngena. Namun plot dan sindiran meta yang tersaji bikin film ini punya daya tarik tersendiri. Penggemar stand up komedi dan dunia hiburan Indonesia bakal menyadari berbagai referensi yang diberikan. Seperti Ari Kriting yang diisukan punya ilmu hitam atau Morgan Oey menyindir cenat-cenut dan “kena Smash”.
Tapi naskahnya yang pintar jadi juaranya. Ada banyak kritik sosial yang dimasukkan ke dalam plot, bahkan baju Vino (yang berbunyi Oli Gar-Q “Pelumas terbaik untuk keluarga”) menegaskan kegeraman Ernest pada kondisi sosial saat di Indonesia, membuat ini sebagai bentuk perlawanan kecil-kecilan.
Keseluruhan sindirannya tentu berpusat pada cerita kelam dunia hiburan Tanah Air. Seperti jadwal syuting hingga tengah malam, siaran televisi penuh gimmick, permainan “koneksi”, dan tak terkecuali media sosial penuh haters hingga berita-berita hoax dan headline bombastis yang bisa ditemukan setiap hari.
Menyenangkan untuk ditonton bersama
Ernest Prakasa tampil sebagai penulis naskah dan sutradara, menghadirkan gaya penyampaian yang komedik, tapi tetap menyentil dan dipenuhi dengan drama di dalamnya. Film ini pun tak lepas dari adegan komedi situasi yang dipapah rapi, lengkap dengan cerita penuh drama di antaranya.
Mungkin salah satu kekurangan Ernest yang masih terasa adalah durasi yang terlampau panjang. Ada beberapa adegan yang dimasukkan sebagai filler, tak terlalu berpengaruh pada keseluruhan cerita, tapi berfungsi sebagai ‘sebab’ untuk ‘akibat’ yang akan datang setelahnya.
Tapi secara keseluruhan, baik dari segi plot maupun dinamika cerita, film ini menyenangkan untuk ditonton sendirian atau bersama teman-teman. Pas dengan eksekusinya yang memosisikan film ini sebagai tontonan ringan di kala senggang, bisa di-pause hingga nanti dilanjutkan kembali. Jelas bukan untuk sajian di layar lebar bioskop.
Film Lupa Daratan terasa menyenangkan untuk ditonton tanpa harus memedulikan situasi kompleks yang dihadapi karakternya. Tapi di balik itu, ia hadir sebagai sebuah tontonan ringan penuh sindiran yang mengupas betapa suramnya industri hiburan di Indonesia.




